Produksi Minyak OPEC Terbatas di September

London: OPEC mencatat peningkatan produksi minyak terbatas pada September, survei menunjukkan. Kondisi itu karena adanya pengurangan pasokan Iran akibat sanksi-sanksi Amerika Serikat (AS), meski diimbangi oleh produksi yang lebih tinggi di Libya, Arab Saudi, dan Angola.

Mengutip Antara, Selasa, 2 Oktober 2018, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang beranggotakan 15 negara itu memproduksi 32,85 juta barel per hari pada September atau naik 90.000 barel per hari dari tingkat direvisi Agustus dan tertinggi tahun ini.

Tetapi 12 anggota OPEC yang terikat dengan perjanjian pembatasan pasokan benar-benar memangkas produksi sebesar 70.000 barel per hari karena penurunan di Iran dan Venezuela, meningkatkan kepatuhan terhadap target pasokan hingga 128 persen dari revisi 122 persen pada  Agustus, survei tersebut menemukan.

Harga minyak telah memperpanjang reli tahun ini karena ekspektasi sanksi-saksi terhadap Iran akan menguji kemampuan OPEC untuk mengganti kekurangannya, meskipun kelompok itu setuju pada Juni untuk memproduksi lebih banyak menyusul tekanan dari Presiden AS Donald Trump. Minyak Brent mencapai USD83,32 per barel, tertinggi sejak 2014.

“Situasi pasokan memang terlihat rapuh, karena setiap pengurangan tambahan seperti kemerosotan situasi di Venezuela akan memperketat pasokan minyak,” kata Norbert Rücker di Julius Baer.

Perjanjian OPEC pada Juni melibatkan OPEC, Rusia, dan non-anggota lainnya kembali ke kepatuhan 100 persen dengan pengurangan produksi minyak dimulai pada Januari 2017, setelah berbulan-bulan kekurangan produksi di Venezuela dan di tempat lain mendorong kepatuhan di atas 160 persen.

Sementara Arab Saudi kini hampir sepenuhnya membalikkan pasokan yang dijanjikan sebesar 486.000 barel per hari, ini belum sepenuhnya mengimbangi pengurangan di Iran serta penurunan produksi di Venezuela dan Angola.

Peningkatan terbesar bulan lalu berasal dari Libya, di mana produksinya mencapai rata-rata di atas satu juta barel per hari. Produksi Libya tetap berfluktiasi karena kerusuhan, memunculkan pertanyaan tentang stabilitas produksi OPEC saat ini.

(ABD)