Dolar AS Terlibas Keperkasaan Poundsterling

New York: Kurs dolar Amerika Serikat (USD) memperpanjang pelemahannya di akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB), karena investor bertaruh bahwa Perdana Menteri Inggris Teresa May akan bertahan dari mosi tidak percaya dalam Partai Konservatif.

Mengutip Antara, Kamis, 13 Desember 2018, pada akhir perdagangan New York, euro naik menjadi USD1,1365 dari USD1,1326 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi USD1,2632 dari USD1,2528 pada sesi sebelumnya. Dolar Australia naik menjadi USD0,7219 dari USD0,7205.

Kemudian USD dibeli 113,21 yen Jepang, lebih rendah dibandingkan dengan 113,39 yen Jepang pada sesi sebelumnya. USD tidak berubah didekat 0,9928 franc Swiss dibandingkan dengan 0,9928 franc Swiss, dan turun menjadi 1,3350 dolar Kanada dibandingkan dengan 1,3396 dolar Kanada.

May mengalahkan upaya-upaya untuk menjatuhkannya pada Rabu 12 Desember, ketika 200 anggota parlemen Konservatif memilih dia tetap sebagai pemimpin partai, dibandingkan dengan 117 anggota parlemen yang tidak memberikan kepercayaan. Poundsterling kembali naik satu persen setelah May memenangkan pemungutan suara.

Kemenangan yang diperoleh dengan susah payah itu memastikan May akan terus bersaing mendapatkan dukungan untuk kesepakatan Brexit yang belum ditentukan tetapi telah disepakati oleh Brussels, yang dianggap oleh lawannya sebagai kompromi Inggris pada perdagangan dan hak-hak lainnya.

Namun, para analis mengatakan bahwa keraguan masih menggantung di pasar, tentang apakah May akan bisa mendapatkan kesepakatan perceraian Inggris-Uni Eropa melalui Parlemen Inggris nanti.

(ABD)

Pagi Ini, Sebagian Bursa Saham Asia Turun

Seoul: Sebagian bursa saham acuan di kawasan regional Asia seperti Korea Selatan, Jepang dan Australia dibuka melemah pada perdagangan pagi hari ini. 

Pasar saham Seoul dibuka lebih rendah pada perdagangan Senin pagi, 10 Desember 2018  dengan Indeks Harga Saham Gabungan Korea (KOSPI) melemah 21,54 poin atau 1,04 persen menjadi 2.054,22 poin dalam 15 menit pertama perdagangan. 

Kejatuhan bursa saham Korea mengikuti tren kejatuhan mata uang Korea Selatan yang berada pada 1.125,4 won terhadap dolar AS atau turun 5,6 won dari penutupan akhir pekan lalu.

Sementara itu Bursa saham Tokyo dibuka melemah tajam pada perdagangan Senin pagi, menyusul kerugian Wall Street pada akhir pekan lalu, dengan penguatan yen yang memberikan sentimen negatif bagi eksportir negara sakura itu.
    
Pada pukul 09.15 waktu setempat, indeks acuan Nikkei 225 di Bursa Efek Tokyo (TSE) jatuh 431,98 poin atau 1,99 persen, dari tingkat penutupan Jumat (7/12), menjadi diperdagangkan di 21.246,70 poin.

Indeks Topix yang lebih luas dari semua saham papan utama di pasar Tokyo turun 28,22 poin atau 1,74 persen, menjadi diperdagangkan di 1.592,23 poin.

Saham-saham yang berhubungan dengan alat listrik, mesin, dan kimia paling banyak mencatat kemerosotan di menit-menit pembukaan setelah bel perdagangan pagi.

Bursa Australia Anjlok 

Tak jauh berbeda dengan dua negara diatas, pasar saham Australia turun tajam pada perdagangan Senin pagi, karena ketegangan-ketegangan geopolitik membebani pikiran para investor.

Pada pukul 10.35 waktu setempat, indeks acuan S&P/ASX 200 turun 73,60 poin atau 1,30 persen menjadi diperdagangkan di 5.607,90 poin, sementara indeks All Ordinaries yang lebih luas turun 72,90 poin atau 1,27 persen pada 5.685,00 poin.

(SAW)

Pertemuan OPEC Berakhir Tanpa Keputusan Pengurangan Produksi

Wina: Tidak ada keputusan pengurangan produksi minyak diumumkan setelah pertemuan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) di Wina, Austria, pada Kamis waktu setempat (Jumat WIB). Organisasi minyak OPEC akan bernegosiasi dengan para sekutunya termasuk Rusia pada Jumat waktu setempat.

“Kami masih ingin Rusia untuk memotong sebanyak mungkin,” kata Menteri Energi Saudi Khalid al-Falih kepada wartawan, seperti dikutip dari Antara, Jumat, 7 Desember 2108. Permintaan Khalid itu karena tidak ada keputusan yang diumumkan setelah pertemuan.

OPEC diperkirakan menyetujui jumlah pemotongan produksi minyak dalam pertemuan Kamis 6 Desember, namun tidak ada pengumuman tentang kesepakatan pengurangan produksi minyak setelah beberapa jam pertemuan para pemompa minyak itu, dan pertemuan pers yang dijadwalkan dibatalkan.

OPEC akan membahas pemotongan produksi minyak gabungan dengan produsen Non-OPEC, termasuk Rusia pada Jumat waktu setempat (Sabtu WIB). Menteri Saudi mencatat sebelum pertemuan bahwa para produsen minyak sedang mencari pengurangan produksi yang cukup untuk menyeimbangkan pasar.

Di sisi lain, menambah dampak negatif, Amerika Serikat membukukan kenaikan dramatis dalam ekspor minyak mentahnya menjadi lebih dari 3,2 juta barel per hari pekan lalu, menurut laporan mingguan Badan Informasi Energi AS pada Kamis 6 Desember.

Tingkat ekspor tersebut melebihi tingkat impor, menjadikan  produsen minyak utama dunia itu sebagai eksportir bersih untuk pertama kalinya dalam 75 tahun. Meskipun persediaan minyak mentah AS turun menjadi 443,2 juta barel dalam seminggu yang berakhir 30 November, jumlahnya masih sekitar 6,00 persen di atas rata-rata lima tahun, kata laporan itu.

(ABD)

Qatar Bersiap Hengkang dari OPEC

Doha: Qatar memutuskan hengkang dari lingkaran Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC). Hal itu diumumkan langsung Menteri Energi Qatar Saad Sherida al-Kaabi, Senin, 3 Desember 2018.

Keputusan keluar dari blok yang mencakup 15 negara penghasil minyak bumi terbesar turut dikonfirmasi Qatar Petroleum, perusahaan minyak negara tersebut.

Dalam konferensi pers di Doha, Al-Kaabi menjelaskan latar belakang Qatar menarik diri dari OPEC dilandasi keinginan untuk fokus terhadap upaya pengembangan dan peningkatan produksi gas alam. “Kami ingin menaikkan produksi dari 77 juta ton menjadi 110 juta ton setiap tahunnya,” jelas Al-Kaabi.

Keluarnya Qatar menorehkan sejarah baru, yakni sebagai negara Teluk pertama yang meninggalkan blok penghasil minyak terbesar dunia. Sebagai informasi, Qatar bergabung dengan OPEC pada 1961, satu tahun setelah pendirian organisasi tersebut.

Charlotte Bellis, koresponden Al-Jazeera, mengatakan keputusan Qatar muncul beberapa hari menjelang pertemuan OPEC pada 6 Desember 2018.

“Mereka mengatakan hal ini tidak ada hubungannya dengan blokade di Qatar. Mereka sudah memikirkannya dalam beberapa bulan terakhir,” ucap Bellis, merujuk pada blokade diplomatik di Qatar yang digulirkan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, dan Bahrain.

Lebih lanjut, Bellis mengungkapkan pandangan Qatar yang memutuskan segera hengkang dari OPEC sebelum akhir tahun.

“Mereka mengatakan ingin melakukan ini sekarang juga agar semua menjadi transparan menjelang pertemuan OPEC,” imbuhnya.

Tercatat, sejak 2013, volume produksi minyak Qatar terus mengalami penurunan. Dari 728 ribu barel per hari (bph) per 2013, menjadi sekitar 607 ribu bph per 2017. Sementara itu, total produksi termasuk gas bumi, meningkat pada periode yang sama, yakni dari 30,7 juta bph menjadi 32,4 juta bph.

Awal pekan ini, OPEC dan Rusia, yang menghasilkan sekitar 40 persen dari total produksi minyak dunia, sepakat untuk memangkas produksi minyak baru. Tujuannya untuk mengantisipasi penurunan harga minyak dunia dalam beberapa bulan mendatang.

Pada Oktober ini, harga minyak dunia sempat mencapai level ter tinggi dalam empat tahun terakhir, yakni USD86 per barel. Namun, sejak itu harga minyak dunia anjlok ke level USD60 per barel.

Bagaimanapun, Qatar merupakan pemasok gas alam cair (LNG) terbesar yang menghasilkan hampir 30 persen dari total produksi global. Al-Kaabi menekankan deklarasi keluarnya Qatar dari OPEC murni sebagai keputusan bisnis.

“Al-Kaabi berpendapat Qatar ialah pemain kecil di OPEC sehingga tidak masuk akal bagi mereka untuk fokus pada hal yang bukan menjadi kekuatan mereka. Gas dalam hal ini ialah kekuatan mereka sehingga keputusan itu keluar,” papar Bellis menirukan perspektif Al-Kaabi. (Media Indonesia)

(AHL)

Ekonomi Inggris Tertekan Akibat Skenario Brexit

London: Pemerintah Inggris mengeluarkan laporan perkiraan ekonomi yang menunjukkan Inggris dapat melihat penurunan sebanyak 3,9 persen dalam Produk Domestik Bruto (PDB) selama 15 tahun mendatang. Kondisi itu bisa terjadi di bawah rencana Brexit atau keputusan keluar dari Uni Eropa oleh Perdana Menteri Theresa May.

Mengutip Xinhua, Sabtu, 1 Desember 2018, laporan sebanyak 83 halaman yang diproduksi bersama oleh berbagai departemen di seluruh Pemerintah Inggris termasuk Departemen Keuangan memodelkan beberapa hasil Brexit yang berbeda, dan membandingkannya dengan pertumbuhan PDB saat ini.

Pemerintah tidak memberikan secara rinci berapa besar biaya yang dikeluarkan dari jenis Brexit ini, tetapi media Inggris melaporkan para ahli memperkirakan kondisi itu akan memiliki efek debit tahunan sebesar 100 miliar pound (USD128,3 miliar) selama 15 tahun dari sekarang.

Dalam hal hasil terburuk, No Deal Brexit, yang akan terjadi jika Inggris dan Uni Eropa tidak mendukung kesepakatan yang dicapai antara May dan Uni Eropa, adalah PDB Inggris akan turun sebanyak 9,3 persen dalam waktu 15 tahun daripada jika Inggris tetap di Uni Eropa.

Beberapa hasil Brexit dimodelkan dalam laporan pemerintah. Laporan itu mengatakan di bawah kesepakatan gaya Kanada, Inggris akan 4,9 persen lebih buruk dari yang tersisa di Uni Eropa. Sementara hasil Brexit yang paling menguntungkan terlihat jika Inggris memiliki perdagangan yang sehat dan menjaga pergerakan orang secara bebas.

Model terakhir itu memperlihatkan bahwa ekonomi Inggris hanya terpukul sebanyak 1,4 persens. Jika Inggris mempertahankan perdagangan tanpa gesekan tetapi membatasi pergerakan bebas orang, akan ada penurunan ekonomi sebanyak 2,5 persen.

(ABD)

Harga Minyak Dunia Terus Merosot

Ilustrasi. (FOTO: AFP)

New York: Harga minyak mentah dunia melemah pada perdagangan Selasa waktu setempat. Pelemahan ini terjadi di tengah harapan bahwa eksportir minyak akan setuju untuk memangkas produksi pada pertemuan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) pekan depan.

Melansir Xinhua, Rabu, 28 November 2018, harga minyak jatuh ke level terendah sejak Oktober lalu karena kekhawatiran kelebihan pasokan.

Harga minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Januari turun 7 sen dolar AS menjadi USD51,56 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara minyak mentah Brent untuk pengiriman Januari merosot 0,27 dolar AS menjadi USD60,21 per barel di London ICE Futures Exchange.

Investor tetap ragu tentang potensi pemotongan pasokan, yang berada di puncak agenda pertemuan antara OPEC yang dipimpin Saudi dan sekutu-sekutunya pada 6 Desember di Wina.

Trump telah berulang kali meminta OPEC untuk tidak memangkas produksi karena berpikir harga minyak akan terus turun.

Sejak presiden mendukung Pangeran Mahkota Saudi Mohammed bin Salman atas kematian jurnalis Jamal Khashoggi, para analis mengatakan bahwa Arab Saudi mungkin tidak akan menghadapi Washington soal harga minyak.

(AHL)

Ekonomi AS Diperkirakan Alami Resesi di 2020

New York: Dipotong oleh kebijakan pemotongan pajak pada tahun ini, kinerja perekonomian Amerika Serikat (AS) memuncak pada kuartal kedua dan diperkirakan semakin kehilangan tenaga pada 2019 dengan pertumbuhan ekonomi kian melambat serta adanya peluang terjadinya resesi.

Mengutip CNBC, Sabtu, 24 November 2018, kondisi itu yang menjadi salah satu alasan besar pasar saham telah melemah karena pembeli bergegas ke surat utang dan tingkat utang perusahaan membengkak lebih tinggi. Pandangan investor, pada kenyataannya, mungkin bahkan lebih suram daripada pandangan para ekonom.

Perusahaan-perusahaan besar minggu ini telah merilis perkiraan untuk tahun depan, dan Goldman Sachs dan JP Morgan melihat pertumbuhan melambat menjadi di bawah dua persen pada paruh kedua di 2019. Tetapi pada saat yang sama, kedua perusahaan mengharapkan Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan sebanyak empat kali.

Para ekonom menunjukkan sejumlah faktor untuk pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat, tetapi memuncaki daftar faktor yang menakutkan untuk pasar adalah kenaikan suku bunga the Fed serta dampak dari tarif dan perang perdagangan, jika mereka terus berlanjut.

Para ekonom tidak memperkirakan resesi tahun depan, tetapi pada 2020, sepertinya bisa terjadi, beberapa ekonom mengatakan. Kondisi itu dengan alasan pertumbuhan ekonomi yang mulai kehilangan tenaga dan adanya penyesuaian suku bunga acuan dari the Fed.

“Itu tergantung pada the Fed. Jika mereka terus mengikuti lintasan saat ini (menaikkan suku bunga acuan) saya pikir (ada resesi di) paruh pertama di 2020,” kata Kepala Ekonom Amerika di Natixis Joseph LaVorgna. LaVorgna mengharapkan pertumbuhan 2,5 persen tahun depan, meskipun lebih lambat di paruh kedua.

Harga saham sekarang terbilang datar untuk tahun ini, setelah penurunan hampir sembilan persen di S&P 500 sejak September. Lebih dari 40 persen saham di S&P 500 telah melihat setidaknya penurunan 20 persen, mencapai level pasar lesu. Pada saat yang sama, selisih kredit telah melebar baik di tingkat imbal hasil hingga level investment grade.

“Lihat betapa banyak hal telah diperketat. Jika Anda melihat ke seluruh dunia, ada perlambatan pertumbuhan uang dan peningkatan imbal hasil di seluruh dunia, dan biasanya ketika Anda mengencangkan seperti itu, ini yang terjadi,” kata Kepala Strategi Investasi Leuthold Group James Paulsen.

(ABD)

Data Ekonomi Negatif Runtuhkan Dolar AS

New York: Kurs dolar Amerika Serikat (USD) melemah terhadap sebagian besar mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB). Pelemahan USD terjadi karena investor mencerna serangkaian laporan ekonomi yang umumnya negatif.

Mengutip Antara, Kamis, 22 November 2018, indeks USD, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,13 persen menjadi 96,7119 di akhir perdagangan. Pada akhir perdagangan New York, euro meningkat menjadi USD1,1388 dari USD1,1367 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun menjadi USD1,2780 dari USD1,2784 di sesi sebelumnya.

Sedangkan dolar Australia naik menjadi USD0,7264 dibandingkan dengan USD0,7218. USD dibeli 113,07 yen Jepang, lebih tinggi dibandingkan dengan 112,72 yen Jepang pada sesi sebelumnya. USD turun menjadi 0,9944 franc Swiss dibandingkan dengan 0,9949 franc Swiss, dan turun menjadi 1,3254 dolar Kanada dari 1,3314 dolar Kanada.

Pesanan baru AS untuk barang tahan lama yang diproduksi pada Oktober turun 4,4 persen menjadi USD248,5 miliar, menandai persentase penurunan terbesar dalam 15 bulan, Departemen Perdagangan AS mengumumkan.

Klaim pengangguran mingguan AS naik ke tingkat tertinggi dalam lebih dari empat bulan. Klaim awal untuk tunjangan pengangguran meningkat 3.000 menjadi 224.000 disesuaikan secara musiman untuk pekan yang berakhir 17 November, level tertinggi sejak akhir Juni, kata Departemen Tenaga Kerja AS.

Sementara itu, indeks sentimen konsumen mencapai 97,5 pada November, menurut survei konsumen bulanan Universitas Michigan pada Rabu 21 November. Angka itu lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 98,3 dan juga turun dari 98,6 pada Oktober.

(ABD)

Surplus Perdagangan Jepang dengan AS Menyusut

Tokyo: Surplus perdagangan Jepang yang sensitif secara politik dengan Amerika Serikat (AS) semakin menyusut pada Oktober dan merupakan penurunan bulanan keempat berturut-turut, data resmi menunjukkan.

Di sisi lain, AS tengah berupaya menjaga postur perekonomian lebih sehat terutama dari sisi defisit perdagangan.

Mengutip Xinhua, Senin, 19 November 2018, angka tersebut juga menunjukkan defisit perdagangan global secara keseluruhan, karena peningkatan impor minyak mentah dan gas alam cair membanjiri peningkatan ekspor mobil dan mesin.

Surplus Jepang dengan AS mencapai USD573,4 miliar yen (USD5 miliar) pada Oktober, turun sebanyak 11,0 persen secara tahun ke tahun.

Ekspor mobil, mesin, dan mesin yang digunakan untuk pesawat meningkat. Sementara impor biji-bijian, gas, dan minyak mentah meningkat. Presiden AS Donald Trump membidik Jepang sebagai target berikutnya setelah Tiongkok, saat ia berusaha untuk mengurangi defisit perdagangan AS.

Wakil Presiden AS Mike Pence menegaskan kembali posisi Washington pekan lalu bahwa bisnis AS telah menghadapi hambatan yang tidak adil di Jepang. AS berharap terdapat perdagangan yang lebih adil agar nantinya perdagangan AS bisa berkontribusi positif terhadap perekonomian secara keseluruhan.

“Amerika Serikat telah mengalami ketidakseimbangan perdagangan dengan Jepang terlalu lama. Produk dan layanan Amerika terlalu sering menghadapi hambatan untuk bersaing secara adil di pasar Jepang,” kata Mike Pence, setelah pembicaraan dengan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe di Tokyo.

Jepang telah menyaksikan sebuah peristiwa ketika Pemerintah Trump mengenakan tarif atas barang-barang Tiongkok dan mengkritik Beijing atas kebijakan mata uangnya. Pejabat AS dan Jepang diperkirakan memulai melakukan pembicaraan perdagangan pada Januari.

Jepang membukukan defisit perdagangan global keseluruhan mencapai sebesar 449,3 miliar yen (USD4 miliar), defisit pertama dalam dua bulan terakhir, karena impor naik 19,9 persen dan ekspor tumbuh hanya 8,2 persen. Defisit dengan mitra dagang terbesarnya Tiongkok melonjak 52,1 persen, mencatat defisit bulanan ketujuh berturut-turut.

(AHL)

Dolar AS Depak Poundsterling

New York: Kurs dolar Amerika Serikat (USD) menguat terhadap mata uang utama lainnya di akhir perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat WIB), karena kesepakatan rancangan perjanjian Brexit atau keputusan Inggris keluar dari Uni Eropa menghadapi ketidakpastian baru di tengah krisis politik di Inggris.

Mengutip Antara, Jumat, 16 November 2018, indeks USD yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, meningkat 0,13 persen menjadi 96,9293 di akhir perdagangan. Pada akhir perdagangan New York, euro naik menjadi USD1,1348 dari USD1,1338 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris turun menjadi USD1,2779 dari USD1,3036 pada sesi sebelumnya.

Sementara itu, dolar Australia meningkat menjadi USD0,7290 dibandingkan dengan USD0,7246. USD dibeli 113,59 yen Jepang, lebih tinggi dibandingkan dengan 113,48 yen Jepang pada sesi sebelumnya. USD naik ke 1,0057 franc Swiss dibandingkan dengan 1,0046 franc Swiss, dan turun menjadi 1,3170 dolar Kanada dibandingkan dengan 1,3225 dolar Kanada.

Mata uang poundsterling jatuh pada perdagangan Kamis 15 November setelah menteri Inggris mengundurkan diri sebagai protes terhadap rancangan perjanjian Brexit, yang menyalakan kembali ketakutan kepergian Inggris dari Uni Eropa yang kacau dalam waktu tersesia 4,5 bulan.

Poundsterling mencatat kerugian satu hari terburuk terhadap euro sejak Oktober 2016. Terhadap yen, poundsterling mencatat penurunan harian tertajam sejak akhir Februari. Pedagang berbondong-bondong beralih ke mata uang safe haven seperti USD dan yen, karena poundsterling berputar cepat minggu ini atas Brexit.

Pada Kamis 15 November, Perdana Menteri Inggris Theresa May mengatakan dia memenangkan dukungan dari menteri-menteri seniornya untuk membuat perjanjian perceraian, tetapi banyak di pemerintahannya tidak yakin dan pada Kamis waktu setempat menteri Brexit Inggris Dominic Raab, dan menteri lainnya, mengundurkan diri.

“Ketidakpastian politik yang meningkat di Inggris menjaga poundsterling dalam gejolak yang dalam. Poundsterling mempesona, bergantian antara keuntungan dan kerugian, setelah menteri Brexit Inggris mengundurkan diri,” tulis Analis Western Union Business Solutions dalam sebuah catatan penelitian.

(ABD)

Penguatan USD Hantam Dua Mata Uang Utama

New York: Kurs dolar Amerika Serikat (USD) mencapai tingkat tertinggi 16-bulan terhadap sekeranjang mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Senin waktu setempat (Selasa WIB). Hal itu terjadi karena investor meningkatkan taruhan untuk kenaikan suku bunga the Fed, serta risiko-risiko politik di Eropa memberikan tekanan terhadap euro dan pound.

Mengutip Antara, Selasa, 13 November 2018, ketakutan tentang tidak adanya kesepakatan Brexit dan meningkatnya keretakan di Eropa atas anggaran Italia juga telah mendorong USD menguat. Greenback pulih kembali sejak the Fed mengindikasikan bahwa pihaknya akan menaikkan suku bunga pinjaman lebih lanjut karena ekspansi ekonomi AS tetap di jalurnya.

“Meningkatnya ketidakpastian global dan perbedaan imbal hasil AS yang melebar dengan negara lain memberikan dukungan, tetapi valuasi yang tinggi dapat membatasi keuntungan lebih lanjut,” kata Kepala Strategi Investasi Global BlackRock Richard Turnill.

Sebuah indeks yang melacak USD terhadap euro, yen, poundsterling dan tiga mata uang lainnya naik 0,64 persen menjadi 97,527. Indeks ini mencapai 97.578 pada Senin pagi, yang merupakan tertinggi sejak Juni 2017. Kenaikan indeks USD dibatasi oleh aksi jual tajam di Wall Street di mana S&P 500 kehilangan 1,21 persen.

Perdagangan AS diredam oleh liburan Hari Veteran AS. Sementara Wall Street dan pasar mata uang dibuka untuk bisnis, pasar obligasi AS ditutup. Poundsterling jatuh karena meningkatnya keraguan atas kemampuan Perdana Menteri Inggris Theresa May untuk mendapatkan dukungan dari Uni Eropa dan partainya sendiri untuk setiap kesepakatan Brexit.

Dengan kurang dari lima bulan sebelum Inggris akan meninggalkan Uni Eropa pada 29 Maret 2019, negosiasi masih terhenti tentang bagaimana mencegah kembalinya ke perbatasan keras antara Irlandia Utara yang dikuasai Inggris dan Irlandia anggota Uni Eropa.

Poundsterling turun 0,98 persen pada USD1,2852 dan euro sedikit lebih rendah terhadap pound di 87,455 pence. Euro terpukul mundur oleh kekhawatiran tentang ketegangan Roma dengan Komisi Eropa atas anggaran Italia 2019 dan kelemahan di sektor perbankan Italia.

(ABD)

Pasar Lesu, Minyak AS Tertekan ke USD60/Barel

Ilustrasi. (FOTO: AFP)

New York: Harga minyak mentah dunia terus tertekan hingga akhir perdagangan Jumat waktu setempat. Minyak mentah AS telah memasuki wilayah bear market (pasar lesu) karena kekhawatiran pasokan yang berlebihan dan menyusutnya permintaan.

Mengutip Antara, Sabtu, 10 November 2018, minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember turun USD0,48 menjadi USD60,19 per barel di New York Mercantile Exchange.

Sedangkan harga patokan global, minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember turun USD0,47 per barel menjadi USD70,18 di London ICE Future Exchange.

Melansir Xinhua, perusahaan data lokal melaporkan pada Jumat, 9 November 2018 menandai penurunan hari ke-100 berturut-turut, penurunan beruntun terpanjang dalam catatan minyak mentah AS sejak 1984.

Kekhawatiran tentang membanjirya pasokan telah membuat pasar menjadi suram. Persediaan minyak mentah AS mencatat peningkatan mingguan ketujuh berturut-turut, menurut laporan dari Badan Informasi Energi AS (EIA).

EIA juga memproyeksikan bahwa produksi minyak AS akan mencapai rata-rata 12,1 juta barel per hari pada 2019, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya.

Adapun untuk pertama kalinya pada Oktober, Rusia, AS, dan Arab Saudi secara kolektif menghasilkan lebih dari 33 juta barel per hari. Jumlah ini sepertiga dari konsumsi minyak mentah dunia yang hampir mencapai 100 juta barel per hari.

(AHL)

Dolar AS Masih Bertahan di Zona Hijau

New York: Kurs dolar Amerika Serikat (USD) naik tipis terhadap mata uang utama lainnya di akhir perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB). Kenaikan tipis itu karena investor tetap berhati-hati tentang hasil yang akan datang dari pemilihan paruh waktu Amerika Serikat (AS).

Mengutip Antara, Rabu, 7 November 2018, pada akhir perdagangan New York, euro jatuh menjadi USD1,1412 dari USD1,1417 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris meningkat menjadi USD1,3093 dari USD1,3048 pada sesi sebelumnya. Dolar Australia turun menjadi USD0,7215 dibandingkan dengan USD0,7216.

Sementara itu, USD dibeli 113,39 yen Jepang, lebih tinggi dibandingkan dengan 113,22 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Kemudian USD turun menjadi 1,0032 franc Swiss dibandingkan dengan 1,0039 franc Swiss, dan meningkat menjadi 1,3139 dolar Kanada dibandingkan dengan 1,3108 dolar Kanada.

Investor terus mencermati apakah Demokrat akan mencengkeram kembali kendali Dewan Perwakilan AS dan Republik akan memegang mayoritas Senat. Para analis percaya bahwa Kongres AS yang terpecah akan merusak nilai USD untuk jangka pendek.

Greenback baru-baru ini telah didorong oleh laporan pekerjaan yang kuat pada Jumat 2 November, yang mencatat kenaikan tajam dalam lapangan pekerjaan dan pendapatan rata-rata, serta tingkat pengangguran yang tidak berubah.

Investor tetap positif bahwa data pekerjaan yang cerah akan mendorong Federal Reserve AS untuk menaikkan suku bunga acuan lagi pada Desember, yang pada gilirannya akan menambah nilai USD di pasar global.

(ABD)