Harga Minyak Dunia Berpeluang Tembus USD100/Barel

Singapura: Harga minyak bisa naik menuju USD100 per barel menjelang akhir tahun atau pada awal 2019. Hal itu karena sanksi yang diberikan kepada Iran mulai dilaksanakan secara penuh, kata pedagang komoditas, Trafigura dan Mercuria di Asia Pacific Petroleum Conference (APPEC) di Singapura.

Presiden Pedagang Komoditas Mercuria Energy Trading Daniel Jaeggi mengatakan hampir 2 juta barel per hari (bph) minyak mentah dapat dibawa keluar dari pasar sebagai akibat dari sanksi-sanksi AS terhadap Iran pada akhir kuartal keempat tahun ini. Hal itu membuat harga minyak mentah mungkin melonjak menjadi USD100 per barel.

“Kami berada di ambang beberapa gejolak signifikan pada kuartal keempat 2018 karena tergantung pada tingkat keparahan dan durasi sanksi-sanksi Iran di mana pasar sama sekali tidak memiliki respons penawaran yang memadai untuk hilangnya minyak 2 juta barel per hari dari pasar,” kata Jaeggi, seperti dikutip dari Antara, Selasa, 25 September 2018.

Washington telah menerapkan sanksi-sanksi keuangan terhadap Iran dan berencana untuk menargetkan ekspor minyak negara itu mulai 4 November yang bertujuan menekan negara-negara lain untuk juga memotong impor minyak mentah Iran.

Sementara itu, Ketua Bersama Perdagangan Minyak Trafigura Ben Luckock menambahkan, harga minyak mentah bisa naik menjadi USD90 per barel pada Natal dan USD100 pada Tahun Baru karena pasar mengetat.

Harga minyak telah meningkat sejak awal 2017, ketika Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) bersama dengan pemasok lain termasuk Rusia, mulai menahan produksi mereka untuk mengangkat nilai minyak mentah.

Gangguan yang tidak direncanakan dari Venezuela hingga Libya dan Nigeria semakin memperketat pasar ketika permintaan global mendekati 100 juta barel per hari untuk pertama kalinya. Ancaman gangguan serta pemotongan pasokan awal telah membantu mengangkat minyak mentah Brent berjangka ke hampir USD80 per barel bulan ini, level yang tidak terlihat sejak 2014.

(ABD)

Intervensi Bank Sentral Argentina Berhasil Topang Peso

Buenos Aires: Beberapa intervensi oleh Bank Sentral Argentina (BCRA) untuk menopang mata uang nasionalnya yang melemah telah berhasil mendorong peso menguat. Dolar Amerika Serikat (USD) diperdagangkan pada 37,90 peso di akhir perdagangan, menurut kurs yang dicatat oleh perusahaan milik negara Banco Nacion.

Mengutip Antara, Selasa, 25 September 2018, kurs yang diterapkan pada bank dan entitas lain yang melakukan transaksi dalam jumlah besar adalah 37,30 peso terhadap USD.

Pada awal perdagangan, BCRA menjual sekitar USD250 juta dalam cadangannya untuk membantu meningkatkan mata uang peso Argentina, yang telah kehilangan setengah nilainya sejak Januari, ketika peso diperdagangkan pada 18 peso terhadap USD.

Pekan lalu, pemerintah mengeluarkan lebih banyak surat utang dalam bentuk surat utang jangka pendek ketika bank menjual cadangannya. Langkah tersebut memungkinkan peso memperoleh kembali nilainya lebih dari enam persen.

Argentina telah meminta Dana Moneter Internasional atau Internatioal Monetary Fund (IMF) untuk mempercepat pencairan pinjaman USD50 miliar yang diberikan negara itu awal tahun ini. Pemerintahan Presiden Mauricio Macri menginginkan pembayaran yang dijadwalkan untuk 2020 dan 2021 dipercepat menjadi 2019.

Menurut Menteri Ekonomi Nicolas Dujovne, jika IMF setuju, itu akan menandakan investor bahwa lembaga itu memiliki kepercayaan terhadap ekonomi Argentina dan kemampuannya untuk membayar kembali pinjaman, membantu memperkuat peso dan menstabilkan nilai tukar.

(ABD)

Harga Minyak Melonjak Usai OPEC Pertahankan Tingkat Produksi

New York: Harga minyak dunia mencatat kenaikan kuat pada akhir perdagangan Senin waktu setempat (Selasa WIB), karena produsen-produsen minyak utama menolak berkomitmen meningkatkan tambahan produksi minyak mentah guna mengatasi gangguan pasokan.

Mengutip Antara, Selasa, 25 September 2018, minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November naik sebanyak USD1,30 menjadi USD72,08 per barel di New York Mercantile Exchange.

Sementara itu, patokan global, minyak mentah Brent untuk pengiriman November bertambah USD2,40 menjadi berakhir di USD81,20 per barel di London ICE Futures Exchange, setelah menyentuh tingkat USD81,39 atau tertinggi sejak November 2014.

Pertemuan Komite Pemantau Bersama Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan non-OPEC (JMMC) di Aljazair, memutuskan untuk mempertahankan tingkat produksi minyak saat ini, di tengah desakan dari AS untuk meningkatkan produksi minyak dalam upaya untuk mengekang harga-harga yang meningkat.

Pemimpin OPEC Arab Saudi dan produsen minyak terbesar lainnya di luar kelompok itu, Rusia, secara efektif menolak permintaan Trump untuk bergerak mendinginkan pasar. “Tidak ada kesepakatan untuk meningkatkan produksi, dan harga minyak pada USD80 per barel akan lebih baik bagi produsen dan konsumen,” kata Menteri Energi Arab Saudi, Khalid al-Falih.

“Saya tidak memengaruhi harga,” tambahnya.

Trump mengatakan pekan lalu bahwa OPEC harus menurunkan harga, tetapi Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh mengatakan bahwa OPEC tidak menanggapi permintaan Trump secara positif. Para analis mengatakan dorongan beli meningkat saat ini mungkin akan berlanjut hingga akhir tahun ini di tengah ancaman sanksi-sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran.

“Pasar masih didorong oleh kekhawatiran tentang pasokan dari Iran dan Venezuela,” kata Direktur Riset Pasar Tradition Energy Gene McGillian, di Stamford.

(ABD)

Emas Berjangka Melesat Jelang Pertemuan The Fed

Chicago: Emas berjangka di divisi Comex New York Mercantile Exchange naik tipis pada akhir perdagangan Senin waktu setempat (Selasa WIB). Penguatan dapat terjadi lantaran investor menunggu pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve AS pekan ini.

Mengutip Antara, Selasa, 25 September 2018, kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Desember naik USD3,1 atau 0,26 persen menjadi ditutup pada USD1.204,4 per ons. Indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya, turun tipis 0,01 persen menjadi 94,21 pada pukul 17.55 GMT.

Emas biasanya bergerak ke arah yang berlawanan dengan dolar AS, yang berarti jika dolar AS melemah maka emas berjangka akan naik, karena emas yang dihargakan dalam dolar AS menjadi lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang lainnya.

Adapun logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Desember turun 1,8 sen dolar atau 0,13 persen menjadi menetap di USD14,341 per ons. Platinum untuk penyerahan Oktober turun sebanyak USD0,3 atau 0,04 persen menjadi ditutup pada USD829,3 per ons.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average turun 181,45 poin atau 0,68 persen menjadi ditutup di 26.562,05 poin. Indeks S&P 500 turun 10,30 poin atau 0,35 persen, menjadi berakhir di 2.919,37 poin. Indeks Komposit Nasdaq ditutup 6,29 poin atau 0,08 persen lebih tinggi, menjadi 7.993,25 poin.

Saham Caterpillar dan Boeing, perusahaan-perusahaan dengan eksposur pendapatan luar negeri yang tinggi, keduanya menurun lebih dari satu persen, pada penutupan perdagangan. Sedangkan ExxonMobil dan Apple termasuk di antara yang berkinerja terbaik dalam komponen Dow. Saham kedua perusahaan tersebut, masing-masing maju 1,68 persen dan 1,44 persen.

Sebanyak tujuh dari 11 sektor utama dalam S&P 500 diperdagangkan lebih rendah, dengan sektor real estat dan konsumen memimpin penurunan. Sementara sektor teknologi ditutup 0,3 persen lebih tinggi, yang mendukung Nasdaq.

(ABD)

Turki Siap Memerangi Krisis Mata Uang Lira

Istanbul: Menteri Keuangan Turki Berat Albayrak telah memangkas target pertumbuhan ekonomi negara itu dan berjanji untuk memotong belanja publik hampir USD10 miliar. Kebijakan itu diambil karena Turki berusaha membangun kembali kepercayaan pasar yang hancur dan menemukan jalan keluar dari krisis mata uang.

Mengutip CNBC, Sabtu, 22 September 2018, para investor menyambut baik keputusan dari Berat Albayrak, yang bertanggung jawab atas ekonomi, untuk mengurangi proyeksi pertumbuhan menjadi 3,8 persen pada 2018 dan 2,3 persen pada 2019. Target sebelumnya 5,5 persen untuk kedua tahun tersebut. Perubahan proyeksi sejalan dengan terjadinya krisis mata uang.

Lira Turki mengalami gejolak setelah pengumuman itu, tetapi pertengahan sore diperdagangkan pada 6,25 terhadap dolar Amerika Serikat (USD). Mata uang Turki telah kehilangan 40 persen nilainya terhadap greenback sejak awal tahun ini. Bulan lalu Turki jatuh ke dalam krisis mata uang besar-besaran setelah berselisih dengan AS.

Lira tergelincir akibat penumpukan tekanan pada korporasi yang dibebani dengan utang mata uang asing dan bank yang meminjamkan uang kepada mereka. Kondisi tersebut juga telah mengirim kegugupan melalui pasar negara berkembang lainnya di tengah kekhawatiran penularan yang lebih luas.

Investor telah khawatir pada manajemen ekonomi negara di bawah kepemimpinan Presiden Erdogan, yang mencerca terhadap suku bunga tinggi dan bersikeras bahwa pertumbuhan yang tinggi adalah prioritas.

Keputusan mengejutkan oleh bank sentral Turki untuk menaikkan suku bunga acuan secara tajam dipandang sebagai tanda selamat datang bahwa Ankara bersedia mengambil langkah untuk membangun kembali kepercayaan investor internasional.

Meski banyak ekonom sekarang memperkirakan resesi akan terjadi pada tahun depan, namun target pertumbuhan ekonomi yang diproyeksikan lebih rendah dipandang sebagai langkah penting dalam membangun kenaikan suku bunga.

“Program ekonomi baru didasarkan pada PDB dan asumsi inflasi yang lebih realistis,” kata Kepala Ekonom untuk Turki di Bank Spanyol BBVA Alvaro Ortiz Vidal-Abarca, seraya menambahkan bahwa ada rencana pemerintah bersedia menerima pertumbuhan yang lebih rendah tetapi lebih berkelanjutan.

(ABD)

Kesepakatan NAFTA Baru Diharap Segera Tercapai

Laredo: Ketika genderang perang perdagangan semakin keras, sekelompok pemimpin bisnis dan eksekutif bertemu di kota perbatasan Texas yang berdebu. Pertemuan dilakukan untuk membahas perdagangan internasional dan arah masa depan lantaran Amerika Serikat dari waktu ke waktu semakin bertentangan dengan sejumlah negara.

Simposium Logistik & Manufaktur tahunan Amerika Utara selama dua hari ditutup di Laredo, sebuah kota yang dibangun di sepanjang Sungai Rio Grande, sebuah perairan sempit namun panjangnya hampir 2.000 mil dan merupakan bagian dari perbatasan yang memisahkan antara Amerika Serikat dan Meksiko.

Mengutip Xinhua, Sabtu, 22 September 2018, sebuah kota metropolitan yang luas dengan jumlah penduduknya sekitar 250 ribu orang di mana Laredo hampir tidak dikenal sebagai tujuan konvensi yang diinginkan, tetapi karena lokasinya itu bisa menjadi kunci medan pertempuran dalam hal ketegangan perdagangan.

Lebih dari USD557 miliar dalam impor dan ekspor melewati kota tersebut pada 2017, menurut Laredo Economic Development Corporation. Meksiko adalah mitra dagang teratas dari semua barang itu, dan Tiongkok adalah yang negara mitra kedua.

Amerika Serikat masih berada di pusaran sengketa perdagangan dengan sejumlah negara. AS juga tetap pada posisi mengancam membatalkan perjanjian Perdagangan Amerika Utara atau NAFTA yang merupakan pengaturan perdagangan antara Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada yang telah berlaku sejak 1994.

Eric Miller, yang mengepalai Rideau Potomac Strategy Group, sebuah perusahaan konsultan lintas batas yang memberi saran kepada klien tentang urusan pemerintah, masalah perdagangan, teknologi, dan perkembangan geopolitik mendesak negosiator untuk menyelesaikan persoalan NAFTA dengan perjanjian trilateral.

“Anda mendapatkan manfaat tambahan dari memiliki perjanjian trilateral yang tidak dapat Anda peroleh dari perjanjian bilateral,” kata Miller.

Meski tarif AS yang pertama hanya menargetkan beberapa negara pada Juli silam, namun AS kemudian memperluas cakupan ke Kanada dan Meksiko. Adapun Kanada menanggapi dengan memberlakukan tarif yang sama pada 1 Juli. Tentu kebijakan tersebut menimbulkan persoalan karena AS tidak menerima langkah dari Kanada.

(ABD)

JPMorgan Berharap Konflik Dagang Tidak jadi Perang Dingin

Tianjin: Beberapa bulan terakhir, pengenaan tarif tinggi satu sama lain antara Amerika Serikat dan Tiongkok mungkin hanya menjadi permulaan dari konflik ekonomi yang berkepanjangan. Bahkan, pasar saham di kedua negara telah naik minggu ini meski ada pengumuman tarif baru.

Analis menilai efek dari pengenaan tarif tidak separah yang diperkirakan pedagang, dan masih ada harapan rekonsiliasi. Tetapi kenyataan yang ada dapat membuktikan sebaliknya di mana dua ekonomi terbesar di dunia ini masing-masing berasal dari budaya yang sangat berbeda.

“Sekarang kita perlu memikirkan apakah perang perdagangan saat ini akan berubah menjadi perang dingin ekonomi atau tidak. Kami berharap tidak. Masih ada kemungkinan kedua pihak dapat datang ke meja perundingan,” tegas Direktur Pelaksana dan Wakil Ketua Asia Pasifik JP Morgan Chase Jing Ulrich, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 22 September 2018.

“Dan masih ada peluang bahwa semacam rekonsiliasi dapat dicapai dan kita semua tahu jika perang perdagangan berlangsung, itu akan menjadi situasi kalah-kalah. Tidak seorang pun di dunia akan mendapat manfaat. Sedangkan Tiongkok tidak akan mengubah kebijakan domestiknya (hanya) karena tekanan eksternal,” tambahnya.

Masalahnya, lanjut Ulrich, di bidang teknologi antara Tiongkok dan Amerika Serikat ingin memimpin. Sayangnya, Tiongkok sudah menjadi pelopor di banyak bidang. Artinya, sulit bagi Amerika Serikat untuk mengalahkan Tiongkok yang sudah maju diberbagai bidang dalam hal teknologi.

“Tiongkok tentu saja sudah menjadi pelopor di banyak bidang,” kata Ulrich.

Sekarang ini, Beijing terus berupaya melakukan transisi dan menuju mengandalkan konsumsi untuk pertumbuhan dibandingkan dengan manufaktur. Bahkan, Pemerintah Tiongkok telah meluncurkan program “Made in Tiongkok 2025” untuk mendorong inovasi teknologi domestik.

“Saya melihat Tiongkok lima tahun lebih awal dari AS ketika sampai pada tingkat di mana digitalisasi terintegrasi ke dalam ekonomi ini,” ungkap Profesor di Sekolah Bisnis Stern New York Arun Sundararajan.

(ABD)

Investasi Tiongkok di Luar Negeri Diperkirakan Tembus USD2,5 Triliun

Tianjin: Investasi yang keluar dari perusahaan Tiongkok ke luar negeri telah menjadi topik hangat di Summer Davos 2018 yang sedang berlangsung. Hal itu lantaran para peserta pada pertemuan tahunan ingin mengetahui lebih banyak tentang preferensi dan prinsip investor Tiongkok.

Mengutip Xinhua, Sabtu, 22 September 2018, menurut proyeksi terbaru dari Forum Ekonomi Dunia, investasi yang keluar oleh perusahaan yang didukung Pemerintah Tiongkok dan sektor swasta akan mencapai USD2,5 triliun dalam 10 tahun mendatang. Angka itu cukup tinggi dan negara-negara di dunia tengah mempelajari karakteristik tersebut.

Statistik resmi Tiongkok menunjukkan, investor Tiongkok telah membuat USD65,27 miliar dari investasi langsung non-keuangan keluar di hampir 4.000 perusahaan di luar negeri di 152 negara dan wilayah dari Januari hingga Juli 2018. Ini menandai peningkatan 14,1 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Pada 2017, investor Tiongkok menghabiskan total USD120 miliar pada 6.236 bisnis dari 174 negara dan wilayah, turun sebanyak 29,4 persen dari tahun sebelumnya, di tengah upaya pemerintah untuk mengekang investasi tidak rasional di luar negeri.

Karena tampaknya ada potensi besar untuk melepaskan dan memuncaknya tantangan yang harus dihadapi, perbedaan drastis antara prediksi dan kenyataan telah memicu rasa ingin tahu peserta dalam diskusi panel bertema ‘China Outbound Investment: A New Playbook?’.

Sebelumnya, ekonomi Tiongkok mulai menunjukkan tanda-tanda baru pelemahan usai data menunjukkan laju investasi melambat ke rekor terendah, sementara belanja ritel dan produksi industri tetap stabil. Beijing menghadapi tindakan penyeimbangan yang rumit karena bertujuan mengalihkan penggerak pertumbuhannya dari investasi dan ekspor ke konsumsi pribadi.

Sementara di sisi lain, Tiongkok sedang berjuang melawan segunung utang. Sengketa perdagangan kian meluas dengan tujuan ekspor utama Amerika Serikat telah tertekan dan mengirim pasar saham domestik jatuh ke posisi terendah yang tidak terlihat sejak keruntuhan di 2016.

(ABD)

Bursa Saham Inggris Melonjak 0,49%

London: Bursa saham Inggris naik pada Kamis waktu setempat (Jumat WIB), dengan indeks acuan FTSE 100 naik 0,49 persen atau 36,20 poin menjadi ditutup pada 7.367,32 poin. Pemerintah Inggris sejauh ini masih terus melakukan pembahasan mengenai keputusan Brexit dengan Uni Eropa yang harapannya bisa menguntungkan kedua belah pihak.

Mengutip Antara, Jumat, 21 September 2018, Associated British Foods, perusahaan pengolahan dan perdagangan makanan multinasional Inggris, melonjak 2,70 persen, pemenang tertinggi di saham unggulan. Fresnillo dan Rio Tinto meningkat masing-masing 2,66 persen dan 2,54 persen.

Burberry Group, merek mewah global, adalah pemain terburuk dalam saham unggulan, dengan sahamnya turun 4,88 persen. GVC Holdings, kelompok taruhan dan permainan olahraga, turun 2,75 persen. Kingfisher, peritel perbaikan rumah, turun 1,74 persen.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 251,22 poin atau 0,95 persen menjadi 26.656,98. Sedangkan S&P 500 meningkat sebanyak 22,80 poin atau 0,78 persen menjadi 2.930,75. Indeks Nasdaq Composite naik 78,19 poin atau 0,98 persen menjadi 8,028,23.

Indeks Dow Jones mencapai rekor tertinggi pertama sejak Januari dengan Caterpillar dan Intel di antara para pemenang. Saham kedua perusahaan naik lebih dari dua persen pada penutupan. Teknologi, bahan pokok konsumen dan material memimpin kenaikan dari 11 sektor utama S&P 500. Nasdaq teknologi berat kembali naik setelah sesi negatif sebelumnya.

Pada data ekonomi, dalam pekan yang berakhir 15 September, klaim pengangguran awal AS berada pada 201 ribu, penurunan sebesar 3.000 dari tingkat yang tidak direvisi pekan sebelumnya, Departemen Tenaga Kerja AS mengatakan. Rata-rata pergerakan empat minggu adalah 205.750, penurunan 2.250 dari rata-rata yang tidak direvisi pekan sebelumnya.

(ABD)

Ekspektasi Pengetatan Kebijakan Moneter Picu USD Tergelincir

New York: Dolar Amerika Serikat (USD) tergelincir pada Kamis waktu setempat (Jumat WIB) pada peningkatan risk appetite dan ekspektasi kemungkinan pengetatan kebijakan moneter oleh Federal Reserve AS. Indeks USD yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama turun 0,66 persen menjadi 93,9145.

Adapun dalam manajemen risiko, risk appetite adalah tingkat risiko yang siap diterima oleh suatu organisasi. Batasan appetite risiko tidak mudah untuk didefinisikan karena setiap organisasi dapat menolerir berbagai tingkat risiko yang berbeda antara satu dengan yang lainnya.

Mengutip Antara, Jumat, 21 September 2018, pada akhir perdagangan New York, euro meningkat menjadi USD1,1775 dari USD1,1674 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi USD1,3267 dari USD1,3145 di sesi sebelumnya. Dolar Australia naik menjadi USD0,7290 dibandingkan dengan USD0,7265.

Sedangkan USD membeli 112,46 yen Jepang, lebih tinggi dibandingkan dengan 112,25 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Kemudian USD turun menjadi 0,9595 franc Swiss dibandingkan dengan 0,9670 franc Swiss, dan turun menjadi 1,2911 dolar Kanada dibandingkan dengan 1,2917 dolar Kanada.

USD turun sebanyak 0,9 persen terhadap euro dan pound Inggris, serta tertekan lebih dari 0,8 persen terhadap franc Swiss. Federal Reserve AS diperkirakan menaikkan suku bunga lagi pada pertemuan mendatang di Komite Pasar Terbuka Federal dari 25-26 September.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 251,22 poin atau 0,95 persen menjadi 26.656,98. Sedangkan S&P 500 meningkat sebanyak 22,80 poin atau 0,78 persen menjadi 2.930,75. Indeks Nasdaq Composite naik 78,19 poin atau 0,98 persen menjadi 8,028,23.

Indeks Dow Jones mencapai rekor tertinggi pertama sejak Januari dengan Caterpillar dan Intel di antara para pemenang. Saham kedua perusahaan naik lebih dari dua persen pada penutupan. Teknologi, bahan pokok konsumen dan material memimpin kenaikan dari 11 sektor utama S&P 500. Nasdaq teknologi berat kembali naik setelah sesi negatif sebelumnya.

(ABD)

Harga Minyak Sawit Malaysia Capai Titik Terendah

Jakarta: Harga minyak sawit berjangka Malaysia mencapai titik terendahnya pada perdagangan Rabu selama hampir dua bulan ini. Penurunan ini salah satunya disebabkan oleh penurunan minyak nabati, di samping para pedagang yang berharap stok lebih tinggi di negara-negara produsen.

Hasil analisa tim Monex Investindo Futures, Kamis, 20 September 2018, patokan minyak sawit kontrak untuk pengiriman Desember di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 1,8 persen pada 2.158 ringgit (USD520,83) per ton pada penutupan perdagangan untuk kerugian hari ketiga berturut-turut.

“Sentimen pasar melemah karena penurunan sawit luar negeri dan juga antisipasi kenaikan dalam saham,” kata seorang pedagang berjangka Futures yang berbasis di Kuala Lumpur, mengacu pada minyak nabati lainnya di Dewan Perdagangan Chicago AS dan Pertukaran Komoditas Dalian.

Stok minyak sawit akhir di Malaysia naik ke tertinggi tujuh bulan pada Agustus karena tingkat produksi meningkat dan ekspor turun, data regulator industri menunjukkan pekan lalu.

Pedagang lain menambahkan bahwa sentimen pasar juga dipengaruhi oleh masalah “Tiongkok-AS.”, Yang merujuk pada perselisihan perdagangan yang mendalam antara kedua negara. Sementara itu, kontrak minyak kedelai Januari di Dalian Commodity Exchange turun 1,2 persen dan kontrak minyak sawit Dalian Januari turun 1,7 persen.

Harga minyak sawit dipengaruhi oleh pergerakan minyak nabati lainnya yang bersaing di pasar minyak nabati global.

(AHL)

Jack Ma Batal Ciptakan 1 Juta Lapangan Kerja di AS

Jack Ma. (FOTO: AFP)

Beijing: Jack Ma, pendiri dari raksasa ritel Tiongkok, Alibaba, mengurungkan niat menciptakan satu juta pekerjaan di Amerika Serikat (AS), di tengah konflik perdagangan yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

Jack Ma membuat pernyataan resminya untuk menciptakan lapangan kerja jelang pertemuan tingkat tinggi dengan Donald Trump pada Januari 2017 sebelum Trump dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat. Adapun perubahan rencana sejalan dengan kebijakan Trump yang mengenakan tarif tinggi kepada Tiongkok.

“Janji itu dibuat atas dasar kemitraan ramah AS-Tiongkok dan hubungan perdagangan yang rasional. Premis itu sudah tidak ada lagi hari ini. Jadi janji kita tidak bisa dipenuhi,” kata Jack Ma, seperti dikutip dari CNBC, Kamis, 20 September 2018.

Meski demikian, Jack Ma yang baru-baru ini mengumumkan akan mengundurkan diri dari Chairman Alibaba menegaskan bahwa Alibaba tidak akan berhenti bekerja keras untuk berkontribusi pada perkembangan yang sehat dari perdagangan Tiongkok-AS. Alibaba siap terus tumbuh dan berkembang di masa-masa mendatang.

Komentar Ma datang usai Washington dan Beijing gagal mencapai kata sepakat untuk menyelesaikan kekhawatiran Trump tentang praktik perdagangan Tiongkok. Pada konferensi investor Alibaba, Ma juga menyebut friksi perdagangan sebagai kekacauan yang bisa memiliki dampak selama beberapa dekade.

Pemerintah Tiongkok sebelumnya disebut tidak akan tunduk pada tuntutan Amerika Serikat dalam negosiasi perdagangan, surat kabar China Daily yang dikelola negara mengatakan dalam sebuah editorial. Hal tersebut terungkap setelah para pejabat Tiongkok menyambut undangan dari Washington untuk sebuah pembicaraan baru.

Tiongkok dan Amerika Serikat akan kembali ke meja perundingan guna membahas sengketa perdagangan sejalan dengan ancaman tarif baru AS yang menjulang setelah Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin memberikan undangan kepada rekan-rekan di Beijing untuk bertemu.

Harian resmi China Daily mengatakan Tiongkok tetap serius untuk menyelesaikan sengketa perdagangan dengan AS. Namun, ditegaskan Tiongkok tidak akan tunduk dengan tuntutan AS meski ada kekhawatiran atas perlambatan ekonomi dan jatuhnya pasar saham. Tiongkok berharap pengenaan tarif yang tinggi bisa segera dihilangkan di antara kedua negara.

(AHL)

Harga Minyak Sawit Malaysia Tertekan Perang Dagang AS-Tiongkok

Ilustrasi petani sawit. (Foto: MI/Amiruddin Abdullah).

Jakarta: Harga minyak sawit berjangka Malaysia turun lebih dari dua persen ke level terendah dalam satu bulan karena ekspektasi kenaikan produksi.

Selain itu harga minyak sawit berjangka juga berada di bawah tekanan karena perang dagang AS-Tiongkok, sengketa perdagangan, dan kelemahan dalam minyak nabati yang terkait.

“Patokan minyak sawit kontrak untuk pengiriman Desember di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 2,2 persen ke 2.198 ringgit Malaysia (USD530,79) per ton pada akhir perdagangan,” demikian hasil riset tim analis Monex Investindo Futures, Rabu, 19 September 2018.

Adapun harga kontrak minyak sawit berjangka menyentuh level 2.195 ringgit Malaysia per ton selama sesi perdagangan, dan merupakan yang terendah sejak 15 Agustus.

“Produksi tampaknya akan datang,” tambah pedagang berjangka yang berbasis di Kuala Lumpur, seraya menambahkan bahwa perdagangan AS-Tiongkok juga membebani.

Presiden AS Donald Trump memberlakukan 10 persen tarif impor Tiongkok senilai USD200 miliar dan mengatakan jika Tiongkok mengambil tindakan pembalasan terhadap petani atau industri AS, maka akan segera mengejar tahap ketiga, yaitu tarif impor tambahan sekitar USD267 miliar.

Menteri Perdagangan Tiongkok mengatakan unilateralisme dan proteksionisme AS akan merugikan kepentingan AS dan Tiongkok, serta ekonomi global.

(AHL)

Bank Sentral Jepang Pertahankan Suku Bunga Acuan

Ilustrasi. Foto: AFP/Behrouz Mehri.

Tokyo: Bank of Japan (BoJ) memutuskan untuk mempertahankan kebijakan moneter tetap stabil pada Rabu waktu setempat (Kamis WIB), dan mempertahankan pandangan optimistisnya terhadap perekonomian dalam negeri. Keputusan itu diambil di tengah tensi ketegangan perdagangan global yang terus meningkat.

Dalam langkah yang komprehensif, BoJ mempertahankan target suku bunga jangka pendeknya di minus 0,1 persen dan berjanji untuk memandu imbal hasil obligasi 10 tahun pemerintah sekitar nol persen. Langkah ini sejalan dengan keinginan Pemerintah Jepang yang terus memacu laju pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, BoJ berjanji mempertahankan suku bunga rendah dalam jangka waktu yang panjang. Keputusan mempertahankan suku bunganya dibuat oleh 7-2 suara, dengan anggota dewan Goushi Kataoka dan Yutaka Harada tidak setuju.

“Perekonomian Jepang berkembang moderat,” kata BoJ dalam pernyataan yang mengumumkan keputusan kebijakan, seperti dikutip dari CNBC, Rabu, 19 September 2018. Gubernur BoJ Haruhiko Kuroda akan mengadakan konferensi pers pada pukul 3.30 sore waktu setempat untuk menjelaskan keputusan kebijakan lebih rinci.

Adapun inflasi yang rendah memaksa BoJ untuk mempertahankan stimulus besar lebih lama dari yang diharapkan, di mana BoJ mengambil tindakan pada Juli untuk membuat kerangka kebijakannya berkelanjutan seperti kemungkinan imbal hasil obligasi untuk bergerak lebih fleksibel di sekitar targetnya.

(HUS)

Miliarder Jepang jadi Turis Pertama yang Terbang ke Bulan

California: Seorang miliarder Jepang dan konglomerat busana online, Yusaku Maezawa, akan menjadi orang pertama yang menerbangkan roket SpaceX ke bulan pada awal 2023, dan ia berencana membawa enam hingga delapan seniman. Maezawa, 42, akan menjadi pengembara bulan pertama sejak misi Apollo AS terakhir pada 1972.

Ia membayar sejumlah uang yang tidak ditentukan untuk hak istimewa itu. “Sejak saya masih kecil, saya sangat menyukai bulan. Ini adalah impian seumur hidupku. Saya memilih untuk pergi ke bulan dengan seniman!” kata Maezawa, di markas SpaceX dan pabrik roket di Hawthorne, California, seperti dikutip dari AFP, Selasa, 18 September 2018.

Maezawa ingin mengundang seniman dari berbagai bidang termasuk pelukis, pematung, fotografer, musisi, sutradara film, perancang busana, dan arsitek dalam perjalanan menuju ke bulan. “Jika kamu harus mendengar dariku, tolong katakan ya dan terima ajakanku. Tolong jangan katakan tidak!” kata Maezawa.

Maezawa adalah kepala eksekutif dari pusat fesyen online terbesar di Jepang, dan merupakan orang terkaya ke-18 di Jepang dengan kekayaan USD3 miliar, menurut majalah bisnis Forbes. Hobi Maezawa yang lain adalah mengumpulkan karya seni modern yang bernilai dan tahun lalu ia mengumumkan akuisisi mahakarya Jean-Michel Basquiat senilai USD110,5 juta.

Kecintaannya pada seni membuatnya memutuskan untuk mengundang seniman untuk ikut ke bulan. “Saya ingin mengundang enam hingga delapan seniman dari seluruh dunia untuk bergabung dengan saya dalam misi ini ke bulan. Mereka akan diminta untuk membuat sesuatu setelah mereka kembali ke bumi,” kata Maezawa.

Sementara itu, CEO SpaceX Elon Musk menggambarkan Maezawa sebagai orang yang paling berani dan petualang terbaik. “Dia melangkah maju. Kami merasa terhormat dia memilih kami,” kata Musk. Musk menegaskan bahwa dia tidak akan mengungkapkan biaya yang diberikan Maezawa untuk perjalanan ke bulan.

“Ini berbahaya, harus jelas. Ini bukan jalan-jalan di taman,” tegas Musk memperingatkan.

Perjalanan akan berlangsung menggunakan Big Falcon Rocket (BFR). BFR pertama kali diumumkan pada 2016, dan disebut-sebut sebagai roket terkuat dalam sejarah, bahkan lebih kuat daripada roket Saturn V Moon yang meluncurkan misi Apollo lima dekade lalu.

Tahun lalu, Musk mengatakan, tujuan BFR yang diakui ambisius adalah melakukan uji terbang ke Mars pada 2022, diikuti oleh penerbangan awak ke Planet Merah pada 2024.

Musk memamerkan desain untuk BFR sepanjang 118 meter (129 yard), yang akan terdiri dari tahap pertama dengan mesin dan sistem bahan bakar, dan tahap kedua dengan pesawat ruang angkasa di mana penumpang akan naik. Musk memperkirakan pembangunan BFR akan memakan biaya USD5 miliar.

Kendati demikian, ini bukan pertama kalinya Musk bersumpah untuk mengirim turis mengelilingi bulan. Tahun lalu, ia mengatakan, sebanyak dua turis yang membayar akan mengelilingi bulan pada 2018, tetapi rencana itu tidak terwujud.

(AHL)

Trump Ancam Naikkan Tarif hingga 25% untuk Impor Tiongkok

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan memberlakukan pengenaan tarif 10 persen pada impor Tiongkok senilai USD200 miliar dan bea tersebut akan meningkat hingga 25 persen pada akhir tahun. Tindakan ini kembali meningkatkan konflik perdagangan karena Tiongkok telah mengancam akan membalas hal serupa kepada Amerika Serikat.

Gedung Putih menghapus sekitar 300 barang dari daftar produk yang terkena dampak sebelumnya, termasuk jam tangan pintar, beberapa bahan kimia, dan produk lainnya seperti helm sepeda dan kursi tinggi. Adapun keputusan Trump dilakukan lantaran belum menemukan kata sepakat dengan Tiongkok yang diklaim Trump menganggu keamanan nasional.

Trump, dalam sebuah pernyataannya mengatakan bahwa tarif akan naik menjadi 25 persen pada 1 Januari 2019. “Jika Tiongkok mengambil tindakan pembalasan terhadap petani kami atau industri lainnya, kami akan segera mengejar fase ketiga, yaitu tarif sekitar USD267 miliar dalam impor tambahan,” kata Trump, seperti dilansir dari CNBC, Selasa, 18 September 2018.

Tindakan itu hanya akan meningkatkan ketegangan antara Washington dan Beijing. Presiden Trump terus mencari perjanjian perdagangan baru di tengah keluhan tentang dugaan pencurian kekayaan intelektual oleh perusahaan Tiongkok dan adanya kekhawatiran tentang defisit perdagangan AS dengan Tiongkok.

Kedua belah pihak telah gagal mencapai kesepakatan untuk menyelesaikan persoalan terkait praktik perdagangan Tiongkok meskipun ada serangkaian pembicaraan. “Kami telah sangat jelas tentang jenis perubahan yang perlu dilakukan, dan kami telah memberi Tiongkok setiap kesempatan untuk memperlakukan kami lebih adil,” kata Trump dalam pernyataannya.

“Tapi, sejauh ini, Tiongkok tidak mau mengubah praktiknya,” klaim Trump. Presiden Trump telah mempertahankan kebijakan pengenaan tarifnya terhadap Tiongkok, meski ada kritikan dari anggota parlemen Republik dan potensi kerusakan politik. Bahkan, kebijakan tarif telah menganggu arus perdagangan dunia.

Sementara itu, President dan CEO National Association of Manufacturers (NAM) Jay Timmons mengatakan kebijakan memberlakukan tarif berisiko membatalkan hasil yang telah dicapai para produsen pada tahun lalu karena adanya perubahan reformasi pajak dan peraturan. Tentu hal ini sangat disayangkan karena menganggu alur bisnis yang sedang berjalan.

“Dengan setiap hari yang berlalu tanpa kemajuan pada perjanjian perdagangan bilateral dengan Tiongkok, potensi tumbuh untuk produsen dan pekerja manufaktur bisa terluka. Tidak ada yang menang dalam perang dagang, dan pekerja manufaktur berharap pendekatan pemerintah akan cepat memberikan hasil,” kata Timmons.

(AHL)