Harga Minyak Dunia Turun Usai Persediaan AS Meningkat

New York: Harga minyak dunia turun pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB), setelah data AS menunjukkan peningkatan mengejutkan dalam persediaan minyak mentah domestik. Tetapi penurunan yang akan datang dalam ekspor Iran mempertahankan Brent di atas USD80 per barel dan di jalur untuk kenaikan kuartalan kelima berturut-turut.

Mengutip Antara, Kamis, 27 September 2018, patokan global, minyak mentah Brent untuk pengiriman November kehilangan USD0,53 menjadi menetap di USD81,35 per barel di London ICE Futures Exchange. Sehari sebelumnya, Brent naik ke setinggi USD82,55 atau tertinggi sejak November 2014.

Sementara itu, minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November turun sebanyak USD0,71 menjadi berakhir di USD71,57 per barel di New York Mercantile Exchange. Persediaan minyak mentah AS naik 1,9 juta barel dalam seminggu yang berakhir 21 September, menurut data Badan Informasi Energi AS (EIA).

Para analis telah memperkirakan penurunan 1,3 juta barel. Operasional pengilangan minyak mentah turun 901.000 barel per hari, data EIA menunjukkan. Para investor terus mengawasi sanksi-sanksi AS yang akan datang, yang mempengaruhi sektor perminyakan Iran, yang akan mulai berlaku pada November.

“Kami enggan banyak membaca aksi harga hari ini atau penambahanĀ  minyak mentah tak terduga menurut EIA. Komplek ini telah berjalan naikĀ  kuat dan berhak mendapatkan koreksi,” kata Presiden Ritterbusch and Associates Jim Ritterbusch, dalam sebuah catatan.

Pasar minyak bersiap untuk mendapatkan pasokan global dari sanksi-sanksi. Brent tetap di jalur untuk kenaikan kuartalan kelima berturut-turut, bentangan terlama sejak awal 2007 ketika enam kuartal berjalan mengarah ke rekor harga tertinggi USD147,50 per barel.

Beberapa pembeli besar, seperti sejumlah penyuling India, telah memberi isyarat bahwa mereka akan menghentikan pembelian minyak mentah Iran tetapi dampaknya terhadap pasar global belum jelas.

Pejabat-pejabat AS, termasuk Presiden Donald Trump, sedang mencoba untuk meyakinkan para konsumen dan investor bahwa pasokan yang cukup akan tetap di pasar minyak dan telah mendorong Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk meningkatkan produksi.

(ABD)