Qatar Bersiap Hengkang dari OPEC

Doha: Qatar memutuskan hengkang dari lingkaran Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Hal itu diumumkan langsung Menteri Energi Qatar Saad Sherida al-Kaabi, Senin, 3 Desember 2018.

Keputusan keluar dari blok yang mencakup 15 negara penghasil minyak bumi terbesar turut dikonfirmasi Qatar Petroleum, perusahaan minyak negara tersebut.

Dalam konferensi pers di Doha, Al-Kaabi menjelaskan latar belakang Qatar menarik diri dari OPEC dilandasi keinginan untuk fokus terhadap upaya pengembangan dan peningkatan produksi gas alam. “Kami ingin menaikkan produksi dari 77 juta ton menjadi 110 juta ton setiap tahunnya,” jelas Al-Kaabi.

Keluarnya Qatar menorehkan sejarah baru, yakni sebagai negara Teluk pertama yang meninggalkan blok penghasil minyak terbesar dunia. Sebagai informasi, Qatar bergabung dengan OPEC pada 1961, satu tahun setelah pendirian organisasi tersebut.

Charlotte Bellis, koresponden Al-Jazeera, mengatakan keputusan Qatar muncul beberapa hari menjelang pertemuan OPEC pada 6 Desember 2018.

“Mereka mengatakan hal ini tidak ada hubungannya dengan blokade di Qatar. Mereka sudah memikirkannya dalam beberapa bulan terakhir,” ucap Bellis, merujuk pada blokade diplomatik di Qatar yang digulirkan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, dan Bahrain.

Lebih lanjut, Bellis mengungkapkan pandangan Qatar yang memutuskan segera hengkang dari OPEC sebelum akhir tahun.

“Mereka mengatakan ingin melakukan ini sekarang juga agar semua menjadi transparan menjelang pertemuan OPEC,” imbuhnya.

Tercatat, sejak 2013, volume produksi minyak Qatar terus mengalami penurunan. Dari 728 ribu barel per hari (bph) per 2013, menjadi sekitar 607 ribu bph per 2017. Sementara itu, total produksi termasuk gas bumi, meningkat pada periode yang sama, yakni dari 30,7 juta bph menjadi 32,4 juta bph.

Awal pekan ini, OPEC dan Rusia, yang menghasilkan sekitar 40 persen dari total produksi minyak dunia, sepakat untuk memangkas produksi minyak baru. Tujuannya untuk mengantisipasi penurunan harga minyak dunia dalam beberapa bulan mendatang.

Pada Oktober ini, harga minyak dunia sempat mencapai level ter tinggi dalam empat tahun terakhir, yakni USD86 per barel. Namun, sejak itu harga minyak dunia anjlok ke level USD60 per barel.

Bagaimanapun, Qatar merupakan pemasok gas alam cair (LNG) terbesar yang menghasilkan hampir 30 persen dari total produksi global. Al-Kaabi menekankan deklarasi keluarnya Qatar dari OPEC murni sebagai keputusan bisnis.

“Al-Kaabi berpendapat Qatar ialah pemain kecil di OPEC sehingga tidak masuk akal bagi mereka untuk fokus pada hal yang bukan menjadi kekuatan mereka. Gas dalam hal ini ialah kekuatan mereka sehingga keputusan itu keluar,” papar Bellis menirukan perspektif Al-Kaabi. (Media Indonesia)

(AHL)