Turki Siap Memerangi Krisis Mata Uang Lira

Istanbul: Menteri Keuangan Turki Berat Albayrak telah memangkas target pertumbuhan ekonomi negara itu dan berjanji untuk memotong belanja publik hampir USD10 miliar. Kebijakan itu diambil karena Turki berusaha membangun kembali kepercayaan pasar yang hancur dan menemukan jalan keluar dari krisis mata uang.

Mengutip CNBC, Sabtu, 22 September 2018, para investor menyambut baik keputusan dari Berat Albayrak, yang bertanggung jawab atas ekonomi, untuk mengurangi proyeksi pertumbuhan menjadi 3,8 persen pada 2018 dan 2,3 persen pada 2019. Target sebelumnya 5,5 persen untuk kedua tahun tersebut. Perubahan proyeksi sejalan dengan terjadinya krisis mata uang.

Lira Turki mengalami gejolak setelah pengumuman itu, tetapi pertengahan sore diperdagangkan pada 6,25 terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Mata uang Turki telah kehilangan 40 persen nilainya terhadap greenback sejak awal tahun ini. Bulan lalu Turki jatuh ke dalam krisis mata uang besar-besaran setelah berselisih dengan AS.

Lira tergelincir akibat penumpukan tekanan pada korporasi yang dibebani dengan utang mata uang asing dan bank yang meminjamkan uang kepada mereka. Kondisi tersebut juga telah mengirim kegugupan melalui pasar negara berkembang lainnya di tengah kekhawatiran penularan yang lebih luas.

Investor telah khawatir pada manajemen ekonomi negara di bawah kepemimpinan Presiden Erdogan, yang mencerca terhadap suku bunga tinggi dan bersikeras bahwa pertumbuhan yang tinggi adalah prioritas.

Keputusan mengejutkan oleh bank sentral Turki untuk menaikkan suku bunga acuan secara tajam dipandang sebagai tanda selamat datang bahwa Ankara bersedia mengambil langkah untuk membangun kembali kepercayaan investor internasional.

Meski banyak ekonom sekarang memperkirakan resesi akan terjadi pada tahun depan, namun target pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan lebih rendah dipandang sebagai langkah penting dalam membangun kenaikan suku bunga.

“Program ekonomi baru didasarkan pada PDB dan asumsi inflasi yang lebih realistis,” kata Kepala Ekonom untuk Turki di Bank Spanyol BBVA Alvaro Ortiz Vidal-Abarca, seraya menambahkan bahwa ada rencana pemerintah bersedia menerima pertumbuhan yang lebih rendah tetapi lebih berkelanjutan.

(ABD)

Kesepakatan NAFTA Baru Diharap Segera Tercapai

Laredo: Ketika genderang perang perdagangan semakin keras, sekelompok pemimpin bisnis dan eksekutif bertemu di kota perbatasan Texas yang berdebu. Pertemuan dilakukan untuk membahas perdagangan internasional dan arah masa depan lantaran Amerika Serikat dari waktu ke waktu semakin bertentangan dengan sejumlah negara.

Simposium Logistik & Manufaktur tahunan Amerika Utara selama dua hari ditutup di Laredo, sebuah kota yang dibangun di sepanjang Sungai Rio Grande, sebuah perairan sempit namun panjangnya hampir 2.000 mil dan merupakan bagian dari perbatasan yang memisahkan antara Amerika Serikat dan Meksiko.

Mengutip Xinhua, Sabtu, 22 September 2018, sebuah kota metropolitan yang luas dengan jumlah penduduknya sekitar 250 ribu orang di mana Laredo hampir tidak dikenal sebagai tujuan konvensi yang diinginkan, tetapi karena lokasinya itu bisa menjadi kunci medan pertempuran dalam hal ketegangan perdagangan.

Lebih dari USD557 miliar dalam impor dan ekspor melewati kota tersebut pada 2017, menurut Laredo Economic Development Corporation. Meksiko adalah mitra dagang teratas dari semua barang itu, dan Tiongkok adalah yang negara mitra kedua.

Amerika Serikat masih berada di pusaran sengketa perdagangan dengan sejumlah negara. AS juga tetap pada posisi mengancam membatalkan perjanjian Perdagangan Amerika Utara atau NAFTA yang merupakan pengaturan perdagangan antara Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada yang telah berlaku sejak 1994.

Eric Miller, yang mengepalai Rideau Potomac Strategy Group, sebuah perusahaan konsultan lintas batas yang memberi saran kepada klien tentang urusan pemerintah, masalah perdagangan, teknologi, dan perkembangan geopolitik mendesak negosiator untuk menyelesaikan persoalan NAFTA dengan perjanjian trilateral.

“Anda mendapatkan manfaat tambahan dari memiliki perjanjian trilateral yang tidak dapat Anda peroleh dari perjanjian bilateral,” kata Miller.

Meski tarif AS yang pertama hanya menargetkan beberapa negara pada Juli silam, namun AS kemudian memperluas cakupan ke Kanada dan Meksiko. Adapun Kanada menanggapi dengan memberlakukan tarif yang sama pada 1 Juli. Tentu kebijakan tersebut menimbulkan persoalan karena AS tidak menerima langkah dari Kanada.

(ABD)

Bursa Saham Inggris Melonjak 0,49%

London: Bursa saham Inggris naik pada Kamis waktu setempat (Jumat WIB), dengan indeks acuan FTSE 100 naik 0,49 persen atau 36,20 poin menjadi ditutup pada 7.367,32 poin. Pemerintah Inggris sejauh ini masih terus melakukan pembahasan mengenai keputusan Brexit dengan Uni Eropa yang harapannya bisa menguntungkan kedua belah pihak.

Mengutip Antara, Jumat, 21 September 2018, Associated British Foods, perusahaan pengolahan dan perdagangan makanan multinasional Inggris, melonjak 2,70 persen, pemenang tertinggi di saham unggulan. Fresnillo dan Rio Tinto meningkat masing-masing 2,66 persen dan 2,54 persen.

Burberry Group, merek mewah global, adalah pemain terburuk dalam saham unggulan, dengan sahamnya turun 4,88 persen. GVC Holdings, kelompok taruhan dan permainan olahraga, turun 2,75 persen. Kingfisher, peritel perbaikan rumah, turun 1,74 persen.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 251,22 poin atau 0,95 persen menjadi 26.656,98. Sedangkan S&P 500 meningkat sebanyak 22,80 poin atau 0,78 persen menjadi 2.930,75. Indeks Nasdaq Composite naik 78,19 poin atau 0,98 persen menjadi 8,028,23.

Indeks Dow Jones mencapai rekor tertinggi pertama sejak Januari dengan Caterpillar dan Intel di antara para pemenang. Saham kedua perusahaan naik lebih dari dua persen pada penutupan. Teknologi, bahan pokok konsumen dan material memimpin kenaikan dari 11 sektor utama S&P 500. Nasdaq teknologi berat kembali naik setelah sesi negatif sebelumnya.

Pada data ekonomi, dalam pekan yang berakhir 15 September, klaim pengangguran awal AS berada pada 201 ribu, penurunan sebesar 3.000 dari tingkat yang tidak direvisi pekan sebelumnya, Departemen Tenaga Kerja AS mengatakan. Rata-rata pergerakan empat minggu adalah 205.750, penurunan 2.250 dari rata-rata yang tidak direvisi pekan sebelumnya.

(ABD)

Ekspektasi Pengetatan Kebijakan Moneter Picu USD Tergelincir

New York: Dolar Amerika Serikat (USD) tergelincir pada Kamis waktu setempat (Jumat WIB) pada peningkatan risk appetite dan ekspektasi kemungkinan pengetatan kebijakan moneter oleh Federal Reserve AS. Indeks USD yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama turun 0,66 persen menjadi 93,9145.

Adapun dalam manajemen risiko, risk appetite adalah tingkat risiko yang siap diterima oleh suatu organisasi. Batasan appetite risiko tidak mudah untuk didefinisikan karena setiap organisasi dapat menolerir berbagai tingkat risiko yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Mengutip Antara, Jumat, 21 September 2018, pada akhir perdagangan New York, euro meningkat menjadi USD1,1775 dari USD1,1674 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi USD1,3267 dari USD1,3145 di sesi sebelumnya. Dolar Australia naik menjadi USD0,7290 dibandingkan dengan USD0,7265.

Sedangkan USD membeli 112,46 yen Jepang, lebih tinggi dibandingkan dengan 112,25 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Kemudian USD turun menjadi 0,9595 franc Swiss dibandingkan dengan 0,9670 franc Swiss, dan turun menjadi 1,2911 dolar Kanada dibandingkan dengan 1,2917 dolar Kanada.

USD turun sebanyak 0,9 persen terhadap euro dan pound Inggris, serta tertekan lebih dari 0,8 persen terhadap franc Swiss. Federal Reserve AS diperkirakan menaikkan suku bunga lagi pada pertemuan mendatang di Komite Pasar Terbuka Federal dari 25-26 September.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 251,22 poin atau 0,95 persen menjadi 26.656,98. Sedangkan S&P 500 meningkat sebanyak 22,80 poin atau 0,78 persen menjadi 2.930,75. Indeks Nasdaq Composite naik 78,19 poin atau 0,98 persen menjadi 8,028,23.

Indeks Dow Jones mencapai rekor tertinggi pertama sejak Januari dengan Caterpillar dan Intel di antara para pemenang. Saham kedua perusahaan naik lebih dari dua persen pada penutupan. Teknologi, bahan pokok konsumen dan material memimpin kenaikan dari 11 sektor utama S&P 500. Nasdaq teknologi berat kembali naik setelah sesi negatif sebelumnya.

(ABD)

Harga Minyak Sawit Malaysia Capai Titik Terendah

Jakarta: Harga minyak sawit berjangka Malaysia mencapai titik terendahnya pada perdagangan Rabu selama hampir dua bulan ini. Penurunan ini salah satunya disebabkan oleh penurunan minyak nabati, di samping para pedagang yang berharap stok lebih tinggi di negara-negara produsen.

Hasil analisa tim Monex Investindo Futures, Kamis, 20 September 2018, patokan minyak sawit kontrak untuk pengiriman Desember di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 1,8 persen pada 2.158 ringgit (USD520,83) per ton pada penutupan perdagangan untuk kerugian hari ketiga berturut-turut.

“Sentimen pasar melemah karena penurunan sawit luar negeri dan juga antisipasi kenaikan dalam saham,” kata seorang pedagang berjangka Futures yang berbasis di Kuala Lumpur, mengacu pada minyak nabati lainnya di Dewan Perdagangan Chicago AS dan Pertukaran Komoditas Dalian.

Stok minyak sawit akhir di Malaysia naik ke tertinggi tujuh bulan pada Agustus karena tingkat produksi meningkat dan ekspor turun, data regulator industri menunjukkan pekan lalu.

Pedagang lain menambahkan bahwa sentimen pasar juga dipengaruhi oleh masalah “Tiongkok-AS.”, Yang merujuk pada perselisihan perdagangan yang mendalam antara kedua negara. Sementara itu, kontrak minyak kedelai Januari di Dalian Commodity Exchange turun 1,2 persen dan kontrak minyak sawit Dalian Januari turun 1,7 persen.

Harga minyak sawit dipengaruhi oleh pergerakan minyak nabati lainnya yang bersaing di pasar minyak nabati global.

(AHL)

Jack Ma Batal Ciptakan 1 Juta Lapangan Kerja di AS

Jack Ma. (FOTO: AFP)

Beijing: Jack Ma, pendiri dari raksasa ritel Tiongkok, Alibaba, mengurungkan niat menciptakan satu juta pekerjaan di Amerika Serikat (AS), di tengah konflik perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Jack Ma membuat pernyataan resminya untuk menciptakan lapangan kerja jelang pertemuan tingkat tinggi dengan Donald Trump pada Januari 2017 sebelum Trump dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat. Adapun perubahan rencana sejalan dengan kebijakan Trump yang mengenakan tarif tinggi kepada Tiongkok.

“Janji itu dibuat atas dasar kemitraan ramah AS-Tiongkok dan hubungan perdagangan yang rasional. Premis itu sudah tidak ada lagi hari ini. Jadi janji kita tidak bisa dipenuhi,” kata Jack Ma, seperti dikutip dari CNBC, Kamis, 20 September 2018.

Meski demikian, Jack Ma yang baru-baru ini mengumumkan akan mengundurkan diri dari Chairman Alibaba menegaskan bahwa Alibaba tidak akan berhenti bekerja keras untuk berkontribusi pada perkembangan yang sehat dari perdagangan Tiongkok-AS. Alibaba siap terus tumbuh dan berkembang di masa-masa mendatang.

Komentar Ma datang usai Washington dan Beijing gagal mencapai kata sepakat untuk menyelesaikan kekhawatiran Trump tentang praktik perdagangan Tiongkok. Pada konferensi investor Alibaba, Ma juga menyebut friksi perdagangan sebagai kekacauan yang bisa memiliki dampak selama beberapa dekade.

Pemerintah Tiongkok sebelumnya disebut tidak akan tunduk pada tuntutan Amerika Serikat dalam negosiasi perdagangan, surat kabar China Daily yang dikelola negara mengatakan dalam sebuah editorial. Hal tersebut terungkap setelah para pejabat Tiongkok menyambut undangan dari Washington untuk sebuah pembicaraan baru.

Tiongkok dan Amerika Serikat akan kembali ke meja perundingan guna membahas sengketa perdagangan sejalan dengan ancaman tarif baru AS yang menjulang setelah Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin memberikan undangan kepada rekan-rekan di Beijing untuk bertemu.

Harian resmi China Daily mengatakan Tiongkok tetap serius untuk menyelesaikan sengketa perdagangan dengan AS. Namun, ditegaskan Tiongkok tidak akan tunduk dengan tuntutan AS meski ada kekhawatiran atas perlambatan ekonomi dan jatuhnya pasar saham. Tiongkok berharap pengenaan tarif yang tinggi bisa segera dihilangkan di antara kedua negara.

(AHL)

Harga Minyak Sawit Malaysia Tertekan Perang Dagang AS-Tiongkok

Ilustrasi petani sawit. (Foto: MI/Amiruddin Abdullah).

Jakarta: Harga minyak sawit berjangka Malaysia turun lebih dari dua persen ke level terendah dalam satu bulan karena ekspektasi kenaikan produksi.

Selain itu harga minyak sawit berjangka juga berada di bawah tekanan karena perang dagang AS-Tiongkok, sengketa perdagangan, dan kelemahan dalam minyak nabati yang terkait.

“Patokan minyak sawit kontrak untuk pengiriman Desember di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 2,2 persen ke 2.198 ringgit Malaysia (USD530,79) per ton pada akhir perdagangan,” demikian hasil riset tim analis Monex Investindo Futures, Rabu, 19 September 2018.

Adapun harga kontrak minyak sawit berjangka menyentuh level 2.195 ringgit Malaysia per ton selama sesi perdagangan, dan merupakan yang terendah sejak 15 Agustus.

“Produksi tampaknya akan datang,” tambah pedagang berjangka yang berbasis di Kuala Lumpur, seraya menambahkan bahwa perdagangan AS-Tiongkok juga membebani.

Presiden AS Donald Trump memberlakukan 10 persen tarif impor Tiongkok senilai USD200 miliar dan mengatakan jika Tiongkok mengambil tindakan pembalasan terhadap petani atau industri AS, maka akan segera mengejar tahap ketiga, yaitu tarif impor tambahan sekitar USD267 miliar.

Menteri Perdagangan Tiongkok mengatakan unilateralisme dan proteksionisme AS akan merugikan kepentingan AS dan Tiongkok, serta ekonomi global.

(AHL)

Bank Sentral Jepang Pertahankan Suku Bunga Acuan

Ilustrasi. Foto: AFP/Behrouz Mehri.

Tokyo: Bank of Japan (BoJ) memutuskan untuk mempertahankan kebijakan moneter tetap stabil pada Rabu waktu setempat (Kamis WIB), dan mempertahankan pandangan optimistisnya terhadap perekonomian dalam negeri. Keputusan itu diambil di tengah tensi ketegangan perdagangan global yang terus meningkat.

Dalam langkah yang komprehensif, BoJ mempertahankan target suku bunga jangka pendeknya di minus 0,1 persen dan berjanji untuk memandu imbal hasil obligasi 10 tahun pemerintah sekitar nol persen. Langkah ini sejalan dengan keinginan Pemerintah Jepang yang terus memacu laju pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, BoJ berjanji mempertahankan suku bunga rendah dalam jangka waktu yang panjang. Keputusan mempertahankan suku bunganya dibuat oleh 7-2 suara, dengan anggota dewan Goushi Kataoka dan Yutaka Harada tidak setuju.

“Perekonomian Jepang berkembang moderat,” kata BoJ dalam pernyataan yang mengumumkan keputusan kebijakan, seperti dikutip dari CNBC, Rabu, 19 September 2018. Gubernur BoJ Haruhiko Kuroda akan mengadakan konferensi pers pada pukul 3.30 sore waktu setempat untuk menjelaskan keputusan kebijakan lebih rinci.

Adapun inflasi yang rendah memaksa BoJ untuk mempertahankan stimulus besar lebih lama dari yang diharapkan, di mana BoJ mengambil tindakan pada Juli untuk membuat kerangka kebijakannya berkelanjutan seperti kemungkinan imbal hasil obligasi untuk bergerak lebih fleksibel di sekitar targetnya.

(HUS)

Miliarder Jepang jadi Turis Pertama yang Terbang ke Bulan

California: Seorang miliarder Jepang dan konglomerat busana online, Yusaku Maezawa, akan menjadi orang pertama yang menerbangkan roket SpaceX ke bulan pada awal 2023, dan ia berencana membawa enam hingga delapan seniman. Maezawa, 42, akan menjadi pengembara bulan pertama sejak misi Apollo AS terakhir pada 1972.

Ia membayar sejumlah uang yang tidak ditentukan untuk hak istimewa itu. “Sejak saya masih kecil, saya sangat menyukai bulan. Ini adalah impian seumur hidupku. Saya memilih untuk pergi ke bulan dengan seniman!” kata Maezawa, di markas SpaceX dan pabrik roket di Hawthorne, California, seperti dikutip dari AFP, Selasa, 18 September 2018.

Maezawa ingin mengundang seniman dari berbagai bidang termasuk pelukis, pematung, fotografer, musisi, sutradara film, perancang busana, dan arsitek dalam perjalanan menuju ke bulan. “Jika kamu harus mendengar dariku, tolong katakan ya dan terima ajakanku. Tolong jangan katakan tidak!” kata Maezawa.

Maezawa adalah kepala eksekutif dari pusat fesyen online terbesar di Jepang, dan merupakan orang terkaya ke-18 di Jepang dengan kekayaan USD3 miliar, menurut majalah bisnis Forbes. Hobi Maezawa yang lain adalah mengumpulkan karya seni modern yang bernilai dan tahun lalu ia mengumumkan akuisisi mahakarya Jean-Michel Basquiat senilai USD110,5 juta.

Kecintaannya pada seni membuatnya memutuskan untuk mengundang seniman untuk ikut ke bulan. “Saya ingin mengundang enam hingga delapan seniman dari seluruh dunia untuk bergabung dengan saya dalam misi ini ke bulan. Mereka akan diminta untuk membuat sesuatu setelah mereka kembali ke bumi,” kata Maezawa.

Sementara itu, CEO SpaceX Elon Musk menggambarkan Maezawa sebagai orang yang paling berani dan petualang terbaik. “Dia melangkah maju. Kami merasa terhormat dia memilih kami,” kata Musk. Musk menegaskan bahwa dia tidak akan mengungkapkan biaya yang diberikan Maezawa untuk perjalanan ke bulan.

“Ini berbahaya, harus jelas. Ini bukan jalan-jalan di taman,” tegas Musk memperingatkan.

Perjalanan akan berlangsung menggunakan Big Falcon Rocket (BFR). BFR pertama kali diumumkan pada 2016, dan disebut-sebut sebagai roket terkuat dalam sejarah, bahkan lebih kuat daripada roket Saturn V Moon yang meluncurkan misi Apollo lima dekade lalu.

Tahun lalu, Musk mengatakan, tujuan BFR yang diakui ambisius adalah melakukan uji terbang ke Mars pada 2022, diikuti oleh penerbangan awak ke Planet Merah pada 2024.

Musk memamerkan desain untuk BFR sepanjang 118 meter (129 yard), yang akan terdiri dari tahap pertama dengan mesin dan sistem bahan bakar, dan tahap kedua dengan pesawat ruang angkasa di mana penumpang akan naik. Musk memperkirakan pembangunan BFR akan memakan biaya USD5 miliar.

Kendati demikian, ini bukan pertama kalinya Musk bersumpah untuk mengirim turis mengelilingi bulan. Tahun lalu, ia mengatakan, sebanyak dua turis yang membayar akan mengelilingi bulan pada 2018, tetapi rencana itu tidak terwujud.

(AHL)

Trump Ancam Naikkan Tarif hingga 25% untuk Impor Tiongkok

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan memberlakukan pengenaan tarif 10 persen pada impor Tiongkok senilai USD200 miliar dan bea tersebut akan meningkat hingga 25 persen pada akhir tahun. Tindakan ini kembali meningkatkan konflik perdagangan karena Tiongkok telah mengancam akan membalas hal serupa kepada Amerika Serikat.

Gedung Putih menghapus sekitar 300 barang dari daftar produk yang terkena dampak sebelumnya, termasuk jam tangan pintar, beberapa bahan kimia, dan produk lainnya seperti helm sepeda dan kursi tinggi. Adapun keputusan Trump dilakukan lantaran belum menemukan kata sepakat dengan Tiongkok yang diklaim Trump menganggu keamanan nasional.

Trump, dalam sebuah pernyataannya mengatakan bahwa tarif akan naik menjadi 25 persen pada 1 Januari 2019. “Jika Tiongkok mengambil tindakan pembalasan terhadap petani kami atau industri lainnya, kami akan segera mengejar fase ketiga, yaitu tarif sekitar USD267 miliar dalam impor tambahan,” kata Trump, seperti dilansir dari CNBC, Selasa, 18 September 2018.

Tindakan itu hanya akan meningkatkan ketegangan antara Washington dan Beijing. Presiden Trump terus mencari perjanjian perdagangan baru di tengah keluhan tentang dugaan pencurian kekayaan intelektual oleh perusahaan Tiongkok dan adanya kekhawatiran tentang defisit perdagangan AS dengan Tiongkok.

Kedua belah pihak telah gagal mencapai kesepakatan untuk menyelesaikan persoalan terkait praktik perdagangan Tiongkok meskipun ada serangkaian pembicaraan. “Kami telah sangat jelas tentang jenis perubahan yang perlu dilakukan, dan kami telah memberi Tiongkok setiap kesempatan untuk memperlakukan kami lebih adil,” kata Trump dalam pernyataannya.

“Tapi, sejauh ini, Tiongkok tidak mau mengubah praktiknya,” klaim Trump. Presiden Trump telah mempertahankan kebijakan pengenaan tarifnya terhadap Tiongkok, meski ada kritikan dari anggota parlemen Republik dan potensi kerusakan politik. Bahkan, kebijakan tarif telah menganggu arus perdagangan dunia.

Sementara itu, President dan CEO National Association of Manufacturers (NAM) Jay Timmons mengatakan kebijakan memberlakukan tarif berisiko membatalkan hasil yang telah dicapai para produsen pada tahun lalu karena adanya perubahan reformasi pajak dan peraturan. Tentu hal ini sangat disayangkan karena menganggu alur bisnis yang sedang berjalan.

“Dengan setiap hari yang berlalu tanpa kemajuan pada perjanjian perdagangan bilateral dengan Tiongkok, potensi tumbuh untuk produsen dan pekerja manufaktur bisa terluka. Tidak ada yang menang dalam perang dagang, dan pekerja manufaktur berharap pendekatan pemerintah akan cepat memberikan hasil,” kata Timmons.

(AHL)