USD Mulai Unjuk Gigi

New York: Kurs dolar Amerika Serikat (USD) menguat terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB). Hal itu karena investor mempertimbangkan risalah dari pertemuan Federal Reserve AS pada Semptember yang baru dirilis.

Mengutip Antara, Kamis, 18 Oktober 2018, indeks USD, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, meningkat 0,55 persen menjadi 95,5746 pada akhir perdagangan. Pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi USD1,1506 dari USD1,1577 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun menjadi USD1,3121 dari USD1,3191 di sesi sebelumnya.

Sedangkan dolar Australia turun menjadi USD0,7116 dibandingkan dengan USD0,7138. Kemudian USD dibeli 112,48 yen Jepang, lebih tinggi dibandingkan dengan 112,18 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Lalu USD naik ke 0,9949 franc Swiss dibandingkan dengan 0,9899 franc Swiss, dan meningkat menjadi 1,3012 dolar Kanada dari 1,2938 dolar Kanada.

Risalah yang dirilis pada sore hari menunjukkan bahwa bank sentral AS tetap yakin perlu memperketat kebijakan moneter untuk menjaga ekonomi tetap stabil. Para peserta umumnya mengantisipasi bahwa peningkatan bertahap lebih lanjut dalam kisaran target untuk suku bunga federal fund kemungkinan besar akan konsisten dengan ekspansi ekonomi.

“Termasuk kondisi pasar tenaga kerja yang kuat dan inflasi mendekati dua persen dalam jangka menengah,” kata risalah.

“The Fed berkeinginan untuk melanjutkan menaikkan suku bunga, tetapi suku bunga fed fund sekarang memasuki wilayah yang tidak pasti di mana tidak dapat lagi dicirikan sebagai selalu akomodatif. Implikasinya adalah keputusan tingkat suku bunga mendatang akan didasarkan pada data yang masuk,” kata Kepala Ekonom FTN Financial Chris Low.

Di bidang ekonomi, rumah yang baru dibangun yang dimiliki secara pribadi AS pada September berada pada tingkat tahunan yang disesuaikan secara musiman 1.201.000 unit, Departemen Perdagangan mengumumkan. Angka tersebut 5,3 persen di bawah perkiraan Agustus yang direvisi sebesar 1.268.000 unit, tetapi 3,7 persen di atas tingkat September 2017.

(ABD)

Trump Sebut Federal Reserve sebagai Ancaman Terbesar

Presiden AS Donald Trump bersalaman dengan Ketua Fed Jerome Powell (AFP/SAUL LOEB)

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali mengkritik Federal Reserve. Kali ini, The Fed dianggap sebagai ancaman terbesarnya. Trump menindaklanjuti keluhan sebelumnya kepada the Fed bahwa suku bunga acuan meningkat terlalu cepat.

“Ancaman terbesar saya adalah the Fed, karena the Fed menaikkan suku bunga terlalu cepat,” kata Trump, seperti lansir AFP, Rabu, 17 Oktober 2018.

Trump mengakui bahwa bank sentral memiliki posisi independen. Pandangan itu yang membuat Trump tidak langsung melontarkan keluhannya kepada the Fed. “Jadi saya tidak berbicara dengan mereka, tetapi kemudian mengkritik langsung Ketua Fed Jerome Powell, yang harus lebih lambat menghadapi kenaikan suku bunga,” kata Trump.

“Ini terlalu cepat, karena Anda melihat angka inflasi terakhir dan mereka sangat rendah,” tambah Trump.

The Fed telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali di tahun ini karena berusaha untuk mencegah ekonomi yang dinamis dari overheating. Presiden AS biasanya tetap diam pada isu-isu seperti itu sehubungan dengan kemerdekaan the Fed. Sedangkan Trump justru sebelumnya telah menyebut kebijakan the Fed terbilang ‘gila’.

Presiden The Federal Reserve New York John Williams sebelumnya menyatakan normalisasi kebijakan moneter Amerika Serikat sudah berada di tahap akhir dan akan memasuki fase normal. Namun demikian, panduan untuk menyusun kebijakan suku bunga AS tidak berubah.

“Dua mandat bank sentral itu adalah mencapai angka tenaga kerja yang maksimum dan stabilitas harga yang ditandai dari laju inflasi terkendali,” kata John Williams.

Panduan atau formula kebijakan suku bunga AS itu adalah dua tujuan mandat bank sentral AS dan juga data ekonomi terbaru. Dia mengatakan the Fed dalam pernyataan terakhirnya memang telah merampingkan pernyataannya dan hanya memaparkan sedikit panduan ke depan tentang jalur kebijakan masa depan.

(ABD)

AS-Jepang-Inggris-Uni Eropa Bahas Perdagangan Baru

Washington: Para pejabat Amerika Serikat (AS) mengumumkan negosiasi perjanjian perdagangan terpisah dengan Inggris, Uni Eropa, dan Jepang. Langkah itu dilakukan sebagai bagian dari upaya Pemerintahan Presiden Donald Trump untuk menyeimbangkan perdagangan global.

Perwakilan Perdagangan AS Robert Lighthizer mengatakan Pemerintah AS memberi tahu Kongres tentang niatan untuk merundingkan tiga perjanjian perdagangan secara terpisah. Pemerintah AS berharap bisa mendapat kata sepakat melalui negosiasi dengan Uni Eropa, Inggris, dan Jepang.

“Kami berkomitmen untuk mengakhiri negosiasi ini dengan hasil yang tepat waktu dan substantif untuk pekerja Amerika, petani, peternak, dan pebisnis,” kata Lighthizer, dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari AFP, Rabu, 17 Oktober 2018.

Langkah ini mengikuti renegosiasi Pemerintahan Trump dari Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara dengan Kanada dan Meksiko. Termasuk dorongan untuk memperbaiki apa yang Trump pertahankan, adalah gambaran perdagangan yang tidak seimbang.

Dalam pemberitahuan kepada Kongres tentang Jepang dan Uni Eropa, Lighthizer mengutip ketidakseimbangan perdagangan AS yang kronis dan mengatakan bahwa para eksportir AS telah lama terkendala hambatan tarif dan non-tarif di Jepang dan Eropa.

“Tujuannya adalah mencapai perdagangan lebih adil, dan lebih seimbang dengan mitra dagang AS,” tuturnya.

Lighthizer mengatakan AS akan mencari perjanjian perdagangan dengan Inggris segera setelah keluar dari Uni Eropa pada 2019. Surat kepada Kongres mengatakan Washington akan berusaha untuk mengatasi hambatan tarif dan non-tarif dan mencapai perdagangan bebas, adil dan timbal balik dengan Inggris.

Adapun Trump telah keras dengan mitra dagang AS, menggunakan tarif sebagai ancaman untuk meningkatkan ekspor AS dan mengekang defisit jangka panjang dalam perdagangan barang, meskipun ada peringatan dari banyak anggota parlemen AS dan Dana Moneter Internasional.

(ABD)

Harga Minyak Mentah Terjebak Situasi Geopolitik

Ilustrasi. (FOTO: AFP)

Jakarta: Situasi geopolitik yang semakin tegang di Timur Tengah, ditambah sanksi yang segera diberlakukan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran, menjadi dua faktor yang mungkin mengangkat harga minyak menjelang akhir tahun ini.

“Sejumlah faktor geopolitik sangat mungkin menciptakan ketidakpastian mengenai prospek pasokan minyak global sehingga memicu kekhawatiran mengenai kemungkinan terjadinya kesulitan pasokan,” tutur Research Analyst FXTM Lukman Otunuga dalam hasil risetnya, Selasa, 16 Oktober 2018.

Apabila situasi hilangnya wartawan Saudi semakin memburuk dan Presiden AS Donald Trump akhirnya memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Arab Saudi, maka harga minyak dapat melonjak drastis.

“Peningkatan agresif ini berdasarkan potensi bahwa Arab Saudi akan membalas dengan mengurangi pasokan minyak, pada saat AS akan memberlakukan sanksi terhadap ekspor Iran,” tambahnya.

Keadaan pasar dan perkembangan geopolitik saat ini cenderung mendukung kenaikan harga minyak, namun ketegangan dagang global dapat menjadi hambatan. Situasi dagang yang semakin tegang dapat menjadi ancaman besar terhadap pertumbuhan dan stabilitas global.

Selain itu jika perang dagang benar-benar terjadi, ujar dia, pertumbuhan global dapat merosot dan permintaan minyak mentah pun menurun.

Melansir Xinhua, Selasa, 16 Oktober 2018, West Texas Intermediate untuk pengiriman November naik USD0,44 ke USD71,78 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember bertambah 0,35 dolar menjadi USD80,78 per barel di London ICE Futures Exchange.

(AHL)

Emas Dunia Tertopang Pelemahan USD

Ilustrasi. (FOTO: AFP)

Chicago: Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange menguat pada perdagangan Senin waktu setempat di tengah ketegangan seputar hilangnya seorang wartawan Saudi dan dolar AS yang melemah.

Kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember naik USD8,3 atau 0,68 persen menjadi USD1.230,30 per ons. Demikian dilansir dari Xinhua, Selasa, 16 Oktober 2018.

Sementara itu, indeks dolar AS, indeks greenback terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya, turun 0,36 persen menjadi 95,00 pada 1631 GMT. Ketika dolar turun, emas biasanya naik karena membuat emas yang dihargakan dalam dolar lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lainnya.

Adapun untuk harga logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Desember naik 9,2 sen atau 0,63 persen menjadi USD14,727 per ons. Platinum untuk pengiriman Januari 2019 naik USD6,30 atau 0,75 persen menjadi USD846,30 per ons.

Jamal Khashoggi, seorang wartawan dan kolumnis Saudi untuk Washington Post, telah hilang setelah dia memasuki Konsulat Saudi di Istanbul awal bulan ini. Turki yakin jurnalis itu dibunuh ketika berada di dalam konsulat, tetapi Arab Saudi sejauh ini membantah tuduhan tersebut.

Presiden AS Donald Trump telah mengirim Sekretaris Negara Mike Pompeo ke Arab Saudi. Sementara itu, tim Turki memasuki konsulat Saudi di Istanbul pada Senin malam waktu setempat untuk melakukan pencarian atas hilangnya Khashoggi.

Insiden ini telah menyebabkan meningkatnya ketegangan antara Arab Saudi, Turki dan kekuatan barat, memicu mentalitas safe-haven di kalangan investor.

(AHL)

Bank Sentral Tiongkok Suntik Likuiditas ke Pasar

Beijing: Bank sentral Tiongkok atau People’s Bank of China terus memompa uang tunai ke pasar uang pada September untuk memenuhi permintaan likuiditas dari lembaga keuangan. Aksi moneter ini diharapkan memicu stabilitas perekonomian yang nantinya bisa menjaga kualitas pertumbuhan, termasuk mencegah munculnya risiko keuangan.

Mengutip Xinhua, Senin, 15 Oktober 2018, sebanyak 441,5 miliar yuan (USD63,8 miliar) disuntikkan ke pasar melalui fasilitas pinjaman jangka menengah (MLF) bulan lalu untuk menjaga likuiditas dalam sistem perbankan pada tingkat yang wajar dan cukup, menurut People’s Bank of China.

People’s Bank of China menambahkan dana tersebut akan jatuh tempo dalam satu tahun dengan tingkat bunga 3,3 persen. Total pinjaman MLF cukup luar biasa karena mencapai 5,38 triliun yuan pada akhir September.

Alat MLF diperkenalkan pada 2014 untuk membantu bank komersial dan kebijakan menjaga likuiditas dengan memungkinkan mereka meminjam dari bank sentral menggunakan sekuritas sebagai jaminan.

Pada September, PBOC telah menyuntikkan dana sebesar 12,5 miliar yuan melalui pinjaman tambahan yang dijanjikan kepada China Development Bank, Bank Ekspor-Impor China, dan Bank Pembangunan Pertanian China.

Bank sentral telah mengadopsi operasi pasar terbuka lebih sering untuk mengelola likuiditas dengan cara yang lebih fleksibel dan terarah. Pemerintah Tiongkok mempertahankan kebijakan moneter yang berhati-hati dan netral pada 2018 untuk menyeimbangkan pertumbuhan dan pencegahan risiko.

(ABD)

Di Tengah Ketidakpastian, Tiongkok Diyakini Memiliki Ketahanan Ekonomi

Beijing: Di tengah lanskap internasional yang rumit dan perubahan baru dalam ekonomi domestik Tiongkok, para ahli di seluruh dunia percaya bahwa Pemerintah Tiongkok memiliki alat kebijakan untuk memanfaatkan dinamisme yang melekat untuk menjamin pertumbuhan ekonomi kuat dan tangguh.

Mengutip Xinhua, Senin, 15 Oktober 2018, ucapan-ucapan ini datang menyusul usulan terbaru Pemerintah Tiongkok tentang target untuk menstabilkan lapangan kerja, keuangan, perdagangan luar negeri, dan investasi asing, investasi, dan harapan yang secara kolektif dikenal sebagai enam kestabilan.

Sejak awal tahun ini, terlepas dari fluktuasi indikator ekonomi tertentu, ekonomi Tiongkok telah mencatat pertumbuhan stabil, dengan empat indikator makroekonomi utama yakni pertumbuhan ekonomi, pekerjaan, CPI, dan neraca pembayaran internasional pada dasarnya memenuhi harapan.

Sementara itu, dalam laporan World Economic Outlook terbaru yang dirilis pada 8 Oktober, Dana Moneter Internasional (IMF) telah mempertahankan perkiraan pertumbuhan ekonomi Tiongkok tidak berubah pada 6,6 persen. Kepala Ekonom IMF Maurice Obstfeld mengatakan ekonomi Tiongkok memiliki kinerja yang kuat pada semester pertama tahun ini.

“Dan bahwa angka-angka terbaru yang mungkin tidak begitu ideal masih sesuai dengan harapan, mengingat langkah-langkah seperti memperkuat pengawasan keuangan dan mencegah risiko akan menyeret turun pertumbuhan ekonomi pada tingkat tertentu,” tuturnya.

Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF Changyong Rhee menambahkan perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok adalah hasil dari inisiatif pemerintah untuk melakukan deleverage dan mengatur ekonomi, yang sebenarnya merupakan perlambatan kualitas tinggi.

Pemerintah Tiongkok merangkul perubahan dan memiliki pemahaman yang matang dan masuk akal tentang pembangunan ekonomi, seperti yang ditunjukkan oleh penyesuaian kebijakan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir, kata pakar seraya menambahkan bahwa penyesuaian ini akan menguntungkan ekonomi Tiongkok dalam jangka panjang.

(ABD)

Bank Sentral Tiongkok: Dampak Perang Dagang Signifikan

Gubernur Bank Sentral Tiongkok (People’s Bank of Tiongkok/PBoC) Yi Gang. Dok;AFP.

Nusa Dua: Gubernur Bank Sentral Tiongkok (People’s Bank of Tiongkok/PBoC) Yi Gang menyatakan perang dagang yang diserukan oleh Amerika Serikat memberikan dampak yang signifikan bagi ekonomi negaranya.

Yi mengatakan dampak yang dirasakan Tiogkok terutama pada ekspor. Sebab ekspor Tiongkok jumlahnya sangat besar sehingga apabila ada perang dagang yang berimbas kepada penaikan tarif maka perekonomian global akan sangat terpukul.

“Saya pikir downsize risk dari tensi perdagangan ini sangat signifikan,” kata Yi dalam seminar internasional negara-negara group 30 (G30), di Nusa Dua, Bali, Minggu, 14 Oktober 2018.

Yi juga sepakat dengan pernyataan dana moneter internasional (IMF) terkait dampak perang dagang. IMF yang menyatakan bahwa perang dagang berimbas pada penurunan pertumbuhan ekonomi.

“Saya pikir tensi perdagangan telah berdampak negatif terhadap ketidakpastian dan memunculkan prediksi yang negatif,” jelas dia.

Sebelumnya IMF memperkirakan ketegangan perdagangan saat ini bisa menurunkan produk domestik bruto (PDB) global sebanyak satu persen dalam dua tahun mendatang.

IMF pun telah menurunkan proyeksi yang lebih rendah di 2019 untuk ekonomi Tiongkok. Perang dagang pun menjadi pemicunya.

“Proyeksi kami terhadap pertumbuhan ekonomi Tiongkok lebih rendah di 2019, karena tarif impor USD200 miliar yang diberlakukan Amerika Serikat (AS) untuk Tiongkok,” tutur Chief Economist IMF Maurice Obstfeld.

(SAW)

AS Memperluas Peninjauan Investasi Asing

Illustrasi, Dok;AFP.

Washington: Administrasi Trump mengumumkan rencana yang dapat menempatkan pembatasan tambahan pada investasi asing di perusahaan Amerika Serikat (AS). Dalam hal ini, Departemen Keuangan AS menyatakan pihaknya memperluas kekuatan panel federal untuk meninjau investasi asing di luar pengambilalihan.

“Dan mengendalikan untuk memasukkan saham-saham yang tidak terkontrol dalam bisnis AS yang terlibat dalam teknologi yang dapat dianggap penting untuk keamanan nasional,” kata Departemen Keuangan AS, seperti dikutip dari CNBC, Minggu, 14 Oktober 2018.

Tinjauan yang diperluas termasuk transaksi di mana investor asing akan mendapatkan informasi teknis non-publik, tempat di dewan direksi, atau keterlibatan dalam pengambilan keputusan. Ini berlaku untuk bisnis di beberapa industri, termasuk telekomunikasi, semikonduktor, dan komputer.

“Langkah ini merupakan upaya lain untuk menghukum Beijing atas praktik perdagangannya,” lapor The New York Times.

Panel federal ini, yang disebut Komite Investasi Asing di Amerika Serikat, atau Cfius, telah secara aktif meninjau pengambilalihan asing perusahaan AS untuk memastikan kekhawatiran keamanan nasional. Awal tahun ini, Cfius memblokir upaya pengambilalihan oleh Broadcom yang berbasis di Singapura dari pembuat cip Qualcomm yang berbasis di AS.

Administrasi Trump mencoba untuk mencegah Tiongkok mendapatkan teknologi baru seperti 5G, generasi nirkabel berikutnya. Trump telah kritis terhadap praktik perdagangan Tiongkok yang disebut membatasi akses ke pasar tertentu dan memaksa perusahaan-perusahaan Amerika melakukan bisnis di sana untuk menyerahkan teknologi yang berharga dan rahasia dagang.

(SAW)

Jack Ma Turun Tangan Tingkatkan Kualitas SDM Indonesia

Jack Ma dalam Pertemuan Tahunan IMF-WB 2018 (Foto: Medcom.id/Ade Hapsari Lestarini)

Nusa Dua: Pendiri Alibaba Jack Ma berencana membantu memecahkan permasalahan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di Indonesia dan mendukung peningkatan kualitas SDM tersebut. Hal itu diharapkan memicu lahirnya SDM yang mampu membantu pemerintah menyelesaikan sejumlah persoalan, termasuk mendukung pertumbuhan ekonomi

Jack Ma mengatakan hal tersebut usai berdiskusi langsung dengan beberapa menteri kabinet kerja Jokowi-JK seperti Menteri Kordinator Perekonomian Darmin Nasution, Menteri Komunikasi dan Infrormatika Rudiantara, dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, di sela-sela Pertemuan Tahunan Internatioan Monetary Fund-World Bank (IMF-WB) 2018.

Menurutnya untuk meningkatkan mutu SDM Indonesia yang dibutuhkan adalah peningkatan mutu pendidikan dan memperkaya keahlian melalui sejumlah pelatihan. Indonesia perlu meningkatkan dua unsur tersebut untuk memperbaiki kualitas SDM.

“Saya pikir yang kedua dari diskusi ini adalah tentang modal dari sumber daya manusia. Saya pikir, masa depan Indonesia tergantung pada pendidikan dan pada pelatihan,” kata Jack Ma, di Hotel Lagoona, Nusa Dua, Bali, Sabtu, 13 Oktober 2018.

Pebisnis asal Tiongkok ini menuturkan hal pertama yang akan dilakukannya adalah berbicara dengan Jack Ma Institute untuk bekerja sama terkait pengembangan SDM. Jack Ma Institute akan mendukung anak-anak muda Indonesia untuk belajar wirausaha.

“Saya berbicara dengan Jack Ma Institute of Entrepreneur. Sekarang ini apa yang kami lakukan adalah hal yang baik dan efisien, bukan hanya untuk marketing tetapi juga dukungan bagi kaum muda dan UMKM yang dapat diuntungkan dari edukasi ini,” jelas Jack Ma.

Terkait pengembangan SDM tersebut, Darmin mengatakan, Pemerintah Indonesia bersama dengan Jack Ma juga akan mengembangkan SDM berbasis teknologi. Jack Ma akan mengembangkannya bersama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia.

“Kita akan mengembangkan itu bersama-sama karena pada akhirnya kita perlu dukungan dari digital untuk menghadapi persoalan-persoalan ke depan di mana kita perlu banyak SDM untuk itu,” pungkas Darmin.

(ABD)

Jack Ma Ajak Produk Indonesia Eksis di Internasional

Pendiri Alibaba Jack Ma (kemeja biru) bersama dengan Menko Perekonomian Darmin Nasution (Foto: Medcom.id/Ade Hapsari Lestarini)

Nusa Dua: Indonesia mendapat dukungan oleh pendiri Alibaba Jack Ma untuk bisa berpartisipasi dalam acara besar Single’s Day di Tiongkok pada 11 November. Dukungan ini diharapkan menjadi salah satu pembuka peningkatan perdagangan di masa mendatang.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakannya setelah melakukan pembicaraan dengan salah satu orang terkaya dunia itu. Darmin menyebut Jack Ma sangat mendorong sekali untuk Indonesia dapat berpartisipasi dalam ajang tersebut.

“Bahwa acara itu acara dunia, di mana kita diberikan dukungan oleh Jack Ma dan Alibaba untuk ikut di dalam forum besar itu,” kata Darmin, di sela Pertemuan Tahunan IMF-WB 2018, di Hotel Lagoon, Nusa Dua, Bali, Sabtu, 13 Oktober 2018.

Darmin menambahkan dalam forum tersebut barang-barang Indonesia bisa dipasarkan ke pasar internasional melalui website Alibaba. “Kita juga menyertakan beberapa produk yang memang kita bisa. Kita memang tidak bisa produk-produk sophisticated tapi kita mulai dari apa yang kita bisa,” ungkap Darmin.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Jack Ma mengatakan acara Single’s Day akan menjadikan momen bagi Indonesia. Di sana pengusaha akan dapat belajar cara berbisnis cerdas.

“Diskusikan banyak kasus tidak hanya umum tetapi juga detailnya. Misalnya 11.11 bagaimana kita bisa menjadi baik, membantu bisnis yang cerdas. Entreprenur di Indonesia dapat belajar manfaat di 11.11,” pungkas Jack Ma.

(ABD)

Media Asing Ramai Bahas Pidato Jokowi

Nusa Dua: Pidato Presiden Joko Widodo (Jokowi) membuat seluruh peserta pertemuan tahunan IMF-WB 2018 di Nusa Dua, Bali, terkesan.

Jokowi kembali membuat “geger” dalam sambutannya di Annual Meeting Plenary IMF-WB 2018 dengan menganalogikan kondisi dunia ibarat film seri Game of Thrones, penuh peperangan dan terus memanas.

Tak ayal, pidato Jokowi ini menjadi pemberitaan di seluruh media Indonesia. Tak luput, media-media asing juga banyak memberitakannya.

Baca juga: IMF dan Bank Dunia Terpesona Pidato `Game of Thrones` Jokowi

Pantauan Medcom.id, Jumat, 12 Oktober 2018, beberapa media seperti South China Morning Post, Annual Meetings Daily Nigeria, The West Australian, The Straits Times, dan masih banyak lagi, membahas pidato ini.

Executive Editor Annual Meetings Daily Nigeria Joni Akpederi mengatakan Presiden Jokowi merupakan orang yang menakjubkan. Bahkan, dia ingin membuat berita utama atau headline mengenai Jokowi.

“Apa yang dia (Jokowi) katakan ada benarnya. Saya suka apa yang Jokowi katakan. Great,” tutur Joni kepada Medcom.id, di Bali International Convention Center, Jumat, 12 Oktober 2018.

Baca juga: Indonesia Buat IMF dan Bank Dunia Terkesan

Di sisi lain, dia memandang Indonesia merupakan negara hebat. Joni pun menyoroti event-event yang digelar Indonesia dalam kurun waktu yang berdekatan seperti perhelatan pertemuan tahunan IMF-WB 2018, Asian Games, dan Asian Para Games.

“Indonesia hebat. Bisa menyelenggarakan banyak agenda besar dalam waktu yang bersamaan. Hebat,” kata dia.

(HUS)

Jack Ma Pernah 10 Kali Ditolak Kerja di KFC

Pendiri Alibaba, Jack Ma. Foto: Medcom/Ade Hapsari Lestarini.

Nusa Dua: Pendiri Alibaba, Jack Ma mengaku pernah sepuluh kali ditolak bekerja di KFC saat restoran cepat saji itu memulai merambah bisnisnya di Tiongkok. Pengakuan itu dibeberkan Jack Ma di depan peserta pertemuan tahunan International Monetary Fund-World Bank (IMF-WB) 2018.

“Betul, itu benar terjadi. Saya melamar, saya ditolak,” ungkap Jack Ma di Bali International Convention Center (BICC), Nusa Dua, Bali, Jumat, 12 Oktober 2018.

Menurutnya, untuk menjadi seorang pengusaha harus memiliki mental yang kuat. Penolakan kerja di suatu perusahaan justru membuat mental seseorang untuk menjadi pengusaha terasah.

“Saya mengatakan kepada diri saya harus terbiasa ditolak,” ucap dia.

Baca juga: 3 Kunci Kesuksesan Jack Ma

Saat menjelaskan internet dan ‘Alibaba’ untuk pertama kalinya kepada publik, Jack Ma juga kerap mendapat penolakan. Bahkan, tak jarang yang mempertanyakan dan menertawakannya. 

Namun, memiliki mental yang kuat dalam menghadapi penolakan justru membuat Jack Ma tak lantas berkecil hati.

“Ketika saya buat internet orang bilang, ‘apa itu internet?’ Nama Alibaba juga aneh banget. Orang bertanya, untuk apa saya bekerja di situ?” ujar dia.

(HUS)

IMF Sebut Ekonomi Dunia Rentan

Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde — Foto: Antara/ Wisnu Widiantoro

Nusa Dua: Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde mengatakan ekonomi dunia saat ini berada dalam situasi yang agak rapuh. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi dunia secara berturut-turut berada di angka 3,7 persen selama 2018 dan 2019.

Angka tersebut bahkan mengalami penurunan dari perkiraan sebelumnya yang sebesar 3,9 persen. “Apakah ekonomi cukup kuat? Saya jawab tidak,” kata Lagarde di sela-sela pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia 2018 di Nusa Dua, Bali, Kamis, 11 Oktober 2018.

Menurutnya, angka pertumbuhan itu tidak seimbang jika diukur dalam skala dunia. Di sisi lain, perang dagang juga menjadi hambatan ekonomi untuk tumbuh.

Selain itu, peningkatan utang global yang berasal dari sektor swasta dan publik juga perlu diwaspadai. Lagarde bilang perubahan kecil yang dilakukan sebuah negara bisa mengubah perkiraaan ekonomi dan stabilitas.

Oleh karenanya, negara-negara dunia perlu untuk mengombinasikan kebijakan yang tepat. “Kita harus mengemudikan kapal jangan sampai tergeser jauh dari angin. Kita perbaiki bauran kebijakan jangka menengah dan panjang untuk atasi hal ini. Kita bergandengan tangan ada di suatu kapal yang sama,” jelas mantan Menteri Keuangan Perancis ini.

(Des)

Asia Timur Diharapkan jadi Mesin Pertumbuhan Global

Nusa Dua: Kawasan Asia Timur diharapkan menjadi mesin pertumbuhan global, mengacu pada perkembangannya yang luar biasa dalam beberapa dekade terakhir. Pada saat yang sama, pertumbuhan ekonomi Asia Timur juga diikuti kesuksesan menurunkan angka kemiskinan di hampir seluruh negara dalam waktu relatif singkat.

Saat menyampaikan sambutan pembukaan seminar ‘A Resurgent East Asia: Adapting to New Realities’ sebagai bagian Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia di Nusa Dua, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut, Asia Timur tumbuh dua kali cepatnya seperti wilayah Asia lainnya, dan tiga kali lebih cepat daripada Amerika Latin dan Asia Tenggara.

“Pencapaian ini diasosiasikan dengan model pertumbuhan yang berkeadilan, terutama dikendalikan oleh keterbukaan ekonomi, investasi terhadap SDM, dan pemerintahan yang efektif,” ujar Ani, sapaan akrabnya, seperti dikutip dari Antara, Kamis, 11 Oktober 2018.

Dalam laporan yang dirilis Bank Dunia berjudul ‘A Resurgent East Asia: Navigating a Changing World’ disebutkan bahwa suksesnya Asia Timur mengubah statusnya dari ekonomi berpendapatan rendah ke berpendapatan menengah dipengaruhi antara lain bangkitnya Tiongkok yang saat ini menjadi negara dengan paritas daya beli tertinggi di dunia.

Tiongkok berkontribusi pada 12,8 persen dari total ekspor global dan 10,2 persen dari total impor global. Setengah abad lalu, negara-negara kawasan Asia Timur masih berhadapan dengan tantangan pembangunan saat sebagian besar warganya hanya bekerja di sektor pertanian.

Namun saat ini, masyarakat Asia Timur telah terlibat dalam berbagai aktivitas ekonomi dan berkontribusi kolektif pada hampir sepertiga PDB global. “Selain itu, kawasan Asia Timur telah menunjukkan ketahanannya di tengah krisis keuangan global pada 2008-2009,” kata Ani.

Salah satu kunci kesuksesan Asia Timur, menurut dia, adalah cepatnya industrialisasi di berbagai negara. “Vietnam dan Kamboja, misalnya, telah muncul sebagai hub manufaktur baru yang dicapai hanya dalam satu dekade,” pungkasnya.

(ABD)

Jakarta Geser Tokyo sebagai Kota Terpadat Dunia di 2030

Kota Jakarta. MI/Dwi Pramadia.

Jakarta: Euromonitor International dalam surveinya memaparkan bahwa Tokyo akan kehilangan ‘mahkota’ sebagai kota paling padat di dunia pada 2030. Mahkota itu akan jatuh ke Jakarta pada 2030.

Populasi di Jakarta, ibu kota Indonesia, diperkirakan akan mencapai 35,6 juta penduduk karena diperkirakan akan bertambah 4,1 juta orang dalam kurun waktu 2017 dan 2030. Sebaliknya, populasi penduduk Tokyo akan menyusut sekitar 2 juta hingga 35,3 juta karena penuaan sebagaimana dikutip dari Bloomberg, 10 Oktober 2018.

Sementara Karachi, ibu kota pakistan, diperkirakan berada di tempat ketiga, diikuti oleh Manila, ibu kota Filipina serta Kairo, ibu kota Mesir. Ledakan populasi akan membuat lalu lintas Jakarta menduduki peringkat ketiga terburuk di dunia dalam indeks kemacetan TomTom.

Enam kota lainnya yang didefinisikan memiliki populasi setidaknya 10 juta penduduk diperkirakan akan meningkat adalah Chicago, Bogota, Chennai, Baghdad, Luanda di Angola dan Dar es Salaam di Tanzania.

Sementara kota-kota dari negara berkembang sedang meningkat, mereka yang berasal dari negara-negara maju akan tetap lebih makmur dan tetap menjadi pasar konsumen utama di masa depan.

Euromonitor memperkirakan total pendapatan dari megacity akan menjadi sekitar lima kali lebih besar daripada yang ada di pasar yang sedang berkembang di 2030.

“Pasar konsumen utama masa depan akan tetap berada di kota-kota besar yang dikembangkan, menjamin pendapatan yang lebih tinggi dipasangkan dengan perumahan yang lebih maju, perawatan kesehatan, dan infrastruktur transportasi,” ujar Fransua Vytautas Razvadauskas, seorang analis kota senior di Euromonitor, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

(SAW)

Normalisasi Moneter AS Masuki Tahap Akhir

Nusa Dua: Presiden The Federal Reserve New York John Williams menyatakan normalisasi kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) sudah berada di tahap akhir dan akan memasuki fase normal. Namun demikian, panduan untuk menyusun kebijakan suku bunga AS tidak berubah.

“Dua tujuan mandat bank sentral itu adalah mencapai angka tenaga kerja yang maksimum dan stabilitas harga yang ditandai dari laju inflasi yang terkendali,” kata John Williams, dalam Forum Bank Sentral yang diselenggarakan Bank Indonesia, di rangkaian Pertemuan Tahunan IMF-World Bank 2018, seperti dikutip dari Antara, Nusa Dua, Bali, Rabu, 10 Oktober 2018.

Panduan atau formula kebijakan suku bunga AS itu adalah dua tujuan mandat bank sentral AS dan juga data ekonomi terbaru. Dia mengatakan the Fed dalam pernyataan terakhirnya memang telah merampingkan pernyataannya dan hanya memaparkan sedikit panduan ke depan tentang jalur kebijakan masa depan.

Komite Pasar Terbuka the Fed atau FOMC dalam pernyataannya yang baru-baru ini menghapus bahasa yang menunjukkan bahwa kebijakan moneter tetap akomodatif. “Biar saya perjelas, pernyataan-pernyataan yang lebih ringkas ini tidak menandakan perubahan dalam pendekatan kebijakan moneter kami,” kata dia.

Perubahan kebijakan itu, kata Williams, karena faktor-faktor yang memengaruhi keputusan kebijakan Fed yakni prospek ekonomi dan inflasi yang mendekati dua persen atau sesuai dengan sasaran jangka panjang bank sentral. Berbagai indikator ekonomi AS itu mengundang berbagai perubahan tentang bagaimana cara berkomunikasi FOMC terkait kebijakannya.

Saat ini, kata Williams, suku bunga AS berada di posisi yang jauh dari nol persen, dan kondisi ekonomi terus menggeliat. “Kasus untuk sebuah petunjuk yang kuat tentang tindakan kebijakan di masa depan menjadi kurang menarik,” ujar Williams.

Ekonomi AS kemungkinan akan tumbuh sebesar tiga persen pada 2018 dan sebesar 2,5 persen pada 2019. The Fed New York mengharapkan tingkat pengangguran turun menjadi di bawah 3,5 persen tahun depan. Adapun, ia juga melihat target inflasi dua persen akan terlampaui sedikit.

(ABD)

Arab Saudi Tidak Bisa Gantikan Minyak Iran di Pasar

Teheran: Menteri Perminyakan Iran Bijan Namdar Zanganeh mengatakan Arab Saudi tidak akan bisa menggantikan pangsa minyak Iran di pasar global, kantor berita resmi IRNA melaporkan. Pemberian sanksi dari Amerika Serikat (AS) kepada Iran tidak ditampik memberikan pengaruh terhadap stabilitas pasar minyak dunia.

Komentar Zanganeh datang sebagai tanggapan atas pernyataan Pangeran Mahkota Saudi Mohammad bin Salman baru-baru ini bahwa negaranya dan produsen lain telah meningkatkan produksi minyak mentah mereka untuk menggantikan pangsa ekspor minyak Iran di pasar.

“Pernyataan berlebihan seperti itu hanya bisa menyenangkan Trump. Pada kenyataannya, pasar tidak akan pernah percaya klaim seperti itu,” kata Zanganeh, seperti dikutip dari Antara, Selasa, 9 Oktober 2018.

Baik Arab Saudi maupun produsen-produsen minyak lainnya, ia menegaskan, tidak memiliki kapasitas untuk menggantikan minyak Iran di pasar.

Pada Mei, Presiden AS Donald Trump menarik Washington keluar dari kesepakatan internasional 2015 tentang program nuklir Teheran dan berjanji akan menerapkan kembali sanksi-sanksi atas ekspor minyak Iran pada 4 November.

Iran mengekspor sedikitnya 2,5 juta barel per hari minyak mentah pada April sebelum Amerika Serikat menarik diri dari kesepakatan itu.

(ABD)

Pertemuan IMF-WB Diharapkan Dorong Penyelesaian Perang Dagang

Nusa Dua: Pertemuan International Monetary Fund-World Bank (IMF-WB) 2018 salah satunya diharapkan bisa menyepakati untuk menyudahi terjadinya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Sejauh ini, perang dagang yang terjadi telah membebani pasar saham dan pasar keuangan dunia termasuk juga memengaruhi Indonesia.

Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Aida Budiman menjelaskan pertemuan IMF-WB 2018 merupakan ajang untuk para pemimpin di otoritas keuangan di dunia untuk berdiskusi mengenai apa yang sedang terjadi di masing-masing negara, dan seperti apa dampaknya terhadap perekonomian dunia.

“Nanti ada satu sesi mengenai ekonomi dunia. Di situ, Amerika Serikat akan bicara mengenai ekonomi mereka dan dampaknya kepada dunia dan dari emerging market juga akan menyampaikan bagaimana dampak policy ke negara masing-masing,” kata Aida, seperti dikutip dalam sebuah program di Metro TV, Selasa, 9 Oktober 2018.

Menurutnya dalam pertemuan IMF-WB 2018 semua peserta akan menyampaikan pandangan baik dari peserta negara berkembmang maupun peserta dari negara maju. Dalam pertemuan itu, para pemimpin dari 189 negara akan melihat kondisi ekonomi dunia dan mengambil langkah koordinasi guna mengantisipasi ketidakpastian yang sedang terjadi.

“Itu akan dibahas dan disepakati. Tapi, seperti apa kesepakatannya (mengenai pertemuan tahunan IMF-WB bisa menghentikan perang dagang antara AS dan Tiongkok apa tidak) harus menunggu Kamis itu karena memang ada interaksi dan dinamikanya,” tutur Aida.

Di sisi lain, International Monetary Fund memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global pada 2018 ini. Terdapat beberapa alasan yang menjadi faktor pemangkasan ini. Chief Economist IMF Maurice Obstfeld menjelaskan penurunan proyeksi pertumbuhan ekonomi global ini akibat dari ketegangan perang dagang antara AS dengan negara-negara lain.

“Karena perubahan ini, proyeksi pertumbuhan global untuk tahun ini dan tahun depan diturunkan menjadi 3,7 persen, turun 0,2 persen dari penilaian terakhir kami,” pungkas Maurice.

(ABD)

Ekspor CPO Turun, Ekspor Malaysia Ikut Ambruk

Kuala Lumpur: Ekspor Malaysia turun 0,3 persen secara year on yar menjadi 81,81 miliar ringgit (USD19,73 miliar) pada Agustus. Penurunan ekspor karena ekspor barang pertanian merosot sementara pengiriman barang-barang manufaktur stagnan.

Kementerian Perdagangan Internasional dan Industri Malaysia (MITI) dikutip dari Xinhua, Minggu, 7 Oktober 2018 mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa impor Malaysia pada Agustus melonjak 11,2 persen tahun ke tahun atau mencapai 80,2 miliar ringgit sehingga surplus perdagangan menjadi 1,61 miliar ringgit.

Total perdagangan Malaysia pada bulan Agustus naik 5,1 persen tahun ke tahun menjadi 162,01 miliar ringgit. Kenaikan ini didukung oleh ekspansi perdagangan mitra dagang utama, yaitu Tiongkok, Arab Saudi, Korea, ASEAN, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.

Pada basis bulan ke bulan, impor tumbuh tiga persen sementara total perdagangan, ekspor dan surplus perdagangan mengalami kontraksi masing-masing 1,2 persen, lima persen, dan 80,7 persen.

Selama delapan bulan pertama, total perdagangan naik enam persen tahun-ke-tahun menjadi 1.231 triliun ringgit, ekspor naik 6,3 persen menjadi 650,56 miliar ringgit; Impor tumbuh 5,6 persen menjadi 580,11 miliar ringgit. Surplus perdagangan untuk delapan bulan tahun ini naik 11,9 persen menjadi 70,45 miliar.

Untuk Agustus, ekspor barang manufaktur membukukan pertumbuhan tahunan sebesar 1,8 persen, terutama didorong oleh ekspor yang lebih tinggi dari produk listrik dan elektronik (E & E), bahan kimia dan produk kimia, produk besi dan baja serta peralatan optik dan ilmiah.

Ekspor barang pertambangan melonjak 5,5 persen, didorong oleh nilai dan volume minyak mentah yang lebih tinggi. Namun demikian, ekspor barang pertanian jatuh  hingga 20,8 persen, disebabkan rendahnya ekspor produk pertanian kelapa sawit dan berbasis minyak sawit.

Sementara itu, perdagangan Malaysia dengan Tiongkok meningkat 13,7 persen tahun-ke-tahun menjadi 28,7 miliar ringgit.

Ekspor ke TIongkok tumbuh 4,5 persen menjadi 11,83 miliar ringgit, karena ekspor yang lebih tinggi dari bahan kimia dan produk kimia, Liquefied Natural Gas, produk E & E, minyak mentah dan peralatan optik dan ilmiah. Impor dari negara itu melonjak 21,1 persen menjadi 16,87 miliar ringgit.

Perdagangan dengan Tiongkok dalam 8 bulan pertama melonjak 9,6 persen menjadi 206,19 miliar ringgit. Ekspor Malayasia ke Tiongkok naik 11 persen menjadi 89,31 miliar ringgit, sementara impor dari negara itu tumbuh 8,5 persen.

MIDF Research merevisi pertumbuhan ekspor setahun penuh Malaysia menjadi 7,3 persen, karena efek dasar yang lebih tinggi dan tanda-tanda pelonggaran indikator global utama.

Lembaga riset memperkirakan pertumbuhan ekspor melambat dari 18,9 persen pada 2017. Kinerja ekspor produk-produk utama terlihat suram di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan terhadap tarif impor yang dikenakan oleh Indonesia dan India untuk melindungi kejatuhan mata uang mereka terhadap dolar AS.

(SAW)

Perekonomian Vietnam Diprediksi Tumbuh 6,8% di 2018

Hanoi: Bank Dunia (WB) memperkirakan ekonomi Vietnam akan meningkat 6,8 persen tahun ini, naik dari tingkat 6,5 persen yang diperkirakan pada April.

Dalam edisi Oktober 2018, dalam East Asia and Pacific Economic Update berjudul “Menjelajahi Ketidakpastian”, Bank Dunia juga menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Vietnam 2019 menjadi 6,6 persen dari 6,5 persen. Bank Dunia juga mempertahankan prediksi pertumbuhan ekonomi 2020 di negara itu tidak berubah pada 6,5 persen.

Di Vietnam dan Thailand, pertumbuhan diperkirakan akan kuat pada 2018 sebelum melambat pada 2019 dan 2020 karena permintaan domestik yang lebih kuat mulai melandai. Bank Dunia mengatakan, mencatat bahwa inflasi telah mulai meningkat di seluruh kawasan, terutama di Myanmar, Filipina, dan Vietnam.

Menurut laporan WB, meskipun lingkungan eksternal yang kurang menguntungkan, prospek pertumbuhan untuk mengembangkan ekonomi di Asia Timur dan Pasifik tetap positif. Pertumbuhan ekonomi di Asia Timur dan Pasifik diperkirakan akan mencapai 6,3 persen tahun ini.

Menurut perkiraan Bank Pembangunan Asia dalam Laporan Pembaruan Pembangunan Asia 2018 yang dirilis bulan lalu, perekonomian Vietnam akan tumbuh 6,9 persen pada 2018.

Vietnam diperkirakan memposting pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) sebesar 6,98 persen dalam tiga kuartal pertama tahun ini. “Tingkat pertumbuhan tertinggi sembilan bulan sejak 2011, kata Biro Kantor Statistik Umum Vietnam.

Vietnam mengambil langkah-langkah sinkron untuk mendapatkan pertumbuhan PDB lebih dari 6,7 persen tahun ini. Legislatif menargetkan pertumbuhan PDB sebesar 6,5-6,7 persen pada 2018, dibandingkan dengan 6,81 persen pada 2017.

(SAW)

Persaingan Mata Uang Kripto Semakin Marak

Jakarta: Persaingan dalam mata uang kripto semakin sesak dengan kemunculan koin baru. Salah satunya adalah produk Alibabacoin (ABBC) sebuah produk hasil dari Alibabacoin Foundation, perusahaan yang tak berafiliasi dengan Alibaba Group. 

CEO ABBC Foundation Jason Daniel Paul Philip mengatakan produk ini dapat diakses di sembilan exchange besar secara bersamaan.  Platform exchange tersebut adalah BitForex, Coinsuper, Coinbene, IDAX, TopBTC, OOOBTC, RightBTC, DragonEx, dan Sistemkoin.

“Terdaftar di satu exchange besar bukanlah hal yang mudah. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi untuk dapat terdaftar di exchange-exchange yang berbeda. Adanya persyaratan ini membuat project-project cryptocurrency cukup kesulitan untuk bisa masuk ke bahkan satu exchange,” ungkap Jason Daniel Paul Philip dalam keterangan tertulisnya, Minggu, 7 Oktober 2018. 

Jason mengatakan ABBC Foundation melakukan hal ini untuk memberikan keuntungan tambahan bagi para pemegang coin mereka dan kepada siapapun yang tertarik berinvestasi dengan coin mereka di masa depan. 

“Fakta bahwa Alibabacoin tidak hanya di-list di satu exchange, melainkan sembilan, membuat produk ini menjadi salah satu investasi yang menarik bagi orang yang sering melakukan aktivitas trading dengan mata uang kripto,” pungkas dia. 

Persaingan mata uang digital selama ini dipimpin oleh beberapa produk koin seperti Bitcoin (BTC), Ethereum (ETH), Ripple (XRP) , Bitcoin Cash (BCH), EOS (EOS),Stellar Lumens (XLM), Litecoin (LTC), Tether (UDST), dan Tether (UDST). Mata uang dengan nilai tertinggi adalah BTC.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nusa Tenggara Barat Farid Faletehan mengatakan investasi dalam bentuk cryptocurrency (kripto) diperbolehkan oleh Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), Kementerian Perdagangan, sebagai subjek komoditi yang dapat diperdagangkan di bursa perdagangan berjangka sejak 2015. Namun mata uang ini masih dilarang sebagai mekanisme alat pembayaran oleh Bank Indonesia (BI). 

(SAW)

JP Morgan Turunkan Peringkat Saham Tiongkok

New York: JP Morgan semakin kurang optimistis tentang konflik perdagangan yang tengah terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Bahkan, JP Morgan menurunkan peringkatnya untuk saham Tiongkok menjadi netral dari sebelumnya berlebih seraya memprediksi perang dagang yang meningkat akan memengaruhi ekonomi Tiongkok di 2019.

“Perang dagang besar-besaran menjadi skenario kasus dasar baru kami untuk 2019. Tidak ada tanda yang jelas untuk mengurangi konfrontasi antara Tiongkok dan AS dalam waktu dekat,” kata Strategi Pasar Berkembang JP Morgan Pedro Martins Junior, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 6 Oktober 2018.

Penasihat Ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow sebelumnya mengatakan diskusi dengan Tiongkok tentang perdagangan tidak mengalami kemajuan. Tarif terbaru Gedung Putih sebesar 10 persen pada impor senilai USD200 miliar dari Tiongkok mulai berlaku minggu lalu. Trump mengatakan tarif akan naik menjadi 25 persen pada 1 Januari 2019.

Martins Junior mengatakan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Tiongkok bisa terkena dampak negatif sebesar satu poin persentase dari putaran terakhir tarif yang diumumkan, dengan asumsi tidak mengambil tindakan pencegahan. Tentu ada harapan agar kondisi perang dagang bisa segera berhenti demi kepentingan bersama.

“Tarif lebih tinggi meremas marjin keuntungan manufaktur Tiongkok dan mengurangi insentif investasi dan perekrutan yang kemudian akan menyeret pada konsumsi melalui pengurangan pendapatan,” tutur Martins Junior.

Sebelumnya, Larry Kudlow mengatakan, diskusi dengan Tiongkok tentang perdagangan tidak mengalami kemajuan. Hal itu berbeda dengan kesepakatan perdagangan baru yang dibuat oleh Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada untuk menggantikan Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA).

“Ini pesan penting ke Tiongkok, di mana kami mencoba bernegosiasi tentang perdagangan termasuk Amerika Utara bersama-sama,” kata Kudlow.

Bahkan, Kudlow mengungkapkan, kesepakatan dengan negara Asia itu tidak dekat. “Tidak ada yang akan terjadi di Tiongkok. Saya pikir ada diskusi yang sedang berlangsung. Tidak, saya tidak akan mengatakan itu sudah dekat (kesepakatan perdagangan antara AS dengan Tiongkok),” pungkasnya.

(ABD)

Tiongkok Dianggap Berisiko bagi Industri Pertahanan AS

Presiden Donald Trump (kiri) dan Presiden Tiongkok Xi Jinping berjalan bersama (Jim Watson/AFP)

Washington: Laporan baru Pentagon menunjukkan bahwa Tiongkok merepresentasikan risiko yang signifikan dan terus meningkat terhadap pasokan bahan-bahan vital bagi militer Amerika Serikat. Adapun Pentagon terus berupaya memperbaiki kelemahan di industri inti AS yang vital bagi keamanan nasional.

Laporan hampir setebal 150 halaman ini menyimpulkan ada hampir 300 kerentanan yang dapat memengaruhi bahan-bahan penting dan komponen penting bagi militer AS. Analisis ini mencakup serangkaian rekomendasi untuk memperkuat industri AS, termasuk dengan memperluas investasi langsung di sektor-sektor yang dianggap penting.

Tiongkok diberi tekanan besar dalam laporan itu. Tiongkok dipilih karena mendominasi pasokan global atas mineral bumi langka yang penting dalam aplikasi militer AS. Laporan ini juga mencatat profil global Tiongkok dalam penyediaan beberapa jenis elektronik serta bahan kimia yang digunakan dalam amunisi AS.

“Temuan utama dari laporan ini adalah bahwa Tiongkok mewakili risiko yang signifikan dan terus meningkat terhadap pasokan bahan dan teknologi yang dianggap strategis serta penting bagi keamanan nasional AS,” kata laporan itu, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 6 Oktober 2018.

Hubungan antara AS dan Tiongkok mulai meregang akibat perang dagang sengit antara dua ekonomi terbesar dunia yang terus menambah ketegangan. Tidak ditampik, laporan dari Pentagon dapat menambah ketegangan perdagangan antara AS dengan Tiongkok.

Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence sebelumnya menuduh Tiongkok berupaya meruntuhkan posisi Presiden Donald Trump menjelang pemilihan Kongres pada 6 November dengan mengatakan bahwa Beijing ikut campur dalam demokrasi Amerika Serikat.

Komentar Pence senada dengan pernyataan Trump dalam sambutannya di Perserikatan Bangsa-Bangsa bulan lalu, ketika Trump mengatakan bahwa Tiongkok telah mencoba ikut campur dalam pemilihan Kongres 2018.

Lebih lanjut, laporan ini juga memeriksa kekurangan AS yang berkontribusi pada kelemahan dalam industri domestik, termasuk anggaran pertahanan AS yang membuat sulit bagi perusahaan AS memprediksi permintaan pemerintah. Kelemahan lain yang dikutip adalah dalam pendidikan sains dan teknologi AS.

“Meskipun temuannya tidak mungkin untuk memindahkan pasar, mereka menyajikan gambaran mengkhawatirkan mengenai kerusakan industri AS yang didorong oleh faktor domestik dan asing,” tulis konsultan pertahanan Loren Thompson, yang memiliki hubungan dekat dengan Boeing Co dan perusahaan lain.

(ABD)

Jack Ma: E-Commerce Masa Depan Perdagangan Dunia

Jenewa: Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Dunia Roberto Azevedo dan Ketua Eksekutif Alibaba Group Jack Ma kompak mengatakan bahwa teknologi tidak boleh ditakuti melainkan dimanfaatkan untuk mengembangkan perdagangan dan masyarakat. Teknologi bisa menjadi alat untuk memaksimalkan laju bisnis di masa-masa mendatang.

“Kami tidak dapat menghentikan teknologi. Satu-satunya hal yang dapat Anda lakukan adalah merangkulnya,” kata Ma, yang merupakan salah satu pembicara utama pada sesi pembukaan Forum Publik WTO 2018, seperti dikutip dari Xinhua, Sabtu, 6 Oktober 2018. Bahkan, Ma menambahkan masa depan perdagangan dunia adalah bisnis kecil dan e-commerce.

Sementara itu, Azevedo menilai, ke depan semakin banyak aktivitas perdagangan yang menggunakan platform digital. Cara-cara baru untuk mengirimkan produk akan terus mengalir. “Jenis layanan baru akan dibuat,” kata Azevedo dalam pidato pembukaannya di forum tersebut.

Azevedo menggambarkan Ma sebagai salah satu pemimpin bisnis dan visioner yang paling luar biasa di zaman sekarang ini. Jack Ma telah disebut sebagai Advokasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan oleh PBB. Tahun ini forum empat hari WTO 2018 diberi judul ‘Trade 2030 a Look Into the Future’.

Ma adalah salah satu pembicara utama pada acara pembukaan bersama dengan dua pengusaha muda yakni Kepala Lingkungan PBB dan mantan asisten Perwakilan Perdagangan AS yang juga perunding perdagangan, yang sekarang menjalankan koalisi layanan.

“Dalam 30 tahun ke depan, sebanyak 80 persen bisnis kecil akan mendapat manfaat dari globalisasi. Pada 2030, lebih dari 85 persen bisnis akan menjadi e-commerce. Sebanyak 99 persen perdagangan akan online dan kurang dari satu persen perdagangan akan offline,” kata Ma.

Lebih lanjut, Ma mengatakan, sebagian besar perdagangan dunia saat ini terlihat dalam kontainer, sementara pada 2020 sebagian besar akan ada di paket. “Hari ini, kita lihat buatan Tiongkok, buatan Amerika Serikat, dan buatan Swiss. Pada 2030 kita lihat semua itu dibuat di Internet,” pungkas Ma.

(ABD)

Bank Dunia: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tetap Positif

Jakarta: Bank Dunia dalam laporan terbaru bertajuk ‘Ekonomi Asia Timur dan Pasifik Oktober 2018’ mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan tetap positif didukung permintaan domestik yang kuat. Hal itu tetap terjadi meskipun lingkungan global belum stabil dan tidak menentu.

Lembaga keuangan internasional itu memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 5,2 persen pada 2018 dan 2019, dan secara bertahap menguat menjadi 5,3 persen pada 2020. Namun Bank Dunia memperingatkan bahwa risiko-risiko negatif juga meningkat.

Konsumsi swasta diperkirakan meningkat sehubungan dengan pemilihan presiden tahun depan, berlanjutnya inflasi rendah, kondisi pasar tenaga kerja yang kuat, dan pemulihan pertumbuhan kredit. Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan investasi akan tetap kuat, khususnya setelah pemilihan presiden karena berkurangnya ketidakpastian politik.

“Demikian pula karena ekspansi ruang fiskal terkait dengan reformasi pendapatan yang sedang berlangsung, konsumsi pemerintah juga diproyeksikan menguat,” kata laporan itu, seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Jumat, 5 Oktober 2018.

Sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan lebih kuat dan inflasi yang rendah, tingkat kemiskinan ekstrem di Indonesia pada 2018 berdasarkan garis kemiskinan internasional diperkirakan turun menjadi 4,9 persen, atau 0,8 persen lebih rendah dari 2017.

Mengingat peningkatan ekspektasi dalam pertumbuhan, tingkat kemiskinan ekstrem diproyeksikan menurun sebesar 0,7 persen pada 2019 dan 0,6 persen pada 2020. Sementara itu, tingkat kemiskinan berdasarkan garis kemiskinan kelas pendapatan menengah ke bawah diperkirakan turun dari 27,3 persen pada 2017 menjadi 25,4 persen pada 2018 dan 21,9 persen pada 2020.

Pengurangan tersebut diproyeksikan lebih lambat daripada penurunan tahunan dalam kemiskinan selama 2006-2010, ketika tingkat kemiskinan ekstrim turun rata-rata 2,9 persen per tahun, sebagian karena tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi sebesar 6,1 persen per tahun selama periode sebelumnya.

Bank Dunia memperingatkan risiko-risiko terhadap prospek pertumbuhan Indonesia, terutama dampak negatif dari meningkatnya ketidakpastian global. Normalisasi berkelanjutan kebijakan moneter AS, bersama dengan gejolak yang terkait dengan Argentina dan Turki, mendorong para investor keluar dari pasar negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Sebagai akibatnya, laporan Bank Dunia menyebutkan mata uang rupiah telah terdepresiasi dan imbal hasil obligasi meningkat. Menurut laporan Bank Dunia, imbal hasil obligasi yang lebih tinggi akan menyebabkan kenaikan biaya bagi korporasi, yang bisa mengurangi pemulihan kredit baru dan investasi swasta.

(ABD)

Indeks Acuan Inggris Ditutup Merosot 1,22%

London: Saham-saham Inggris ditutup turun pada perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat WIB), dengan indeks acuan FTSE-100 di Bursa Efek London merosot sebanyak 1,22 persen atau 91,94 poin, menjadi 7.418,34 poin.

Mengutip Antara, Jumat, 5 Oktober 2018, Ocado Group, supermarket daring Inggris, mencatat kerugian paling besar di antara saham-saham unggulan dengan sahamnya anjlok 7,78 persen. Diikuti oleh saham Smurfit Kappa Group, perusahaan kemasan kertas bergelombang terkemuka di Eropa, jatuh 6,51 persen.

Sementara itu, Legal & General Group, sebuah perusahaan jasa keuangan multinasional Inggris, menguat 1,21 persen, merupakan peraih keuntungan terbesar dari saham-saham unggulan. Disusul oleh saham Direct Line Insurance Group dan Barclays, yang masing-masing meningkat 1,09 persen dan 1,03 persen.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average merosot 200,91 poin atau 0,75 persen menjadi ditutup di 26.627,48 poin. Indeks S&P 500 berkurang 23,90 poin atau 0,82 persen, menjadi berakhir di 2.901,61 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutu 145,57 poin atau 1,81 persen lebih rendah, menjadi 7.879,51 poin.

Imbal hasil obligasi Pemerintah AS bertenor 10 tahun yang dijadikan sebagai acuan, mencapai level tertinggi sejak 2011, menembus di atas 3,2 persen selama perdagangan Kamis. Sembilan dari 11 sektor utama di S&P 500 ditutup lebih rendah. Sektor teknologi dan consumer discretionary masing-masing meluncur 1,78 persen dan 1,60 persen, memimpin penurunan.

Saham-saham yang sensitif suku bunga merosot secara luas, sementara saham-saham bank diuntungkan dari suku bunga yang lebih tinggi. Lonjakan suku bunga obligasi dimulai pada Rabu, didorong oleh data ekonomi yang lebih baik dari perkiraan. Sementara itu, komentar terbaru dari pejabat tinggi Federal Reserve juga memicu imbal hasil lebih tinggi.

Ketua Fed Jerome Powell mengatakan bahwa bank sentral AS memiliki jalan panjang untuk pergi sebelum suku bunga mencapai tingkat netral, menunjukkan bahwa kenaikan suku bunga bertahap dapat berlanjut.

(ABD)

Putin: Harga Minyak Tinggi Akibat Kebijakan Trump

Moskow: Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan harga minyak mentah di kisaran USD65 hingga USD75 per barel akan sesuai dengan Rusia. Hal itu sejalan dengan gerak harga minyak mentah yang melambung pada pekan ini untuk mencapai level tertinggi sejak November 2014.

“Presiden Trump mengatakan bahwa harga minyaknya tinggi. Dia sebagian benar. Tapi harga minyak seperti itu sebagian besar hasil dari kebijakan Pemerintah Amerika yang tidak bertanggung jawab saat ini, yang secara langsung memengaruhi ekonomi dunia,” tegas Putin, seperti dikutip dari AFP, Kamis, 4 Oktober 2018.

Harga minyak telah menyentuh level tertinggi dalam empat tahun terakhir, di mana Brent Crude hampir mencapai USD85 per barel di tengah kekhawatiran pasokan global yang meluas karena pemberian sanksi Amerika Serikat terhadap Iran. Adapun perusahaan-perusahaan energi telah menikmati kenaikan harga minyak ini.

Hal itu bisa dinikmati setelah produsen utama dunia setuju untuk mempertahankan produksi minyak mereka meski ada tekanan dari Presiden AS Donald Trump. Trump menuduh OPEC yang merupakan kartel produksi minyak telah menggelembungkan harga minyak mentah dan melukai konsumen.

“Harga USD65 hingga USD75 per barel akan cocok untuk kita. Ini akan benar-benar normal untuk memastikan fungsi efisien perusahaan energi dan proses investasi,” kata Putin, dalam forum energi di Moskow.

OPEC dan mitra non-OPEC termasuk Rusia, pada akhir Juni menyepakati peningkatan produksi minyak setelah kesepakatan sebelumnya pada akhir 2016 memiliki persediaan terbatas untuk mendukung harga. Langkah itu diambil dalam rangka menjaga stabilitas harga minyak dunia.

Meski harga minyak dunia mengalami lompatan pada minggu ini, namun posisinya tetap jauh di bawah rekor tertinggi di atas USD147 per barel yang dicapai pada 2008, sebelum krisis ekonomi global memicu jatuhnya permintaan. Sejauh ini, perekonomian Rusia tetap sangat bergantung pada ekspor sumber energinya.

Keruntuhan harga minyak pada 2014 silam, bersamaan dengan sanksi Barat atas konflik Ukraina, membuat ekonomi Rusia mengalami resesi berkepanjangan sehingga membatasi daya beli konsumen.

(ABD)

Bursa Saham Inggris Berakhir Naik 35,73 Poin

London: Saham-saham Bursa Inggris ditutup lebih tinggi pada perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB), dengan indeks acuan FTSE-100 di Bursa Efek London bertambah sebanyak 0,48 persen atau 35,73 poin menjadi 7.510,28 poin.

Mengutip Antara, Kamis, 4 Oktober 2018, ITV, sebuah perusahaan media Inggris, melonjak 3,77 persen, menjadi peraih keuntungan teratas dari saham-saham unggulan. Disusul oleh saham Kingfisher dan Schroders yang masing-masing meningkat 3,00 persen dan 2,85 persen.

Di sisi lain, Tesco, sebuah perusahaan grosir multinasional Inggris, menderita kerugian terbesar di antara saham-saham unggulan, dengan sahamnya anjlok 8,59 persen. Diikuti saham DCC, grup perusahaan penjualan, pemasaran dan layanan dukungan internasional, yang jatuh 2,95 persen, serta Ferguson, perusahaan distribusi bahan bangunan multinasional, turun 1,82 persen.

Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average menguat 54,45 poin atau 0,20 persen menjadi ditutup di 26.828,39 poin. Indeks S&P 500 naik 2,08 poin atau 0,07 persen menjadi berakhir di 2.925,51 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup bertambah 25,54 poin atau 0,32 persen, menjadi 8.025,09 poin.

Caterpillar dan Boeing memimpin para pemenang di Dow. Saham kedua perusahaan tersebut masing-masing naik 2,20 persen dan 1,53 persen pada penutupan perdagangan. Saham-saham bank utama AS juga menguat karena imbal hasil obligasi AS mencapai rekor tertinggi, didorong oleh data ekonomi yang lebih baik dari perkiraan.

S&P 500 melayang di sekitar garis datar, karena kerugian di sektor utilitas dan konsumen pokok mengimbangi keuntungan di sektor keuangan. Saham Apple ditutup sekitar 1,2 persen lebih tinggi, berkontribusi pada kenaikan Nasdaq. Di sisi ekonomi, pekerjaan sektor swasta AS naik 230 ribu pekerjaan dari Agustus ke September, menurut laporan ADP.

Angka tersebut jauh di atas ekspektasi pasar sebanyak 185 ribu pekerjaan dan angka direvisi Agustus sebesar 168 ribu pekerjaan. Laporan Ketenagakerjaan Nasional ADP menyediakan gambaran bulanan pekerjaan sektor swasta nonpertanian AS berdasarkan data penggajian transaksional yang sebenarnya.

(ABD)

Fed: Pertumbuhan Ekonomi Global di Bawah Tekanan

New York: Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengungkapkan prospek pertumbuhan ekonomi global tetap positif dengan ketidakstabilan hanya ada di beberapa negara berkembang. Meski demikian, prospek tersebut sedikit kurang positif dibandingkan dengan beberapa bulan lalu.

“Saya pikir pertumbuhan masih sehat tetapi mungkin sedikit di bawah tekanan,” kata Powell, seperti dikutip dari AFP, Rabu, 3 Oktober 2018.

Sementara prospek perekonomian untuk Amerika Serikat (AS) dapat disimpulkan dengan lebih banyak berita baik. Powell menilai sangat penting untuk memperhatikan perkembangan luar negeri dan di pasar negara berkembang. Bahkan, sejumlah risiko patut diwaspadai agar tidak menimbulkan efek negatif.

“Ini salah satu risiko utama yang dihadapi para pembuat kebijakan,” ungkap Powell.

Tetapi untuk saat ini, lanjut Powell, di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi di negara maju, hanya segelintir pasar yang sedang berkembang mengalami gejolak signifikan. “Kami masih melihat gambaran yang cukup positif, mungkin sedikit lebih positif daripada di awal tahun ini,” kata Powell.

The Fed pekan lalu menaikkan suku bunga acuan AS untuk ketiga kalinya tahun ini di tengah pertumbuhan ekonomi yang kuat, dan diiringi dengan gerak inflasi yang sesuai target dua persen bank sentral. Sedangkan Jerome Powell optimistis tentang ekonomi AS yang akhirnya menekan kekhawatiran di pasar saham.

Sebaliknya, lanjut Powell, bank mengambil risiko lebih sedikit dan memiliki cadangan yang kuat menghadapi risiko dengan rumah tangga telah meningkatkan tingkat tabungan mereka. Ia tidak menampik ada beberapa pihak sangat prihatin bahwa suku bunga acuan dan upaya-upaya tidak konvensional untuk menopang ekonomi memicu lonjakan inflasi.

“Tapi ramalan buruk itu tidak menjadi kenyataan dan tidak terjadi,” pungkasnya.

(ABD)

IMF Desak Akhiri Perang Dagang

Washington: Perang dagang berdampak buruk bagi perkembangan ekonomi dunia. Oleh karena itu, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde mendesak negara-negara di seluruh dunia untuk mengurangi ketegangan dan menyelesaikan sengketa perdagangan saat ini.

Menurut Lagarde, perang dagang menyebabkan prospek pertumbuhan ekonomi global meredup.

“Pada Juli, kami memproyeksikan pertumbuhan global 3,9 persen untuk 2018 dan 2019. Prospeknya sejak itu menjadi kurang cerah ketika Anda akan melihat dari perkiraan terbaru kami minggu depan,” kata Lagarde dalam pidato di Washington, Amerika Serikat, Senin, waktu setempat, menjelang pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bali, Indonesia, pekan depan.

“Masalah utamanya ialah retorika itu berubah menjadi realitas baru hambatan perdagangan yang sebenarnya. Ini tidak hanya merugikan perdagangan itu sendiri, tetapi juga investasi dan manufaktur karena ketidakpastian terus meningkat,” katanya.

Seperti diketahui, dua negara raksasa ekonomi dunia, Tiongkok dan AS, kini tengah berseteru di bidang perdagangan. AS yang beralasan ingin melindungi industri dalam negeri mereka menerapkan tarif tinggi pada produk-produk Tiongkok. Kebijakan itu dibalas Tiongkok.

Lagarde memperingatkan bahwa sengketa perdagangan saat ini dapat menyebabkan guncangan ke berbagai negara berkembang dan ekonomi yang lebih luas jika eskalasinya terus meningkat. “Pesan utama saya hari ini ialah bahwa kita perlu mengelola risiko-risiko, meningkatkan reformasi, dan memodernisasi sistem multilateral.”

Ia pun mendesak negara-negara untuk bekerja sama membangun sistem perdagangan global yang lebih kuat, adil, dan sesuai untuk masa depan. “Taruhannya tinggi karena rekah rantai nilai global bisa memiliki efek yang merusak di banyak negara, termasuk ekonomi negara-negara maju.”

Dampak ke Rupiah

Perang dagang AS-Tiongkok dalam beberapa bulan terakhir berdampak pada melemahnya nilai tukar sejumlah mata uang di Asia. Kemarin, rupiah bahkan menembus angka Rp15 ribu per USD. Menurut ekonom PT Bank Permata Tbk Joshua Pardede, melemahnya rupiah diduga karena memanasnya perang dagang AS dan Tiongkok serta kenaikan harga minyak dunia.

Dua faktor itu dikhawatirkan mengancam defisit transaksi berjalan domestik. Joshua mengatakan dolar AS pada Selasa ini menguat secara luas, yang diikuti dengan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun (US-Treasury bill).

Isu perang dagang kembali mengimpit Tiongkok dengan adanya perjanjian perdagangan antara Kanada dan Meksiko yang mengisyaratkan pembatasan barang-barang dari Tiongkok. “Akhirnya penguatan dolar AS terjadi diikuti kenaikan yield US-Treasury,” ujar Joshua.

Dengan berbagai sentimen global itu, pelaku pasar cenderung melakukan koreksi di pasar keuangan domestik. Research Director Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah melihat sumber tekanan pada rupiah masih sama, yakni ketidakpastian global akibat perang dagang. Hal itu diperburuk kondisi domestik Indonesia yang masih defisit transaksi berjalan. (Media Indonesia)

(AHL)

Trump: Perjanjian Dagang AS-Kanada-Meksiko Sangat Penting

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memuji pakta perdagangan Amerika Serikat (AS) dengan Kanada dan Meksiko, yang menggantikan kesepakatan NAFTA lama. Kesepakatan baru tersebut dianggap bersejarah yang mengubah Amerika Utara kembali menjadi pembangkit tenaga pabrik dan bahan bakar ekspansi ekonomi AS.

“Mengatur hampir USD1,2 triliun dalam perdagangan, pakta yang dikenal sebagai Perjanjian Amerika Serikat-Meksiko-Kanada atau USMCA adalah kesepakatan perdagangan paling penting yang pernah kita buat sejauh ini,” kata Trump, dalam sebuah konferensi pers di Gedung Putih, seperti dikutip dari AFP, Selasa, 2 Oktober 2018.

Perjanjian tersebut pertama kali diumumkan pada Minggu malam, tepat sebelum batas waktu tengah malam, mengakhiri lebih dari satu tahun negosiasi tegang yang dipicu oleh keputusan Trump untuk membatalkan Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) yang berusia seperempat abad.

Trump secara agresif berencana mengubah kesepakatan perdagangan jangka panjang AS terutama dengan dua tetangganya yang besar yakni Tiongkok dan Uni Eropa. Langkah Trump telah mengguncang para pemimpin dunia dan memicu kekhawatiran gejolak ekonomi global.

Namun, dalam penampilannya saat konferensi pers, Trump mengaku pendekatan menggunakan tarif yang keras untuk memaksa negara-negara menegosiasikan kembali kesepakatan yang tidak adil telah dibuktikan kebenarannya.

“Amerika Serikat dalam transaksi perdagangannya telah kehilangan rata-rata hampir USD800 miliar per tahun. Itu berurusan dengan Tiongkok, berurusan dengan Uni Eropa, dengan semua orang, Jepang, Meksiko, Kanada, dan semua orang. Kami tidak akan membiarkan itu terjadi,” kata Trump.

USMCA dikatakan oleh para analis untuk menjadi serupa dengan NAFTA dalam banyak hal tetapi ada akses yang lebih baik untuk barang pertanian AS, termasuk produk-produk susu yang secara khusus telah dicoba dibatasi oleh Kanada.

Aturan baru dirancang untuk meningkatkan daya saing pekerja otomotif AS, dengan 40 persen dari setiap mobil yang diperlukan telah dibuat oleh orang yang berpenghasilan setidaknya USD16 per jam. AS juga mencari peningkatan konten Amerika untuk mobil bebas bea.

(ABD)

Produksi Minyak OPEC Terbatas di September

London: OPEC mencatat peningkatan produksi minyak terbatas pada September, survei menunjukkan. Kondisi itu karena adanya pengurangan pasokan Iran akibat sanksi-sanksi Amerika Serikat (AS), meski diimbangi oleh produksi yang lebih tinggi di Libya, Arab Saudi, dan Angola.

Mengutip Antara, Selasa, 2 Oktober 2018, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang beranggotakan 15 negara itu memproduksi 32,85 juta barel per hari pada September atau naik 90.000 barel per hari dari tingkat direvisi Agustus dan tertinggi tahun ini.

Tetapi 12 anggota OPEC yang terikat dengan perjanjian pembatasan pasokan benar-benar memangkas produksi sebesar 70.000 barel per hari karena penurunan di Iran dan Venezuela, meningkatkan kepatuhan terhadap target pasokan hingga 128 persen dari revisi 122 persen pada  Agustus, survei tersebut menemukan.

Harga minyak telah memperpanjang reli tahun ini karena ekspektasi sanksi-saksi terhadap Iran akan menguji kemampuan OPEC untuk mengganti kekurangannya, meskipun kelompok itu setuju pada Juni untuk memproduksi lebih banyak menyusul tekanan dari Presiden AS Donald Trump. Minyak Brent mencapai USD83,32 per barel, tertinggi sejak 2014.

“Situasi pasokan memang terlihat rapuh, karena setiap pengurangan tambahan seperti kemerosotan situasi di Venezuela akan memperketat pasokan minyak,” kata Norbert Rücker di Julius Baer.

Perjanjian OPEC pada Juni melibatkan OPEC, Rusia, dan non-anggota lainnya kembali ke kepatuhan 100 persen dengan pengurangan produksi minyak dimulai pada Januari 2017, setelah berbulan-bulan kekurangan produksi di Venezuela dan di tempat lain mendorong kepatuhan di atas 160 persen.

Sementara Arab Saudi kini hampir sepenuhnya membalikkan pasokan yang dijanjikan sebesar 486.000 barel per hari, ini belum sepenuhnya mengimbangi pengurangan di Iran serta penurunan produksi di Venezuela dan Angola.

Peningkatan terbesar bulan lalu berasal dari Libya, di mana produksinya mencapai rata-rata di atas satu juta barel per hari. Produksi Libya tetap berfluktiasi karena kerusuhan, memunculkan pertanyaan tentang stabilitas produksi OPEC saat ini.

(ABD)

Tiongkok Bangun Dua Basis Produksi Gas Metana-Batu Bara

Coal. Dok:AFP.

Taiyuan: Tiongkok berencana membangun dua basis produksi gas metana batu bara besar di provinsi Shanxi, yang kaya akan batu bara, karena negara itu berusaha untuk meningkatkan penggunaan gas serta mengurangi polusi dan mengurangi ketergantungan pada batu bara.

“Dua pangkalan itu, yang satu terletak di Lembah Qinshui dan yang lainnya di Basin Erdos timur, masing-masing memiliki cadangan yang dapat dipulihkan sebesar 1 triliun meter kubik,” demikian menurut komisi pengembangan dan reformasi provinsi Shanxi, yang telah membuat penilaian dampak lingkungan menjadi publik dikutip dari Xinhua, Minggu, 30 September 2018.

Dalam lima tahun hingga 2020, Tiongkok berencana untuk menambah cadangan gas metana baru berukuran 420 miliar meter kubik dan membangun dua hingga tiga basis produksi gas batu bara besar. Pada 2020, produksi metana batu bara tahunan negara itu diperkirakan akan mencapai 24 miliar meter kubik.

Dua pangkalan di Shanxi adalah proyek-proyek besar yang dipromosikan oleh Administrasi Energi Nasional, dengan produksi mereka diharapkan mencapai gabungan 8.3 milyar meter kubik.

Pada 2020, Shanxi berencana untuk menaikkan output gas batubara-bunganya menjadi 20 miliar meter kubik dan mengangkut enam miliar meter kubik gas dari dua tempat itu ke negara itu melalui pipa gas.

Batu bara mewakili 84,6 persen bauran energi Shanxi pada 2017 dan pemerintah setempat berencana untuk mengurangi pangsa pasar  batu bara menjadi 80 persen pada 2020 dalam upaya untuk memerangi polusi.

 

(SAW)

Elon Musk Mundur sebagai Ketua Dewan Direksi Tesla

CEO pembuat mobil elektrik asal Amerika Serikat (AS) Tesla Inc, Elon Musk. Dok;AFP.

San Fransisco: CEO pembuat mobil elektrik asal Amerika Serikat (AS) Tesla Inc, Elon Musk, akan mengundurkan diri sebagai ketua Dewan Direksi Tesla. Musk dan Tesla juga akan membayar denda sebesar USD40 juta kepada Securities and Exchange Commission AS (SEC).

Dikutip dari Xinhua, Minggu 30 September 2018, SEC mengatakan bahwa Musk, yang akan tetap menjadi CEO Tesla, setuju untuk menyelesaikan tuduhan penipuan terhadap sekuritas yang diajukan terhadapnya minggu lalu.

Regulator sekuritas AS juga mengajukan tuntutan terhadap Tesla karena gagal untuk memiliki kontrol pengungkapan dan prosedur yang berkaitan dengan tweet Musk pada Agustus yang mempertimbangkan untuk menjadikan Tesla sebagai perusahaan tertutup dengan harga saham sebesar USD l420 per saham.

Dalam pengaduan SEC, regulator sekuritas AS mengatakan Musk membuat harga saham Tesla naik karena informasi yang menyesatkan itu.

“Pernyataannya tentang kemungkinan transaksi tidak memiliki dasar yang memadai yang menyesatkan serta menyebabkan gangguan pasar yang signifikan karena tweet Musk menyebabkan harga saham Tesla melonjak lebih dari enam persen pada 7 Agustus,” kata SEC.

Dikatakan Musk akan digantikan oleh ketua independen setelah pengunduran dirinya.  Tesla kemudian akan menunjuk total dua direktur independen baru untuk dewannya, serta membentuk komite baru dari direktur independen dan menempatkan kontrol dan prosedur tambahan untuk mengawasi komunikasi Musk.

Musk dan Tesla akan membayar USD20 juta dalam denda masing-masing, dan jumlah total USD40 juta akan didistribusikan kepada para investor yang dirugikan di bawah proses yang disetujui pengadilan.

Steven Peikin co-director dari Divisi Penegakan SEC, mengatakan resolusi tersebut dimaksudkan untuk mencegah gangguan pasar lebih lanjut dan membahayakan pemegang saham Tesla.

(SAW)

Kementerian ESDM Tegaskan Terus Jalankan Kebijakan Prorakyat

Jakarta: Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) siap untuk terus menjalankan kebijakan prorakyat yang manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. Kebijakan tersebut diharapkan bisa terlaksana secara maksimal di seluruh daerah di Indonesia.

Menteri ESDM Ignasius Jonan mengatakan program-program prorakyat tersebut antara lain BBM Satu Harga, bantuan konverter kit elpiji untuk nelayan kecil, pembangunan jaringan gas kota, pengeboran air bersih, hingga pembagian Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE).

“Kebijakan prorakyat terus digalakkan. Uang rakyat kembali ke rakyat,” kata Jonan, seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Sabtu, 29 September 2018.

Para pemangku kepentingan, lanjut Jonan, diharapkan juga mampu berkolaborasi dan bekerja beriringan dengan pemerintah demi mempercepat tujuan pembangunan sektor ESDM sesuai Pasal 33 Undang-Undang Dasar (UUD).

“Saya mengajak masyarakat turut terlibat bersama pemerintah membangun sektor ESDM. Hal itu akan mempercepat tujuan kita agar sektor ESDM mampu memberikan kemakmuran bagi semua rakyat,” pungkasnya.

(ABD)

IMF Naikkan Paket Bailout Argentina hingga USD57,1 Miliar

Buenos Aires: Argentina dan Dana Moneter Internasional atau Internatioal Monetary Fund (IMF) mengumumkan akan meningkatkan bantuan keuangannya dari USD7,1 miliar menjadi sebesar USD57,1 miliar. Perjanjian ini diharapkan mendukung kesehatan perekonomian Argentina di masa mendatang.

Mengutip Xinhua, Sabtu, 29 September 2018, pengumuman ini dibuat oleh Managing Director IMF Christine Lagarde dan Menteri Keuangan Argentina Nicolas Dujovne di New York. Lagarde menegaskan IMF memberikan dukungan untuk kebijakan ekonomi dan moneter Argentina.

Selain itu, dia juga menyatakan komitmen organisasi moneter untuk membantu negara menghadapi tantangan keuangan baru. Setelah dua minggu negosiasi, Argentina dan IMF menyetujui persyaratan baru dalam pencairan paket pendanaan USD50 miliar pertama sehingga negara di Amerika Selatan itu dapat memenuhi kewajiban keuangannya untuk 2019.

Hingga akhir 2018, Argentina akan menerima pembayaran USD13,4 miliar yang ditambahkan ke USD15 miliar dan diterima pada Juni. Pada 2019 Argentina akan dapat mengakses bagian dengan total USD22,8 miliar.

Sebelumnya, beberapa intervensi oleh Bank Sentral Argentina (BCRA) untuk menopang mata uang nasionalnya yang melemah telah berhasil mendorong peso menguat. Dolar Amerika Serikat (USD) diperdagangkan pada 37,90 peso di akhir perdagangan, menurut kurs yang dicatat oleh perusahaan milik negara Banco Nacion.

Pekan lalu, pemerintah mengeluarkan lebih banyak surat utang dalam bentuk surat utang jangka pendek ketika bank menjual cadangannya. Langkah tersebut memungkinkan peso memperoleh kembali nilai mata uangnya lebih dari enam persen.

Argentina telah meminta International Monetary Fund untuk mempercepat pencairan pinjaman USD50 miliar yang diberikan negara itu awal tahun ini. Pemerintahan Presiden Mauricio Macri menginginkan pembayaran yang dijadwalkan untuk 2020 dan 2021 dipercepat menjadi 2019.

(ABD)

USD Perkasa di Tengah Rilis Data Ekonomi

New York: Dolar Amerika Serikat (USD) meningkat terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Jumat waktu setempat (Sabtu WIB), karena investor mencerna rilis data ekonomi. Indeks USD yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama naik sebanyak 0,26 persen menjadi 95,1339 pada akhir perdagangan.

Mengutip Xinhua, Sabtu, 29 September 2018, pada akhir perdagangan New York, euro jatuh ke USD1,1610 dibandingkan dengan USD1,1658 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun menjadi USD1,3039 dibandingkan dengan USD1,3087 pada sesi sebelumnya. Dolar Australia naik menjadi USD0,7223 dari USD0,7210.

Sementara itu, USD membeli 113,57 yen Jepang atau lebih tinggi dari 113,42 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Kemudian naik menjadi 0,9792 franc Swiss dibandingkan dengan 0,9775 franc Swiss, dan merosot ke 1,2921 dolar Kanada dibandingkan dengan 1,3039 dolar Kanada.

Sentimen konsumen AS mencapai angka tiga digit untuk ketiga kalinya sejak Januari 2004, menurut survei bulanan Universitas Michigan terhadap konsumen. Indeks mencapai level 100,1 dalam pembacaan akhir September atau berada di bawah perkiraan para ekonom yang disurvei yakni di bawah level 100,8.

Sementara itu, pendapatan pribadi AS meningkat USD60,3 miliar atau 0,3 persen pada Agustus. Sedangkan belanja konsumsi pribadi (PCE) meningkat sebanyak USD46,4 miliar atau 0,3 persen, Departemen Perdagangan AS mengatakan. Investor juga terus mencerna keputusan terbaru Federal Reserve tentang kebijakan moneter AS.

“Inflasi inti PCE bertahan pada dua persen, tetapi itu siap untuk bergerak turun dalam waktu singkat. Jika ya, FOMC (Komite Pasar Terbuka Federal) akan merasa lebih sulit untuk membenarkan kenaikan suku bunga, terutama jika kurva sepenuhnya datar atau bahkan terbalik,” kata Kepala Ekonom FTN Financial Chris Low, dalam sebuah catatan.

(ABD)

Bursa Saham Inggris Anjlok 0,47%

London: Bursa saham Inggris turun pada Jumat waktu setempat (Sabtu WIB), dengan indeks acuan FTSE 100 turun 0,47 persen atau 35,24 poin menjadi ditutup pada 7.510,20 poin. Pemerintah Inggris terus berupaya memacu pertumbuhan ekonomi termasuk menjaga agar gerak pasar saham terus membaik dari waktu ke waktu.

Mengutip Xinhua, Sabtu, 29 September 2018, Randgold Resources, sebuah bisnis penambangan emas, melambung 3,61 persen dan menjadi pemenang teratas dari saham unggulan. Micro Focus International dan Next meningkat masing-masing 3,10 persen dan 3,04 persen.

Sementara itu, RSA Insurance Group, perusahaan asuransi umum multinasional, adalah pemain terburuk dalam saham unggulan dengan sahamnya turun 9,31 persen. Melrose Industries, perusahaan yang mengkhususkan diri dalam membeli dan meningkatkan bisnis yang berkinerja buruk, turun 3,24 persen. Paddy Power Betfair jatuh 3,13 persen.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average naik 18,38 poin atau 0,07 persen menjadi 26.458,31. Sedangkan S&P 500 turun sebanyak 0,02 poin ke 2.913,98. Indeks Nasdaq Composite naik 4,38 poin atau 0,05 persen menjadi 8.046,35.

Sentimen konsumen AS mencapai angka tiga digit untuk ketiga kalinya sejak Januari 2004, menurut survei bulanan Universitas Michigan terhadap konsumen. Indeks mencapai level 100,1 dalam pembacaan akhir September atau berada di bawah perkiraan para ekonom yang disurvei yakni di bawah level 100,8.

Sementara itu, pendapatan pribadi AS meningkat USD60,3 miliar atau 0,3 persen pada Agustus. Sedangkan belanja konsumsi pribadi (PCE) meningkat sebanyak USD46,4 miliar atau 0,3 persen, Departemen Perdagangan AS mengatakan. Investor juga terus mencerna keputusan terbaru Federal Reserve tentang kebijakan moneter AS.

The Fed sebelumnya memutuskan untuk menaikkan suku bunga jangka pendek sebesar seperempat poin persentase, kenaikan suku bunga ketiga tahun ini dan langkah kedelapan sejak akhir 2015. Keputusan yang diambil the Fed sejalan dengan membaiknya perekonomian Amerika Serikat.

(ABD)

Indeks Acuan Inggris Melompat 0,45%

London: Bursa saham Inggris naik pada Kamis waktu setempat (Jumat WIB), dengan indeks acuan FTSE 100 naik 0,45 persen atau 33,95 poin menjadi ditutup pada 7.545,44 poin. Sejauh ini, Pemerintah Inggris terus berupaya melaksanakan kebijakan Brexit atau keputusan keluar dari keanggotaan Uni Eropa.

Mengutip Xinhua, Jumat, 28 September 2018, Centrica, perusahaan energi dan jasa multinasional Inggris, melonjak 2,85 persen, pemenang teratas dari saham unggulan. Pearson dan Ocado Group meningkat masing-masing tumbuh sebanyak 2,82 persen dan 2,70 persen.

Karnaval, operator pelayaran, adalah pemain terburuk dalam saham unggulan, dengan sahamnya kehilangan 5,17 persen. DCC, grup penjualan, pemasaran dan layanan dukungan internasional, turun 4,24 persen. Fresnillo, perusahaan tambang logam mulia, turun 2,92 persen.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average naik 54,65 poin atau 0,21 persen menjadi 26.439,93. Sedangkan S&P 500 naik sebanyak 8,03 poin atau 0,28 persen menjadi 2.914,00. Indeks Nasdaq Composite naik 51,60 poin, atau 0,65 persen, menjadi 8.041,97.

The Fed pada Rabu waktu setempat menaikkan suku bunga jangka pendek sebesar seperempat poin persentase, kenaikan suku bunga ketiga tahun ini dan langkah kedelapan sejak akhir 2015. Kenaikan suku  bunga acuan dilakukan the Fed sejalan dengan kian kuatnya perekonomian Amerika Serikat.

“Mengingat kondisi pasar kerja dan inflasi yang direalisasikan dan diharapkan, Komite Pasar Terbuka (Federal Open Market) memutuskan untuk menaikkan kisaran target untuk tingkat dana federal,” kata bank sentral dalam sebuah pernyataan setelah mengakhiri pertemuan dua hari.

The Fed mengatakan pasar tenaga kerja AS telah terus menguat dan kegiatan ekonomi telah meningkat pada tingkat yang kuat, dengan belanja rumah tangga dan investasi tetap tumbuh secara kuat. Bahkan, the Fed menilai inflasi inti untuk barang-barang selain makanan dan energi tetap dekat dengan target bank sentral sebesar dua persen.

(ABD)

Penaikan Suku Bunga AS Picu USD Menghijau

New York: Dolar Amerika Serikat (USD) meningkat terhadap mata uang utama lainnya di akhir perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat WIB), karena investor terus menyaring keputusan Federal Reserve yang  telah menaikkan suku bunga. Adapun kenaikan suku bunga tersebut dilakukan sejalan dengan membaiknya perekonomian Amerika Serikat.

Mengutip Xinhua, Jumat, 28 September 2018, indeks USD yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama meningkat sebanyak 0,76 persen menjadi 94,8970 pada akhir perdagangan. Di akhir perdagangan New York, euro turun jadi USD1,1658 dari USD1,1762 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun jadi USD1,3087 dari USD1,3184 di sesi sebelumnya.

Sedangkan dolar Australia merosot ke 0,7210 dolar dari 0,7276 dolar. USD membeli 113,42 yen Jepang atau lebih tinggi dibandingkan dengan 112,83 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Kemudian USD naik menjadi 0,9775 franc Swiss dibandingkan dengan 0,9650 franc Swiss, dan naik menjadi 1,3039 dolar Kanada dibandingkan dengan 1,3002 dolar Kanada.

The Fed pada Rabu waktu setempat (Kamis WIB) memutuskan untuk menaikkan suku bunga jangka pendek sebesar seperempat poin persentase, kenaikan suku bunga ketiga tahun ini dan langkah kedelapan sejak akhir 2015. Kenaikan dilakukan di tengah kuatnya perekonomian Amerika Serikat.

Analis mengatakan pertumbuhan ekonomi yang solid dan tingkat pengangguran yang menurun cenderung menjaga the Fed pada jalur stabil menuju pengetatan kebijakan moneter untuk mencegah ekonomi AS dari overheating. Di sisi ekonomi, jumlah orang Amerika yang mengajukan tunjangan pengangguran meningkat lebih dari yang diperkirakan minggu lalu.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average naik 54,65 poin atau 0,21 persen menjadi 26.439,93. Sedangkan S&P 500 naik sebanyak 8,03 poin atau 0,28 persen menjadi 2.914,00. Indeks Nasdaq Composite naik 51,60 poin, atau 0,65 persen, menjadi 8.041,97.

The Fed pada Rabu waktu setempat menaikkan suku bunga jangka pendek sebesar seperempat poin persentase, kenaikan suku bunga ketiga tahun ini dan langkah kedelapan sejak akhir 2015. Kenaikan suku  bunga acuan dilakukan the Fed sejalan dengan kian kuatnya perekonomian Amerika Serikat.

(ABD)

USD Perkasa Usai The Fed Naikkan Suku Bunga

New York: Kurs dolar Amerika Serikat (USD) menguat terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB). Hal itu terjadi setelah Federal Reserve memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuannya untuk ketiga kalinya tahun ini.

Mengutip Antara, Kamis, 27 September 2018, indeks USD yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama naik sebanyak 0,05 persen menjadi 94,1791 di akhir perdagangan. Pada akhir perdagangan New York, euro jatuh menjadi USD1,1762 dari USD1,1767 di sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun menjadi USD1,3184 dari USD1,3186 di sesi sebelumnya.

Sementara itu, dolar Australia naik ke USD0,7276 dibandingkan dengan USD0,7249. Kemudian USD dibeli 112,83 yen Jepang, lebih rendah dibandingkan dengan 112,93 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Lalu USD menguat menjadi 0,9650 franc Swiss dibandingkan dengan 0,9649 franc Swiss, dan naik menjadi 1,3002 dolar Kanada dibandingkan dengan 1,2950 dolar Kanada.

The Fed pada Rabu waktu setempat menaikkan suku bunga jangka pendek sebesar seperempat persentase poin atau 25 basis poin yang merupakan kenaikan suku bunga ketiga tahun ini dan langkah kedelapan sejak akhir 2015.

“Mengingat realisasi dan ekspektasi kondisi-kondisi pasar kerja dan inflasi, Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memutuskan untuk menaikkan kisaran target untuk suku bunga federal fund menjadi 2,00 persen hingga 2,25 persen,” kata bank sentral dalam sebuah pernyataan setelah mengakhiri pertemuan dua hari.

The Fed mengatakan pasar tenaga kerja AS telah terus menguat dan kegiatan ekonomi telah meningkat pada tingkat yang kuat, dengan belanja rumah tangga dan investasi tetap bisnis tumbuh “kuat”. Bank sentral juga mengatakan baik inflasi maupun apa yang disebut inflasi inti untuk barang-barang selain makanan dan energi tetap mendekati target bank sentral.

Adapun investor terus mencerna data ekonomi utama. Harga rumah naik 6,0 persen secara tahunan pada Juli, lebih lambat dari Juni, menurut indeks nasional S&P Case-Shiller. Indeks Keyakinan Konsumen The Conference Board meningkat menjadi 138,4 pada September, naik dari 134,7 pada Agustus.

(ABD)

Harga Minyak Dunia Turun Usai Persediaan AS Meningkat

New York: Harga minyak dunia turun pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB), setelah data AS menunjukkan peningkatan mengejutkan dalam persediaan minyak mentah domestik. Tetapi penurunan yang akan datang dalam ekspor Iran mempertahankan Brent di atas USD80 per barel dan di jalur untuk kenaikan kuartalan kelima berturut-turut.

Mengutip Antara, Kamis, 27 September 2018, patokan global, minyak mentah Brent untuk pengiriman November kehilangan USD0,53 menjadi menetap di USD81,35 per barel di London ICE Futures Exchange. Sehari sebelumnya, Brent naik ke setinggi USD82,55 atau tertinggi sejak November 2014.

Sementara itu, minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November turun sebanyak USD0,71 menjadi berakhir di USD71,57 per barel di New York Mercantile Exchange. Persediaan minyak mentah AS naik 1,9 juta barel dalam seminggu yang berakhir 21 September, menurut data Badan Informasi Energi AS (EIA).

Para analis telah memperkirakan penurunan 1,3 juta barel. Operasional pengilangan minyak mentah turun 901.000 barel per hari, data EIA menunjukkan. Para investor terus mengawasi sanksi-sanksi AS yang akan datang, yang mempengaruhi sektor perminyakan Iran, yang akan mulai berlaku pada November.

“Kami enggan banyak membaca aksi harga hari ini atau penambahan  minyak mentah tak terduga menurut EIA. Komplek ini telah berjalan naik  kuat dan berhak mendapatkan koreksi,” kata Presiden Ritterbusch and Associates Jim Ritterbusch, dalam sebuah catatan.

Pasar minyak bersiap untuk mendapatkan pasokan global dari sanksi-sanksi. Brent tetap di jalur untuk kenaikan kuartalan kelima berturut-turut, bentangan terlama sejak awal 2007 ketika enam kuartal berjalan mengarah ke rekor harga tertinggi USD147,50 per barel.

Beberapa pembeli besar, seperti sejumlah penyuling India, telah memberi isyarat bahwa mereka akan menghentikan pembelian minyak mentah Iran tetapi dampaknya terhadap pasar global belum jelas.

Pejabat-pejabat AS, termasuk Presiden Donald Trump, sedang mencoba untuk meyakinkan para konsumen dan investor bahwa pasokan yang cukup akan tetap di pasar minyak dan telah mendorong Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) untuk meningkatkan produksi.

(ABD)

Harga Minyak Dunia Berpeluang Tembus USD100/Barel

Singapura: Harga minyak bisa naik menuju USD100 per barel menjelang akhir tahun atau pada awal 2019. Hal itu karena sanksi yang diberikan kepada Iran mulai dilaksanakan secara penuh, kata pedagang komoditas, Trafigura dan Mercuria di Asia Pacific Petroleum Conference (APPEC) di Singapura.

Presiden Pedagang Komoditas Mercuria Energy Trading Daniel Jaeggi mengatakan hampir 2 juta barel per hari (bph) minyak mentah dapat dibawa keluar dari pasar sebagai akibat dari sanksi-sanksi AS terhadap Iran pada akhir kuartal keempat tahun ini. Hal itu membuat harga minyak mentah mungkin melonjak menjadi USD100 per barel.

“Kami berada di ambang beberapa gejolak signifikan pada kuartal keempat 2018 karena tergantung pada tingkat keparahan dan durasi sanksi-sanksi Iran di mana pasar sama sekali tidak memiliki respons penawaran yang memadai untuk hilangnya minyak 2 juta barel per hari dari pasar,” kata Jaeggi, seperti dikutip dari Antara, Selasa, 25 September 2018.

Washington telah menerapkan sanksi-sanksi keuangan terhadap Iran dan berencana untuk menargetkan ekspor minyak negara itu mulai 4 November yang bertujuan menekan negara-negara lain untuk juga memotong impor minyak mentah Iran.

Sementara itu, Ketua Bersama Perdagangan Minyak Trafigura Ben Luckock menambahkan, harga minyak mentah bisa naik menjadi USD90 per barel pada Natal dan USD100 pada Tahun Baru karena pasar mengetat.

Harga minyak telah meningkat sejak awal 2017, ketika Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) bersama dengan pemasok lain termasuk Rusia, mulai menahan produksi mereka untuk mengangkat nilai minyak mentah.

Gangguan yang tidak direncanakan dari Venezuela hingga Libya dan Nigeria semakin memperketat pasar ketika permintaan global mendekati 100 juta barel per hari untuk pertama kalinya. Ancaman gangguan serta pemotongan pasokan awal telah membantu mengangkat minyak mentah Brent berjangka ke hampir USD80 per barel bulan ini, level yang tidak terlihat sejak 2014.

(ABD)

Intervensi Bank Sentral Argentina Berhasil Topang Peso

Buenos Aires: Beberapa intervensi oleh Bank Sentral Argentina (BCRA) untuk menopang mata uang nasionalnya yang melemah telah berhasil mendorong peso menguat. Dolar Amerika Serikat (USD) diperdagangkan pada 37,90 peso di akhir perdagangan, menurut kurs yang dicatat oleh perusahaan milik negara Banco Nacion.

Mengutip Antara, Selasa, 25 September 2018, kurs yang diterapkan pada bank dan entitas lain yang melakukan transaksi dalam jumlah besar adalah 37,30 peso terhadap USD.

Pada awal perdagangan, BCRA menjual sekitar USD250 juta dalam cadangannya untuk membantu meningkatkan mata uang peso Argentina, yang telah kehilangan setengah nilainya sejak Januari, ketika peso diperdagangkan pada 18 peso terhadap USD.

Pekan lalu, pemerintah mengeluarkan lebih banyak surat utang dalam bentuk surat utang jangka pendek ketika bank menjual cadangannya. Langkah tersebut memungkinkan peso memperoleh kembali nilainya lebih dari enam persen.

Argentina telah meminta Dana Moneter Internasional atau Internatioal Monetary Fund (IMF) untuk mempercepat pencairan pinjaman USD50 miliar yang diberikan negara itu awal tahun ini. Pemerintahan Presiden Mauricio Macri menginginkan pembayaran yang dijadwalkan untuk 2020 dan 2021 dipercepat menjadi 2019.

Menurut Menteri Ekonomi Nicolas Dujovne, jika IMF setuju, itu akan menandakan investor bahwa lembaga itu memiliki kepercayaan terhadap ekonomi Argentina dan kemampuannya untuk membayar kembali pinjaman, membantu memperkuat peso dan menstabilkan nilai tukar.

(ABD)

Harga Minyak Melonjak Usai OPEC Pertahankan Tingkat Produksi

New York: Harga minyak dunia mencatat kenaikan kuat pada akhir perdagangan Senin waktu setempat (Selasa WIB), karena produsen-produsen minyak utama menolak berkomitmen meningkatkan tambahan produksi minyak mentah guna mengatasi gangguan pasokan.

Mengutip Antara, Selasa, 25 September 2018, minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November naik sebanyak USD1,30 menjadi USD72,08 per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, patokan global, minyak mentah Brent untuk pengiriman November bertambah USD2,40 menjadi berakhir di USD81,20 per barel di London ICE Futures Exchange, setelah menyentuh tingkat USD81,39 atau tertinggi sejak November 2014.

Pertemuan Komite Pemantau Bersama Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan non-OPEC (JMMC) di Aljazair, memutuskan untuk mempertahankan tingkat produksi minyak saat ini, di tengah desakan dari AS untuk meningkatkan produksi minyak dalam upaya untuk mengekang harga-harga yang meningkat.

Pemimpin OPEC Arab Saudi dan produsen minyak terbesar lainnya di luar kelompok itu, Rusia, secara efektif menolak permintaan Trump untuk bergerak mendinginkan pasar. “Tidak ada kesepakatan untuk meningkatkan produksi, dan harga minyak pada USD80 per barel akan lebih baik bagi produsen dan konsumen,” kata Menteri Energi Arab Saudi, Khalid al-Falih.

“Saya tidak memengaruhi harga,” tambahnya.

Trump mengatakan pekan lalu bahwa OPEC harus menurunkan harga, tetapi Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh mengatakan bahwa OPEC tidak menanggapi permintaan Trump secara positif. Para analis mengatakan dorongan beli meningkat saat ini mungkin akan berlanjut hingga akhir tahun ini di tengah ancaman sanksi-sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran.

“Pasar masih didorong oleh kekhawatiran tentang pasokan dari Iran dan Venezuela,” kata Direktur Riset Pasar Tradition Energy Gene McGillian, di Stamford.

(ABD)

Emas Berjangka Melesat Jelang Pertemuan The Fed

Chicago: Emas berjangka di divisi Comex New York Mercantile Exchange naik tipis pada akhir perdagangan Senin waktu setempat (Selasa WIB). Penguatan dapat terjadi lantaran investor menunggu pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve AS pekan ini.

Mengutip Antara, Selasa, 25 September 2018, kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember naik USD3,1 atau 0,26 persen menjadi ditutup pada USD1.204,4 per ons. Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya, turun tipis 0,01 persen menjadi 94,21 pada pukul 17.55 GMT.

Emas biasanya bergerak ke arah yang berlawanan dengan dolar AS, yang berarti jika dolar AS melemah maka emas berjangka akan naik, karena emas yang dihargakan dalam dolar AS menjadi lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lainnya.

Adapun logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Desember turun 1,8 sen dolar atau 0,13 persen menjadi menetap di USD14,341 per ons. Platinum untuk penyerahan Oktober turun sebanyak USD0,3 atau 0,04 persen menjadi ditutup pada USD829,3 per ons.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average turun 181,45 poin atau 0,68 persen menjadi ditutup di 26.562,05 poin. Indeks S&P 500 turun 10,30 poin atau 0,35 persen, menjadi berakhir di 2.919,37 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup 6,29 poin atau 0,08 persen lebih tinggi, menjadi 7.993,25 poin.

Saham Caterpillar dan Boeing, perusahaan-perusahaan dengan eksposur pendapatan luar negeri yang tinggi, keduanya menurun lebih dari satu persen, pada penutupan perdagangan. Sedangkan ExxonMobil dan Apple termasuk di antara yang berkinerja terbaik dalam komponen Dow. Saham kedua perusahaan tersebut, masing-masing maju 1,68 persen dan 1,44 persen.

Sebanyak tujuh dari 11 sektor utama dalam S&P 500 diperdagangkan lebih rendah, dengan sektor real estat dan konsumen memimpin penurunan. Sementara sektor teknologi ditutup 0,3 persen lebih tinggi, yang mendukung Nasdaq.

(ABD)

Turki Siap Memerangi Krisis Mata Uang Lira

Istanbul: Menteri Keuangan Turki Berat Albayrak telah memangkas target pertumbuhan ekonomi negara itu dan berjanji untuk memotong belanja publik hampir USD10 miliar. Kebijakan itu diambil karena Turki berusaha membangun kembali kepercayaan pasar yang hancur dan menemukan jalan keluar dari krisis mata uang.

Mengutip CNBC, Sabtu, 22 September 2018, para investor menyambut baik keputusan dari Berat Albayrak, yang bertanggung jawab atas ekonomi, untuk mengurangi proyeksi pertumbuhan menjadi 3,8 persen pada 2018 dan 2,3 persen pada 2019. Target sebelumnya 5,5 persen untuk kedua tahun tersebut. Perubahan proyeksi sejalan dengan terjadinya krisis mata uang.

Lira Turki mengalami gejolak setelah pengumuman itu, tetapi pertengahan sore diperdagangkan pada 6,25 terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Mata uang Turki telah kehilangan 40 persen nilainya terhadap greenback sejak awal tahun ini. Bulan lalu Turki jatuh ke dalam krisis mata uang besar-besaran setelah berselisih dengan AS.

Lira tergelincir akibat penumpukan tekanan pada korporasi yang dibebani dengan utang mata uang asing dan bank yang meminjamkan uang kepada mereka. Kondisi tersebut juga telah mengirim kegugupan melalui pasar negara berkembang lainnya di tengah kekhawatiran penularan yang lebih luas.

Investor telah khawatir pada manajemen ekonomi negara di bawah kepemimpinan Presiden Erdogan, yang mencerca terhadap suku bunga tinggi dan bersikeras bahwa pertumbuhan yang tinggi adalah prioritas.

Keputusan mengejutkan oleh bank sentral Turki untuk menaikkan suku bunga acuan secara tajam dipandang sebagai tanda selamat datang bahwa Ankara bersedia mengambil langkah untuk membangun kembali kepercayaan investor internasional.

Meski banyak ekonom sekarang memperkirakan resesi akan terjadi pada tahun depan, namun target pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan lebih rendah dipandang sebagai langkah penting dalam membangun kenaikan suku bunga.

“Program ekonomi baru didasarkan pada PDB dan asumsi inflasi yang lebih realistis,” kata Kepala Ekonom untuk Turki di Bank Spanyol BBVA Alvaro Ortiz Vidal-Abarca, seraya menambahkan bahwa ada rencana pemerintah bersedia menerima pertumbuhan yang lebih rendah tetapi lebih berkelanjutan.

(ABD)

Kesepakatan NAFTA Baru Diharap Segera Tercapai

Laredo: Ketika genderang perang perdagangan semakin keras, sekelompok pemimpin bisnis dan eksekutif bertemu di kota perbatasan Texas yang berdebu. Pertemuan dilakukan untuk membahas perdagangan internasional dan arah masa depan lantaran Amerika Serikat dari waktu ke waktu semakin bertentangan dengan sejumlah negara.

Simposium Logistik & Manufaktur tahunan Amerika Utara selama dua hari ditutup di Laredo, sebuah kota yang dibangun di sepanjang Sungai Rio Grande, sebuah perairan sempit namun panjangnya hampir 2.000 mil dan merupakan bagian dari perbatasan yang memisahkan antara Amerika Serikat dan Meksiko.

Mengutip Xinhua, Sabtu, 22 September 2018, sebuah kota metropolitan yang luas dengan jumlah penduduknya sekitar 250 ribu orang di mana Laredo hampir tidak dikenal sebagai tujuan konvensi yang diinginkan, tetapi karena lokasinya itu bisa menjadi kunci medan pertempuran dalam hal ketegangan perdagangan.

Lebih dari USD557 miliar dalam impor dan ekspor melewati kota tersebut pada 2017, menurut Laredo Economic Development Corporation. Meksiko adalah mitra dagang teratas dari semua barang itu, dan Tiongkok adalah yang negara mitra kedua.

Amerika Serikat masih berada di pusaran sengketa perdagangan dengan sejumlah negara. AS juga tetap pada posisi mengancam membatalkan perjanjian Perdagangan Amerika Utara atau NAFTA yang merupakan pengaturan perdagangan antara Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada yang telah berlaku sejak 1994.

Eric Miller, yang mengepalai Rideau Potomac Strategy Group, sebuah perusahaan konsultan lintas batas yang memberi saran kepada klien tentang urusan pemerintah, masalah perdagangan, teknologi, dan perkembangan geopolitik mendesak negosiator untuk menyelesaikan persoalan NAFTA dengan perjanjian trilateral.

“Anda mendapatkan manfaat tambahan dari memiliki perjanjian trilateral yang tidak dapat Anda peroleh dari perjanjian bilateral,” kata Miller.

Meski tarif AS yang pertama hanya menargetkan beberapa negara pada Juli silam, namun AS kemudian memperluas cakupan ke Kanada dan Meksiko. Adapun Kanada menanggapi dengan memberlakukan tarif yang sama pada 1 Juli. Tentu kebijakan tersebut menimbulkan persoalan karena AS tidak menerima langkah dari Kanada.

(ABD)

JPMorgan Berharap Konflik Dagang Tidak jadi Perang Dingin

Tianjin: Beberapa bulan terakhir, pengenaan tarif tinggi satu sama lain antara Amerika Serikat dan Tiongkok mungkin hanya menjadi permulaan dari konflik ekonomi yang berkepanjangan. Bahkan, pasar saham di kedua negara telah naik minggu ini meski ada pengumuman tarif baru.

Analis menilai efek dari pengenaan tarif tidak separah yang diperkirakan pedagang, dan masih ada harapan rekonsiliasi. Tetapi kenyataan yang ada dapat membuktikan sebaliknya di mana dua ekonomi terbesar di dunia ini masing-masing berasal dari budaya yang sangat berbeda.

“Sekarang kita perlu memikirkan apakah perang perdagangan saat ini akan berubah menjadi perang dingin ekonomi atau tidak. Kami berharap tidak. Masih ada kemungkinan kedua pihak dapat datang ke meja perundingan,” tegas Direktur Pelaksana dan Wakil Ketua Asia Pasifik JP Morgan Chase Jing Ulrich, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 22 September 2018.

“Dan masih ada peluang bahwa semacam rekonsiliasi dapat dicapai dan kita semua tahu jika perang perdagangan berlangsung, itu akan menjadi situasi kalah-kalah. Tidak seorang pun di dunia akan mendapat manfaat. Sedangkan Tiongkok tidak akan mengubah kebijakan domestiknya (hanya) karena tekanan eksternal,” tambahnya.

Masalahnya, lanjut Ulrich, di bidang teknologi antara Tiongkok dan Amerika Serikat ingin memimpin. Sayangnya, Tiongkok sudah menjadi pelopor di banyak bidang. Artinya, sulit bagi Amerika Serikat untuk mengalahkan Tiongkok yang sudah maju diberbagai bidang dalam hal teknologi.

“Tiongkok tentu saja sudah menjadi pelopor di banyak bidang,” kata Ulrich.

Sekarang ini, Beijing terus berupaya melakukan transisi dan menuju mengandalkan konsumsi untuk pertumbuhan dibandingkan dengan manufaktur. Bahkan, Pemerintah Tiongkok telah meluncurkan program “Made in Tiongkok 2025” untuk mendorong inovasi teknologi domestik.

“Saya melihat Tiongkok lima tahun lebih awal dari AS ketika sampai pada tingkat di mana digitalisasi terintegrasi ke dalam ekonomi ini,” ungkap Profesor di Sekolah Bisnis Stern New York Arun Sundararajan.

(ABD)

Investasi Tiongkok di Luar Negeri Diperkirakan Tembus USD2,5 Triliun

Tianjin: Investasi yang keluar dari perusahaan Tiongkok ke luar negeri telah menjadi topik hangat di Summer Davos 2018 yang sedang berlangsung. Hal itu lantaran para peserta pada pertemuan tahunan ingin mengetahui lebih banyak tentang preferensi dan prinsip investor Tiongkok.

Mengutip Xinhua, Sabtu, 22 September 2018, menurut proyeksi terbaru dari Forum Ekonomi Dunia, investasi yang keluar oleh perusahaan yang didukung Pemerintah Tiongkok dan sektor swasta akan mencapai USD2,5 triliun dalam 10 tahun mendatang. Angka itu cukup tinggi dan negara-negara di dunia tengah mempelajari karakteristik tersebut.

Statistik resmi Tiongkok menunjukkan, investor Tiongkok telah membuat USD65,27 miliar dari investasi langsung non-keuangan keluar di hampir 4.000 perusahaan di luar negeri di 152 negara dan wilayah dari Januari hingga Juli 2018. Ini menandai peningkatan 14,1 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Pada 2017, investor Tiongkok menghabiskan total USD120 miliar pada 6.236 bisnis dari 174 negara dan wilayah, turun sebanyak 29,4 persen dari tahun sebelumnya, di tengah upaya pemerintah untuk mengekang investasi tidak rasional di luar negeri.

Karena tampaknya ada potensi besar untuk melepaskan dan memuncaknya tantangan yang harus dihadapi, perbedaan drastis antara prediksi dan kenyataan telah memicu rasa ingin tahu peserta dalam diskusi panel bertema ‘China Outbound Investment: A New Playbook?’.

Sebelumnya, ekonomi Tiongkok mulai menunjukkan tanda-tanda baru pelemahan usai data menunjukkan laju investasi melambat ke rekor terendah, sementara belanja ritel dan produksi industri tetap stabil. Beijing menghadapi tindakan penyeimbangan yang rumit karena bertujuan mengalihkan penggerak pertumbuhannya dari investasi dan ekspor ke konsumsi pribadi.

Sementara di sisi lain, Tiongkok sedang berjuang melawan segunung utang. Sengketa perdagangan kian meluas dengan tujuan ekspor utama Amerika Serikat telah tertekan dan mengirim pasar saham domestik jatuh ke posisi terendah yang tidak terlihat sejak keruntuhan di 2016.

(ABD)

Bursa Saham Inggris Melonjak 0,49%

London: Bursa saham Inggris naik pada Kamis waktu setempat (Jumat WIB), dengan indeks acuan FTSE 100 naik 0,49 persen atau 36,20 poin menjadi ditutup pada 7.367,32 poin. Pemerintah Inggris sejauh ini masih terus melakukan pembahasan mengenai keputusan Brexit dengan Uni Eropa yang harapannya bisa menguntungkan kedua belah pihak.

Mengutip Antara, Jumat, 21 September 2018, Associated British Foods, perusahaan pengolahan dan perdagangan makanan multinasional Inggris, melonjak 2,70 persen, pemenang tertinggi di saham unggulan. Fresnillo dan Rio Tinto meningkat masing-masing 2,66 persen dan 2,54 persen.

Burberry Group, merek mewah global, adalah pemain terburuk dalam saham unggulan, dengan sahamnya turun 4,88 persen. GVC Holdings, kelompok taruhan dan permainan olahraga, turun 2,75 persen. Kingfisher, peritel perbaikan rumah, turun 1,74 persen.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 251,22 poin atau 0,95 persen menjadi 26.656,98. Sedangkan S&P 500 meningkat sebanyak 22,80 poin atau 0,78 persen menjadi 2.930,75. Indeks Nasdaq Composite naik 78,19 poin atau 0,98 persen menjadi 8,028,23.

Indeks Dow Jones mencapai rekor tertinggi pertama sejak Januari dengan Caterpillar dan Intel di antara para pemenang. Saham kedua perusahaan naik lebih dari dua persen pada penutupan. Teknologi, bahan pokok konsumen dan material memimpin kenaikan dari 11 sektor utama S&P 500. Nasdaq teknologi berat kembali naik setelah sesi negatif sebelumnya.

Pada data ekonomi, dalam pekan yang berakhir 15 September, klaim pengangguran awal AS berada pada 201 ribu, penurunan sebesar 3.000 dari tingkat yang tidak direvisi pekan sebelumnya, Departemen Tenaga Kerja AS mengatakan. Rata-rata pergerakan empat minggu adalah 205.750, penurunan 2.250 dari rata-rata yang tidak direvisi pekan sebelumnya.

(ABD)

Ekspektasi Pengetatan Kebijakan Moneter Picu USD Tergelincir

New York: Dolar Amerika Serikat (USD) tergelincir pada Kamis waktu setempat (Jumat WIB) pada peningkatan risk appetite dan ekspektasi kemungkinan pengetatan kebijakan moneter oleh Federal Reserve AS. Indeks USD yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama turun 0,66 persen menjadi 93,9145.

Adapun dalam manajemen risiko, risk appetite adalah tingkat risiko yang siap diterima oleh suatu organisasi. Batasan appetite risiko tidak mudah untuk didefinisikan karena setiap organisasi dapat menolerir berbagai tingkat risiko yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Mengutip Antara, Jumat, 21 September 2018, pada akhir perdagangan New York, euro meningkat menjadi USD1,1775 dari USD1,1674 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi USD1,3267 dari USD1,3145 di sesi sebelumnya. Dolar Australia naik menjadi USD0,7290 dibandingkan dengan USD0,7265.

Sedangkan USD membeli 112,46 yen Jepang, lebih tinggi dibandingkan dengan 112,25 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Kemudian USD turun menjadi 0,9595 franc Swiss dibandingkan dengan 0,9670 franc Swiss, dan turun menjadi 1,2911 dolar Kanada dibandingkan dengan 1,2917 dolar Kanada.

USD turun sebanyak 0,9 persen terhadap euro dan pound Inggris, serta tertekan lebih dari 0,8 persen terhadap franc Swiss. Federal Reserve AS diperkirakan menaikkan suku bunga lagi pada pertemuan mendatang di Komite Pasar Terbuka Federal dari 25-26 September.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 251,22 poin atau 0,95 persen menjadi 26.656,98. Sedangkan S&P 500 meningkat sebanyak 22,80 poin atau 0,78 persen menjadi 2.930,75. Indeks Nasdaq Composite naik 78,19 poin atau 0,98 persen menjadi 8,028,23.

Indeks Dow Jones mencapai rekor tertinggi pertama sejak Januari dengan Caterpillar dan Intel di antara para pemenang. Saham kedua perusahaan naik lebih dari dua persen pada penutupan. Teknologi, bahan pokok konsumen dan material memimpin kenaikan dari 11 sektor utama S&P 500. Nasdaq teknologi berat kembali naik setelah sesi negatif sebelumnya.

(ABD)

Harga Minyak Sawit Malaysia Capai Titik Terendah

Jakarta: Harga minyak sawit berjangka Malaysia mencapai titik terendahnya pada perdagangan Rabu selama hampir dua bulan ini. Penurunan ini salah satunya disebabkan oleh penurunan minyak nabati, di samping para pedagang yang berharap stok lebih tinggi di negara-negara produsen.

Hasil analisa tim Monex Investindo Futures, Kamis, 20 September 2018, patokan minyak sawit kontrak untuk pengiriman Desember di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 1,8 persen pada 2.158 ringgit (USD520,83) per ton pada penutupan perdagangan untuk kerugian hari ketiga berturut-turut.

“Sentimen pasar melemah karena penurunan sawit luar negeri dan juga antisipasi kenaikan dalam saham,” kata seorang pedagang berjangka Futures yang berbasis di Kuala Lumpur, mengacu pada minyak nabati lainnya di Dewan Perdagangan Chicago AS dan Pertukaran Komoditas Dalian.

Stok minyak sawit akhir di Malaysia naik ke tertinggi tujuh bulan pada Agustus karena tingkat produksi meningkat dan ekspor turun, data regulator industri menunjukkan pekan lalu.

Pedagang lain menambahkan bahwa sentimen pasar juga dipengaruhi oleh masalah “Tiongkok-AS.”, Yang merujuk pada perselisihan perdagangan yang mendalam antara kedua negara. Sementara itu, kontrak minyak kedelai Januari di Dalian Commodity Exchange turun 1,2 persen dan kontrak minyak sawit Dalian Januari turun 1,7 persen.

Harga minyak sawit dipengaruhi oleh pergerakan minyak nabati lainnya yang bersaing di pasar minyak nabati global.

(AHL)

Jack Ma Batal Ciptakan 1 Juta Lapangan Kerja di AS

Jack Ma. (FOTO: AFP)

Beijing: Jack Ma, pendiri dari raksasa ritel Tiongkok, Alibaba, mengurungkan niat menciptakan satu juta pekerjaan di Amerika Serikat (AS), di tengah konflik perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Jack Ma membuat pernyataan resminya untuk menciptakan lapangan kerja jelang pertemuan tingkat tinggi dengan Donald Trump pada Januari 2017 sebelum Trump dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat. Adapun perubahan rencana sejalan dengan kebijakan Trump yang mengenakan tarif tinggi kepada Tiongkok.

“Janji itu dibuat atas dasar kemitraan ramah AS-Tiongkok dan hubungan perdagangan yang rasional. Premis itu sudah tidak ada lagi hari ini. Jadi janji kita tidak bisa dipenuhi,” kata Jack Ma, seperti dikutip dari CNBC, Kamis, 20 September 2018.

Meski demikian, Jack Ma yang baru-baru ini mengumumkan akan mengundurkan diri dari Chairman Alibaba menegaskan bahwa Alibaba tidak akan berhenti bekerja keras untuk berkontribusi pada perkembangan yang sehat dari perdagangan Tiongkok-AS. Alibaba siap terus tumbuh dan berkembang di masa-masa mendatang.

Komentar Ma datang usai Washington dan Beijing gagal mencapai kata sepakat untuk menyelesaikan kekhawatiran Trump tentang praktik perdagangan Tiongkok. Pada konferensi investor Alibaba, Ma juga menyebut friksi perdagangan sebagai kekacauan yang bisa memiliki dampak selama beberapa dekade.

Pemerintah Tiongkok sebelumnya disebut tidak akan tunduk pada tuntutan Amerika Serikat dalam negosiasi perdagangan, surat kabar China Daily yang dikelola negara mengatakan dalam sebuah editorial. Hal tersebut terungkap setelah para pejabat Tiongkok menyambut undangan dari Washington untuk sebuah pembicaraan baru.

Tiongkok dan Amerika Serikat akan kembali ke meja perundingan guna membahas sengketa perdagangan sejalan dengan ancaman tarif baru AS yang menjulang setelah Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin memberikan undangan kepada rekan-rekan di Beijing untuk bertemu.

Harian resmi China Daily mengatakan Tiongkok tetap serius untuk menyelesaikan sengketa perdagangan dengan AS. Namun, ditegaskan Tiongkok tidak akan tunduk dengan tuntutan AS meski ada kekhawatiran atas perlambatan ekonomi dan jatuhnya pasar saham. Tiongkok berharap pengenaan tarif yang tinggi bisa segera dihilangkan di antara kedua negara.

(AHL)

Harga Minyak Sawit Malaysia Tertekan Perang Dagang AS-Tiongkok

Ilustrasi petani sawit. (Foto: MI/Amiruddin Abdullah).

Jakarta: Harga minyak sawit berjangka Malaysia turun lebih dari dua persen ke level terendah dalam satu bulan karena ekspektasi kenaikan produksi.

Selain itu harga minyak sawit berjangka juga berada di bawah tekanan karena perang dagang AS-Tiongkok, sengketa perdagangan, dan kelemahan dalam minyak nabati yang terkait.

“Patokan minyak sawit kontrak untuk pengiriman Desember di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 2,2 persen ke 2.198 ringgit Malaysia (USD530,79) per ton pada akhir perdagangan,” demikian hasil riset tim analis Monex Investindo Futures, Rabu, 19 September 2018.

Adapun harga kontrak minyak sawit berjangka menyentuh level 2.195 ringgit Malaysia per ton selama sesi perdagangan, dan merupakan yang terendah sejak 15 Agustus.

“Produksi tampaknya akan datang,” tambah pedagang berjangka yang berbasis di Kuala Lumpur, seraya menambahkan bahwa perdagangan AS-Tiongkok juga membebani.

Presiden AS Donald Trump memberlakukan 10 persen tarif impor Tiongkok senilai USD200 miliar dan mengatakan jika Tiongkok mengambil tindakan pembalasan terhadap petani atau industri AS, maka akan segera mengejar tahap ketiga, yaitu tarif impor tambahan sekitar USD267 miliar.

Menteri Perdagangan Tiongkok mengatakan unilateralisme dan proteksionisme AS akan merugikan kepentingan AS dan Tiongkok, serta ekonomi global.

(AHL)

Bank Sentral Jepang Pertahankan Suku Bunga Acuan

Ilustrasi. Foto: AFP/Behrouz Mehri.

Tokyo: Bank of Japan (BoJ) memutuskan untuk mempertahankan kebijakan moneter tetap stabil pada Rabu waktu setempat (Kamis WIB), dan mempertahankan pandangan optimistisnya terhadap perekonomian dalam negeri. Keputusan itu diambil di tengah tensi ketegangan perdagangan global yang terus meningkat.

Dalam langkah yang komprehensif, BoJ mempertahankan target suku bunga jangka pendeknya di minus 0,1 persen dan berjanji untuk memandu imbal hasil obligasi 10 tahun pemerintah sekitar nol persen. Langkah ini sejalan dengan keinginan Pemerintah Jepang yang terus memacu laju pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, BoJ berjanji mempertahankan suku bunga rendah dalam jangka waktu yang panjang. Keputusan mempertahankan suku bunganya dibuat oleh 7-2 suara, dengan anggota dewan Goushi Kataoka dan Yutaka Harada tidak setuju.

“Perekonomian Jepang berkembang moderat,” kata BoJ dalam pernyataan yang mengumumkan keputusan kebijakan, seperti dikutip dari CNBC, Rabu, 19 September 2018. Gubernur BoJ Haruhiko Kuroda akan mengadakan konferensi pers pada pukul 3.30 sore waktu setempat untuk menjelaskan keputusan kebijakan lebih rinci.

Adapun inflasi yang rendah memaksa BoJ untuk mempertahankan stimulus besar lebih lama dari yang diharapkan, di mana BoJ mengambil tindakan pada Juli untuk membuat kerangka kebijakannya berkelanjutan seperti kemungkinan imbal hasil obligasi untuk bergerak lebih fleksibel di sekitar targetnya.

(HUS)

Miliarder Jepang jadi Turis Pertama yang Terbang ke Bulan

California: Seorang miliarder Jepang dan konglomerat busana online, Yusaku Maezawa, akan menjadi orang pertama yang menerbangkan roket SpaceX ke bulan pada awal 2023, dan ia berencana membawa enam hingga delapan seniman. Maezawa, 42, akan menjadi pengembara bulan pertama sejak misi Apollo AS terakhir pada 1972.

Ia membayar sejumlah uang yang tidak ditentukan untuk hak istimewa itu. “Sejak saya masih kecil, saya sangat menyukai bulan. Ini adalah impian seumur hidupku. Saya memilih untuk pergi ke bulan dengan seniman!” kata Maezawa, di markas SpaceX dan pabrik roket di Hawthorne, California, seperti dikutip dari AFP, Selasa, 18 September 2018.

Maezawa ingin mengundang seniman dari berbagai bidang termasuk pelukis, pematung, fotografer, musisi, sutradara film, perancang busana, dan arsitek dalam perjalanan menuju ke bulan. “Jika kamu harus mendengar dariku, tolong katakan ya dan terima ajakanku. Tolong jangan katakan tidak!” kata Maezawa.

Maezawa adalah kepala eksekutif dari pusat fesyen online terbesar di Jepang, dan merupakan orang terkaya ke-18 di Jepang dengan kekayaan USD3 miliar, menurut majalah bisnis Forbes. Hobi Maezawa yang lain adalah mengumpulkan karya seni modern yang bernilai dan tahun lalu ia mengumumkan akuisisi mahakarya Jean-Michel Basquiat senilai USD110,5 juta.

Kecintaannya pada seni membuatnya memutuskan untuk mengundang seniman untuk ikut ke bulan. “Saya ingin mengundang enam hingga delapan seniman dari seluruh dunia untuk bergabung dengan saya dalam misi ini ke bulan. Mereka akan diminta untuk membuat sesuatu setelah mereka kembali ke bumi,” kata Maezawa.

Sementara itu, CEO SpaceX Elon Musk menggambarkan Maezawa sebagai orang yang paling berani dan petualang terbaik. “Dia melangkah maju. Kami merasa terhormat dia memilih kami,” kata Musk. Musk menegaskan bahwa dia tidak akan mengungkapkan biaya yang diberikan Maezawa untuk perjalanan ke bulan.

“Ini berbahaya, harus jelas. Ini bukan jalan-jalan di taman,” tegas Musk memperingatkan.

Perjalanan akan berlangsung menggunakan Big Falcon Rocket (BFR). BFR pertama kali diumumkan pada 2016, dan disebut-sebut sebagai roket terkuat dalam sejarah, bahkan lebih kuat daripada roket Saturn V Moon yang meluncurkan misi Apollo lima dekade lalu.

Tahun lalu, Musk mengatakan, tujuan BFR yang diakui ambisius adalah melakukan uji terbang ke Mars pada 2022, diikuti oleh penerbangan awak ke Planet Merah pada 2024.

Musk memamerkan desain untuk BFR sepanjang 118 meter (129 yard), yang akan terdiri dari tahap pertama dengan mesin dan sistem bahan bakar, dan tahap kedua dengan pesawat ruang angkasa di mana penumpang akan naik. Musk memperkirakan pembangunan BFR akan memakan biaya USD5 miliar.

Kendati demikian, ini bukan pertama kalinya Musk bersumpah untuk mengirim turis mengelilingi bulan. Tahun lalu, ia mengatakan, sebanyak dua turis yang membayar akan mengelilingi bulan pada 2018, tetapi rencana itu tidak terwujud.

(AHL)

Trump Ancam Naikkan Tarif hingga 25% untuk Impor Tiongkok

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan memberlakukan pengenaan tarif 10 persen pada impor Tiongkok senilai USD200 miliar dan bea tersebut akan meningkat hingga 25 persen pada akhir tahun. Tindakan ini kembali meningkatkan konflik perdagangan karena Tiongkok telah mengancam akan membalas hal serupa kepada Amerika Serikat.

Gedung Putih menghapus sekitar 300 barang dari daftar produk yang terkena dampak sebelumnya, termasuk jam tangan pintar, beberapa bahan kimia, dan produk lainnya seperti helm sepeda dan kursi tinggi. Adapun keputusan Trump dilakukan lantaran belum menemukan kata sepakat dengan Tiongkok yang diklaim Trump menganggu keamanan nasional.

Trump, dalam sebuah pernyataannya mengatakan bahwa tarif akan naik menjadi 25 persen pada 1 Januari 2019. “Jika Tiongkok mengambil tindakan pembalasan terhadap petani kami atau industri lainnya, kami akan segera mengejar fase ketiga, yaitu tarif sekitar USD267 miliar dalam impor tambahan,” kata Trump, seperti dilansir dari CNBC, Selasa, 18 September 2018.

Tindakan itu hanya akan meningkatkan ketegangan antara Washington dan Beijing. Presiden Trump terus mencari perjanjian perdagangan baru di tengah keluhan tentang dugaan pencurian kekayaan intelektual oleh perusahaan Tiongkok dan adanya kekhawatiran tentang defisit perdagangan AS dengan Tiongkok.

Kedua belah pihak telah gagal mencapai kesepakatan untuk menyelesaikan persoalan terkait praktik perdagangan Tiongkok meskipun ada serangkaian pembicaraan. “Kami telah sangat jelas tentang jenis perubahan yang perlu dilakukan, dan kami telah memberi Tiongkok setiap kesempatan untuk memperlakukan kami lebih adil,” kata Trump dalam pernyataannya.

“Tapi, sejauh ini, Tiongkok tidak mau mengubah praktiknya,” klaim Trump. Presiden Trump telah mempertahankan kebijakan pengenaan tarifnya terhadap Tiongkok, meski ada kritikan dari anggota parlemen Republik dan potensi kerusakan politik. Bahkan, kebijakan tarif telah menganggu arus perdagangan dunia.

Sementara itu, President dan CEO National Association of Manufacturers (NAM) Jay Timmons mengatakan kebijakan memberlakukan tarif berisiko membatalkan hasil yang telah dicapai para produsen pada tahun lalu karena adanya perubahan reformasi pajak dan peraturan. Tentu hal ini sangat disayangkan karena menganggu alur bisnis yang sedang berjalan.

“Dengan setiap hari yang berlalu tanpa kemajuan pada perjanjian perdagangan bilateral dengan Tiongkok, potensi tumbuh untuk produsen dan pekerja manufaktur bisa terluka. Tidak ada yang menang dalam perang dagang, dan pekerja manufaktur berharap pendekatan pemerintah akan cepat memberikan hasil,” kata Timmons.

(AHL)