JPMorgan Berharap Konflik Dagang Tidak jadi Perang Dingin

Tianjin: Beberapa bulan terakhir, pengenaan tarif tinggi satu sama lain antara Amerika Serikat dan Tiongkok mungkin hanya menjadi permulaan dari konflik ekonomi yang berkepanjangan. Bahkan, pasar saham di kedua negara telah naik minggu ini meski ada pengumuman tarif baru.

Analis menilai efek dari pengenaan tarif tidak separah yang diperkirakan pedagang, dan masih ada harapan rekonsiliasi. Tetapi kenyataan yang ada dapat membuktikan sebaliknya di mana dua ekonomi terbesar di dunia ini masing-masing berasal dari budaya yang sangat berbeda.

“Sekarang kita perlu memikirkan apakah perang perdagangan saat ini akan berubah menjadi perang dingin ekonomi atau tidak. Kami berharap tidak. Masih ada kemungkinan kedua pihak dapat datang ke meja perundingan,” tegas Direktur Pelaksana dan Wakil Ketua Asia Pasifik JP Morgan Chase Jing Ulrich, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 22 September 2018.

“Dan masih ada peluang bahwa semacam rekonsiliasi dapat dicapai dan kita semua tahu jika perang perdagangan berlangsung, itu akan menjadi situasi kalah-kalah. Tidak seorang pun di dunia akan mendapat manfaat. Sedangkan Tiongkok tidak akan mengubah kebijakan domestiknya (hanya) karena tekanan eksternal,” tambahnya.

Masalahnya, lanjut Ulrich, di bidang teknologi antara Tiongkok dan Amerika Serikat ingin memimpin. Sayangnya, Tiongkok sudah menjadi pelopor di banyak bidang. Artinya, sulit bagi Amerika Serikat untuk mengalahkan Tiongkok yang sudah maju diberbagai bidang dalam hal teknologi.

“Tiongkok tentu saja sudah menjadi pelopor di banyak bidang,” kata Ulrich.

Sekarang ini, Beijing terus berupaya melakukan transisi dan menuju mengandalkan konsumsi untuk pertumbuhan dibandingkan dengan manufaktur. Bahkan, Pemerintah Tiongkok telah meluncurkan program “Made in Tiongkok 2025” untuk mendorong inovasi teknologi domestik.

“Saya melihat Tiongkok lima tahun lebih awal dari AS ketika sampai pada tingkat di mana digitalisasi terintegrasi ke dalam ekonomi ini,” ungkap Profesor di Sekolah Bisnis Stern New York Arun Sundararajan.

(ABD)