Putin: Harga Minyak Tinggi Akibat Kebijakan Trump

Moskow: Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan harga minyak mentah di kisaran USD65 hingga USD75 per barel akan sesuai dengan Rusia. Hal itu sejalan dengan gerak harga minyak mentah yang melambung pada pekan ini untuk mencapai level tertinggi sejak November 2014.

“Presiden Trump mengatakan bahwa harga minyaknya tinggi. Dia sebagian benar. Tapi harga minyak seperti itu sebagian besar hasil dari kebijakan Pemerintah Amerika yang tidak bertanggung jawab saat ini, yang secara langsung memengaruhi ekonomi dunia,” tegas Putin, seperti dikutip dari AFP, Kamis, 4 Oktober 2018.

Harga minyak telah menyentuh level tertinggi dalam empat tahun terakhir, di mana Brent Crude hampir mencapai USD85 per barel di tengah kekhawatiran pasokan global yang meluas karena pemberian sanksi Amerika Serikat terhadap Iran. Adapun perusahaan-perusahaan energi telah menikmati kenaikan harga minyak ini.

Hal itu bisa dinikmati setelah produsen utama dunia setuju untuk mempertahankan produksi minyak mereka meski ada tekanan dari Presiden AS Donald Trump. Trump menuduh OPEC yang merupakan kartel produksi minyak telah menggelembungkan harga minyak mentah dan melukai konsumen.

“Harga USD65 hingga USD75 per barel akan cocok untuk kita. Ini akan benar-benar normal untuk memastikan fungsi efisien perusahaan energi dan proses investasi,” kata Putin, dalam forum energi di Moskow.

OPEC dan mitra non-OPEC termasuk Rusia, pada akhir Juni menyepakati peningkatan produksi minyak setelah kesepakatan sebelumnya pada akhir 2016 memiliki persediaan terbatas untuk mendukung harga. Langkah itu diambil dalam rangka menjaga stabilitas harga minyak dunia.

Meski harga minyak dunia mengalami lompatan pada minggu ini, namun posisinya tetap jauh di bawah rekor tertinggi di atas USD147 per barel yang dicapai pada 2008, sebelum krisis ekonomi global memicu jatuhnya permintaan. Sejauh ini, perekonomian Rusia tetap sangat bergantung pada ekspor sumber energinya.

Keruntuhan harga minyak pada 2014 silam, bersamaan dengan sanksi Barat atas konflik Ukraina, membuat ekonomi Rusia mengalami resesi berkepanjangan sehingga membatasi daya beli konsumen.

(ABD)